KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA
(BURGERLIJK WETBOEK)
BUKU KESATU
TENTANG ORANG
BAB I
MENIKMATI DAN KEHILANGAN HAK KEWARGAAN
(Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, dan Bagi Golongan
Tionghoa)
Pasal 1. Menikmati hak perdata tidaklah tergantung pada hak kenegaraan.
2.
Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap telah lahir,
bilamana kepentingan si anak menghendakinya.
Mati sewaktu dilahirkannya, dianggaplah ia tak pernah telah ada.
3. Tiada suatu hukuman pun yang mengakibatkan kematian perdata, atau hilangnya segala hak kewargaan.
BAB II
AKTA-AKTA CATATAN SIPIL
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, dan Bagi
Golongan Tionghoa)
BAGIAN 1
Daftar Catatan Sipil Pada Umumnya
4. Tanpa mengurangi ketentuan dalam Pasal 10 Ketentuan-ketentuan Umum Perundang-undangan di Indonesia, maka bagi golongan Eropa di seluruh Indonesia ada daftar kelahiran, daftar lapor kawin, daftar izin kawin, daftar perkawinan dan perceraian, dan daftar kematian. Pegawal yang ditugaskan menyelenggarakan daftar-daftar tersebut, dinamakan Pegawai Catatan Sipil.
5. Presiden, setelah mendengar Mahkamah Agung menentukan dengan peraturan tersendiri, tempat dan cara menyelenggarakan daftar-daftar tersebut, demikian pula cara menyusun akta-akta dan syarat-syarat yang harus diperhatikan. Dalam peraturan itu harus dicantumkan juga hukuman-hukuman terhadap pelanggaran-pelanggaran oleh Pegawal Catatan Sipil, sejauh hal itu belum atau tidak akan diatur dengan ketentuan undang-undang hukum pidana.
BAGIAN
2
Nama, Perubahan Nama, dan Perubahan Nama Depan
5a. Anak sah, dan juga anak tidak sah namun yang diakui oleh bapaknya, memakai nama keturunan bapaknya; anak-anak tidak sah yang tidak diakui oleh bapaknya, memakai nama keturunan ibunya.
6. Tak seorang pun diperbolehkan mengganti nama keturunannya, atau menambahkan nama lain pada namanya tanpa izin Presiden. Barangsiapa nama tidak dikenal keturunan atau nama depannya, diperbolehkan mengambil suatu nama keturunan atau nama depan, asalkan dengan izin Presiden.
7. Permohonan izin untuk itu tidak dapat dikabulkan sebelum habis jangka waktu empat bulan, terhitung mulai hari pemberitaan permohonan itu dalam Berita Negara.
8. Selama jangka waktu tersebut dalam pasal yang lalu, pihak-pihak yang berkepentingan diperbolehkan mengemukakan kepada Presiden, dengan surat permohonan, dasar-dasar yang mereka anggap menjadi keberatan untuk menentang permohonan tersebut.
9. Bila dalam hal yang dimaksud dalam alinea pertama Pasal 6 permohonan itu dikabulkan, maka surat penetapannya harus disampaikan kepada pegawai catatan sipil di tempat tinggal si pemohon, pegawai mana harus menuliskannya dalam buku daftar yang sedang berjalan, dan membuat catatan tentang hal itu pada margin akta kelahiran si pemohon.
Surat penetapan yang diberikan berkenaan dengan dikabulkannya permohonan yang diajukan menurut alinea kedua Pasal 6, dibukukan dalam daftar kelahiran yang sedang berjalan di tempat tinggal yang bersangkutan dan dalam ha! termaksud Pasal 43 alinea pertama Reglemen tentang Catatan Sipil untuk Golongan Eropa, dicatat pula pada margin akta kelahiran.
Jika suatu permohonan tidak dikabulkan seperti yang dimaksud dalam alinea yang lalu, maka Presiden dapat memberikan suatu nama keturunan atau nama depan kepada yang berkepentingan. Surat penetapan mi harus dilakukan sesuai dengan ketentuan pasal yang laIu.
10. Diperolehnya suatu nama sesuai dengan ketentuanketentuan dalam keempat pasal yang lalu, sekali-kali tidak boleh diajukan sebagal bukti adanya hubungan sanak saudara.
11. Tiada seorang pun diperbolehkan mengubah nama depan atau menambahkan nama depan pada namanya, tanpa izin Pengadilan Negeri tempat tinggalnya atas permohonan untuk itu, setelah mendengar jawaban Kejaksaan.
12. Bila Pengadilan Negeri mengizinkan penggantian atau penambahan nama depan, maka surat penetapannya harus disampaikan kepada Pegawai Catatan Sipil tempat tinggal si pemohon, dan pegawai itu harus membukukannya dalam daftar yang sedang berjalan, dan mencatatnya pula pada margin akta kelahiran.
BAGIAN 3
Pembetulan Akta Catatan Sipil dan Penambahannya
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, dan Bagi Golongan Tionghoa)
13. Bila daftar tidak pernah ada, atau telah hilang dipalsu, diubah, robek, dimusnahkan, digelapkan atau dirusak, bila ada akta yang tidak terdapat dalam daftar itu atau bila dalam akta yang dibukukan terdapat kesesatan, kekeliruan atau kesalahan lain maka hal-hal itu dapat menjadi dasar untuk mengadakan penambahan atau perbaikan dalam daftar itu.
14. Permohonan untuk itu hanya dapat diajukan kepada Pengadilan Negeri, yang di daerah hukumnya daftar-daftar itu diselenggarakan atau seharusnya diselenggarakan dan untuk itu Pengadilan Negeri akan mengambil keputusan setelah mendengar kejaksaan dan pihak-pihak yang berkepentingan bila ada cukup alasan dan dengan tidak mengurangi kesempatan banding.
15. Keputusan ini hanya berlaku antara pihak-pihak yang telah memohon atau yang pernah dipanggil.
16. Semua keputusan tentang pembetulan atau penambahan pada akta, yang telah memperoleh kekuatan tetap, harus dibuktikan oleh Pegawai Catatan Sipil dalam daftar-daftar yang sedang berjalan segera setelah diterbitkan dan bila ada perbaikan hal itu harus diberitakan pada margin akta yang diperbaiki, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Reglemen tentang Catatan Sipil.
BAB III
TEMPAT TINGGAL ATAU DOMISILI
(Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, dan Bagi Golongan Tionghoa)
17. Setiap orang dianggap bertempat tinggal di tempat yang dijadikan pusat kediamannya. Bila tidak ada tempat kediaman yang demikian, maka tempat kediaman yang sesungguhnya dianggap sebagai tempat tinggalnya.
18. Perubahan tempat tinggal terjadi dengan pindah rumah secara nyata ke tempat lain disertai niat untuk menempatkan pusat kediamannya di sana.
19. Niat itu dibuktikan dengan menyampaikan pernyataan kepada Kepala Pemerintahan, baik di tempat yang ditinggalkan, maupun di tempat tujuan pindah rumah kediaman. Bila tidak ada pernyataan, maka bukti tentang adanya niat itu harus disimpulkan dari keadaan-keadaanya.
20. Mereka yang ditugaskan untuk menjalankan dinas umum, dianggap bertempat tinggal di tempat mereka melaksanakan dinas.
21. Seorang perempuan yang telah kawin dan tidak pisah meja dan ranjang, tidak mempunyai tempat tinggal lain daripada tempat tinggal suaminya; anak-anak di bawah umur mengikuti tempat tinggal salah satu dan kedua orang tua mereka yang melakukan kekuasaan orang tua atas mereka, atau tempat tinggal wali mereka; orang-orang dewasa yang berada di bawah pengampuan mengikuti tempat tinggal pengampuan mereka.
22. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam pasal yang lalu, buruh mempunyai tempat tinggal di rumah majikan mereka bila mereka tinggal serumah dengannya.
23. Yang dianggap sebagai rumah kematian seseorang yang meninggal dunia adalah rumah tempat tinggalnya yang terakhir.
24. Dalam suatu akta dan terhadap suatu soal tertentu, kedua pihak atau salah satu pihak bebas untuk memilih tempat tinggal yang lain daripada tempat tinggal yang sebenarnya. Pemilihan itu dapat dilakukan secara mutlak, bahkan sampai meliputi pelaksanaan putusan Hakim, atau dapat dibatasi sedemikian rupa sebagaimana dikehendaki oleh kedua pihak atau salah satu pihak. Dalam hal ini surat-surat juru sita, gugatan-gugatan atau tuntutantuntutan yang tercantum atau termaksud dalam akta itu boleh dilakukan di tempat tinggal yang dipilih dan dimuka Hakim tempat tinggal itu.
25. Bila hal sebaliknya tidak disepakati, masing-masing pihak boleh mengubah tempat tinggal yang dipilih untuk dirinya, asalkan tempat tinggal yang baru tidak lebih dan sepuluh pal jauhnya dari tempat tinggal yang lama dan perubahan itu diberitahukan kepada pihak yang lain / pihak lawan.
BAB IV
PERKAWINAN
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Ketentuan Umum
26. Undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata.
BAGIAN 1
Syarat-syarat dan Segala Sesuatu yang Harus dipenuhi untuk Dapat
Melakukan Perkawinan (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing, Tetapi
Berlaku bagi Golongan Tionghoa)
27. Pada waktu yang sama, seorang lelaki hanya boleh terikat perkawinan dengan satu orang perempuan saja; dan seorang perempuan hanya dengan satu orang lelaki saja.
28. Asas perkawinan menghendaki adanya persetujuan bebas dan calon suami dan calon istri.
29. Laki-laki yang belum mencapai umur delapan belas tahun penuh dan perempuan yang belum mencapai umur lima belas tahun penuh, tidak diperkenankan mengadakan perkawinan. Namun jika ada alasan-alasan penting, Presiden dapat menghapuskan larangan ini dengan memberikan dispensasi.
30. Perkawinan dilarang antara mereka yang satu sama lainnya mempunyai hubungan darah dalam garis ke atas maupun garis ke bawah, baik karena kelahiran yang sah maupun karena kelahiran yang tidak sah, atau karena perkawinan; dalam garis ke samping, antara kakak beradik laki perempuan, sah atau tidak sah.
31. Juga dilarang perkawinan:
1°. antara ipar laki-laki dan ipar perempuan, sah atau tidak sah,
kecuali bila suami atau istri yang menyebabkan terjadinya periparan
itu telah meninggal atau bila atas dasar ketidakhadiran si suami
atau si istri telah diberikan izin oleh Hakim kepada suami atau
istri yang tinggal untuk melakukan perkawinan lain;
2° antara paman dan atau paman orang tua dengan kemenakan perempuan
kemenakan, demikian pula antara bibi atau bibi orang tua dengan
kemenakan laki-laki kemenakan, yang sah atau tidak sah. Jika ada
alasan-alasan penting, Presiden dengan memberikan dispensasi, berkuasa
menghapuskan larangan yang tercantum dalam pasal ini.
32. Seseorang yang dengan keputusan pengadilan telah dinyatakan melakukan zina, sekali-kali tidak diperkenankan kawin dengan pasangan zinanya itu.
33. Antara orang-orang yang perkawinannya telah dibubarkan sesuai dengan ketentuan Pasal 199 nomor 3° atau 4°, tidak diperbolehkan untuk kedua kalinya dilaksanakan perkawinan kecuali setelah lampau satu tahun sejak pembubaran perkawinan mereka yang didaftarkan dalam daftar Catatan Sipil. Perkawinan lebih lanjut antara orang-orang yang sama dilarang.
34. Seorang perempuan tidak diperbolehkan melakukan perkawinan baru, kecuali setelah lampau jangka waktu tiga ratus hari sejak pembubaran perkawinan yang terakhir.
35. Untuk melaksanakan perkawinan, anak sah di bawah umur memerlukan izin kedua orang tuanya. Akan tetapi bila hanya salah seorang dan mereka memberi izin dan yang lainnya telah dipecat dan kekuasaan orang tua atau perwalian atas anak itu, maka Pengadilan Negeri di daerah tempat tinggal anak itu, atas permohonannya, berwenang memberi izin melakukan perkawinan itu, setelah mendengar atau memanggil dengan sah mereka yang izinnya menjadi syarat beserta keluarga keluarga sedarah atau keluarga-keluarga semenda. Bila salah satu orang tua telah meninggal atau berada dalam keadaan tak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin cukup diperoleh dan orangtua yang lain.
36. Selain izin yang diharuskan dalam pasal yang lalu, anak-anak sah yang belum dewasa memerlukan juga izin dan wali mereka, bila yang melakukan perwalian adalah orang lain daripada bapak atau ibu mereka; bila izin itu diperbolehkan untuk kawin dengan wali itu atau dengan salah satu dan keluarga sedarahnya dalam garis lurus, diperlukan izin dan wali pengawas.
Bila wali atau wali pengawas atau bapak atau ibu yang telah dipecat dan kekuasaan orang tua atau perwaliannya, menolak memberi izin atau tidak dapat menyatakan kehendaknya, maka berlakulah alinea kedua pasal yang lalu, asalkan orangtua yang tidak dipecat dan kekuasaan orang tua atau perwaliannya atas anaknya telah memberikan izin itu.
37. Bila bapak atau ibu telah meninggal atau berada dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendak mereka, maka mereka masing-masing harus digantikan oleh orang tua mereka, sejauh mereka masih hidup dan tidak dalam keadaan yang sama.
Bila orang lain daripada orang-orang yang disebut di atas melakukan perwalian atas anak-anak di bawah umur itu, maka dalam hal seperti yang dimaksud dalam alinea yang lalu, si anak memerlukan lagi izin dari wali atau alinea dua pasal ini ada perbedaan pendapat atau wali pengawas, sesuai dengan perbedaan kedudukan yang dibuat dalam pasal yang lalu. Alinea kedua Pasal 35 berlaku, bila antara mereka yang izinnya diperlukan menurut alinea satu atau alinea dua pasal ini ada perbedaan pendapat atau bila salah satu atau lebih tidak menyatakan pendiriannya.
38. Bila bapak dan ibu serta kakek dan nenek si anak tidak ada, atau bila mereka semua berada dalam keadaan tak mampu menyatakan kehendak mereka, anak sah yang masih di bawah umur tidak boleh melakukan perkawinan tanpa izin wali dan wali pengawasnya.
Bila baik wali maupun wali pengawas, atau salah seorang dari mereka, menolak untuk memberi izin atau tidak menyatakan pendirian, maka Pengadilan Negeri di daerah tempat tinggal anak yang masih di bawah umur, atas permohonannya berwenang memberi izin untuk melakukan perkawinan, setelah mendengar atau memanggil dengan sah wali, wali pengawas dan keluarga sedarah atau keluarga semenda.
39. Anak luar kawin yang diakui sah, selama masih di bawah umur, tidak boleh melakukan perkawinan tanpa izin bapak dan ibu yang mengakuinya, sejauh kedua-duanya atau salah seorang masih hidup dan tidak berada dalam keadaan tak mampu menyatakan kehendak mereka.
Bila semasa hidup bapak atau ibu yang mengakuinya orang lain yang melakukan perwalian atas anak itu, maka harus pula diperoleh izin dari wali itu atau dan wali pengawas bila izin itu diperlukan untuk perkawinan dengan wali itu sendiri atau dengan salah seorang dan keluarga sedarah dalam garis lurus.
Bila terjadi perselisihan pendapat antara mereka yang izinnya diperlukan menurut alinea pertama dan kedua, dan salah seorang atau lebih menolak memberi izin itu, maka Pengadilan Negeri di daerah hukum tempat tinggal anak yang di bawah umur itu, atas permohonan si anak, berkuasa memberi izin untuk melakukan perkawinan, setelah mendengar atau memanggil dengan sah mereka yang izinnya diperlukan. Bila baik bapak ataupun ibu yang mengakui anak di bawah umur itu telah meninggal atau berada dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, diperlukan izin dari wali dan wali pengawas.
Bila kedua-duanya atau salah seorang menolak untuk memberi izin, atau tidak menyatakan pendirian, maka berlaku Pasal 38 alinea kedua, kecuali apa yang ditentukan di situ mengenai keluarga sedarah atau keluarga semenda.
40. Anak tidak sah yang tidak diakui, tidak boleh melakukan perkawinan tanpa izin wali atau wali pengawas, selama ia masih di bawah umur. Bila kedua-keduanya, atau salah seorang, menolak untuk memberikan izin atau untuk menyatakan pendirian, Pengadilan Negeri di daerah hukum tempat tinggal anak yang masih di bawah umur itu, atas permohonannya, berkuasa memberikan izin untuk itu, setelah mendengar atau memanggil dengan sah wali atau wali pengawas si anak.
41. Penetapan-penetapan Pengadilan Negeri dalam hal-hal yang termaksud dalam enam pasal yang lalu, diberikan tanpa bentuk hukum acara. Penetapan-penetapan itu, baik yang mengabulkan permohonan izin, maupun yang menolak, tidak dapat dimohonkan banding.
Mendengar mereka yang izinnya diperlukan seperti yang termaksud dalam enam pasal yang lalu. bila mereka bertempat tinggal di luar kabupaten tempat kedudukan pengadilan negeri itu, boleh dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri di tempat tinggal atau tempat kedudukan mereka, Pengadilan Negeri mi akan menyampaikan berita acaranya kepada Pengadilan Negeri yang disebut pertama. Pemanggilan mereka yang izinnya diperlukan. dilakukan dengan cara seperti yang ditentukan dalam Pasal 333 tentang keluarga sedarah dan keluarga semenda. Mereka yang disebut pertama, ataupun mereka yang disebut terakhir, boleh mewakilkan din dengan cara seperti yang tercantum dalam Pasal 334.
42. Anak sah yang telah dewasa, tetapi belum genap tiga puluh tahun, juga wajib untuk memohon izin bapak dan ibunya untuk melakukan perkawinan. Bila ia tidak memperoleh izin itu, Ia boleh memohon perantaraan Pengadilan Negeri tempat tinggalnya dan dalam hal itu harus diindahkan ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal berikut.
43. Dalam waktu tiga minggu, atau dalam jangka waktu yang lain jika dianggap perlu oleh Pengadilan Negeri, terhitung dari hari pengajuan surat permohonan itu, Pengadilan harus berusaha menghadapkan bapak dan ibu, beserta anak itu, agar dalam suatu sidang tertutup kepada mereka diberi penjelasan-penjelasan yang dianggap berguna oleh pengadilan demi kepentingan masing-masing. Mengenai pertemuan pihak-pihak tersebut harus dibuat berita acara tanpa mencantumkan alasan-alasan yang mereka kemukakan.
44. Bila baik pihaknya maupun ibunya tidak hadir, perkawinan dapat dilangsungkan dengan penunjukan akta yang memperlihatkan ketidakhadiran itu.
45. Bila anak itu tidak hadir, maka perkawinannya tidak dapat dilaksanakan, kecuali sesudah permohonan diajukan sekali lagi untuk perantaraan pengadilan.
46. Bila, sesudah anak itu dan kedua orang tuanya atau salah satu orang tua hadir, kedua orang tua itu atau salah seorang tetap menolak, maka perkawinan tidak boleh dilaksanakan bila belum lampau tiga bulan terhitung dari hari pertemuan itu.
47. Ketentuan-ketentuan dalam lima pasal terakhir ini juga berlaku untuk anak tak sah terhadap bapak dan ibu yang mengakuinya.
48. Sekiranya kedua orang tua atau salah satu tidak berada di Indonesia, Presiden berkuasa memberi dispensasi dan kewajiban-kewajiban yang tercantum dalam Pasal 42 sampai dengan Pasal 47.
49. Dalam pengertian ketidakmungkinan bagi para orangtua atau para kakek nenek untuk memberi izin kepada anak di bawah umur untuk melakukan perkawinan, dalam hal-hal yang diatur dalam Pasal 35,37 dan 39, sekali-kali tidak termasuk ketidakhadiran terus-menerus atau sementara di Indonesia.
BAGIAN
2
Acara yang Harus Mendahulul Perkawinan (Tidak Berlaku Bagi Golongan
Tiniur Asing. Bukan Tionghoa, dan Bagi Golongan Tionghoa).
50. Semua orang yang hendak melangsungkan perkawinan, harus memberitahukan hal itu kepada Pegawai Catatan Sipil di tempat tinggal salah satu pihak.
51. Pemberitahuan ini harus dilakukan, baik secara langsung, maupun dengan surat yang dengan cukup jelas memperlihatkan niat kedua calon suami-istri, dan tentang pemberitahuan itu harus dibuat sebuah akta oleh Pegawai Catatan Sipil.
52. Sebelum pelaksanaan perkawinan itu, Pegawai Catatan Sipil harus mengumumkan hal itu dan menempel surat pengumuman pada pintu utama gedung tempat penyimpanan daftar-daftar Catatan Sipil itu. Surat itu harus tetap tertempel selama sepuluh hari. Pengumuman itu tidak boleh dilangsungkan pada hari Minggu yang disamakan dengan hari Minggu dalam hal ini ialah hari Tahun Baru, hari Paskah kedua dan Pantekosta, hari Natal, hari Kenaikan Isa Almasih, dan hari Mi'raj Nabi Muhamad s. a. w.
Surat
pengumuman ini harus memuat :
1. nama, nama depan, umur, pekerjaan dan tempat tinggal calon suami
istri, dan, bila mereka sebelumnya pernah kawin, nama suami atau
isteri mereka yang dulu.
2. hari, tempat dan jam terjadinya pengumuman. Surat itu ditandatangani
oleh Pegawai Catatan Sipil itu.
53. Bila kedua calon suami isteri tidak bertempat tinggal dalam wilayah Catatan Sipil yang sama, maka pengumuman itu akan dilakukan oleh Pegawai Catatan Sipil di tempat tinggal masing-masing pihak.
54. Bila calon suami isteri belum sampai enam bulan penuh bertempat tinggal dalam daerah suatu Catatan Sipil, pengumumannya harus juga dilakukan oleh Pegawai Catatan Sipil di tempat tinggal mereka yang terakhir. Bila ada alasan-alasan yang penting dan kewajiban membuat pengumuman tersebut di atas boleh diberikan dispensasi oleh Kepala Pemerintahan Daerah yang di daerahnya telah dilakukan pemberitahuan kawin.
55 dan 56. Dihapus dengan S. 916 - 338 jo. 1917- 18.
57. Bila perkawinan itu belum dilangsungkan dalam waktu satu tahun, terhitung dari waktu pengumuman, perkawinan itu tidak boleh dilangsungkan, kecuali bila sebelumnya diadakan pengumuman lagi.
58. Janji kawin tidak menimbulkan hak untuk menuntut di muka Hakim berlangsungnya perkawinan, juga tidak menimbulkan hak untuk menuntut penggantian biaya, kerugian dan bunga, akibat tidak dipenuhinya janji itu, semua persetujuan untuk ganti rugi dalam hal ini adalah batal.
Akan tetapi, jika pemberitahuan kawin ini telah diikuti oleh suatu pengumuman,, maka ha! itu dapat menjadi dasar untuk menuntut penggantian biaya, kerugian dan bunga berdasarkan kerugian-kerugian yang nyata diderita oleh satu pihak atas barang-barangnya sebagai akibat dan penolakan pihak yang lain; dalam pada itu tak boleh diperhitungkan soal kehilangan keuntungan. Tuntutan ini lewat waktu dengan lampaunya waktu delapan belas bulan, terhitung dari pengumuman perkawinan itu.
BAGIAN 3
Pencegahan Perkawinan (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan
Tionghoa,. dan Bagi Golongan Tionghoa)
59. Hak untuk mencegah berlangsungnya perkawinan hanya ada pada orang-orang dari dalam hal-hal yang disebut dalam pasal-pasal berikut.
60. Barangsiapa masih terikat perkawinan dengan salah satu pihak, termasuk jüga anak-anak yang lahir dari perkawinan ini, berhak mencegah perkawinan baru yang dilaksanakan, tetapi hanya berdasarkan perkawinan yang masih ada.
61. Bapak dan ibu dapat mencegah perkawinan dalam hal-hal:
1°. bila anak mereka yang masih di bawah umur, belum mendapat izin
2°. bila anak mereka, yang sudah dewasa tetapi belum genap tiga
puluh. tahun, lalai meminta izin mereka, dan dalam hal permohonan
izin itu ditolak, lalai untuk meminta perantaraan Pengadilan Negeri
seperti yang diwajibkan menurut Pasal 42.
3°. bila salah satu pihak, yang karena cacat mental berada dalam
pengampuan, atau dengan alasan yang sama telah dimohonkan pengampuan,
tetapi atas permohonan itu belum diambil keputusan;
4°. bila salah satu pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk mengadakan
perkawinan dengan ketentuan-ketentuan bagian pertama bab ini;
5°. bila pengumuman perkawinan yang menjadi syarat tidak diadakan;
6°. bila salah satu pihak, karena sifat pemboros ditaruh di bawah
pengampuan, dan perkawinan yang hendak dilangsungkan tampaknya akan
membawa ketidakbahagiaan bagi anak mereka.
Bila yang menjalankan perwalian atas anak itu orang lain daripada bapak atau ibunya, maka wali atau wali pengawasnya, bila yang disebut terakhir ini harus mengganti si wali, mempunyai hak yang sama dalam hal-hal seperti yang tercantum dalam nomor-nomor 1°, 3°, 4, 5 dan 6°.
62. Dalam hal kedua orang tua tidak ada, maka kakek nenek dan wali atau wall pengawas, bila yang disebut terakhir ini harus mengganti si wali, berhak untuk mencegah perkawinan dalam hal-hal seperti yang tercantum dalam nomor 3, 4, 5 dan 6° pasal yang lalu.
Kakek nenek dan wali atau wali pengawas, bila yang disebut terakhir ini menggantikan si wali, berhak untuk mencegah perkawinan dalam hal-hal yang tercantum pada nomor 1°, jika izin mereka menjadi syarat.
63.
Dalam hal kakek nenek tidak ada, maka saudara laki-laki dan perempuan,
paman dan bibi, demikian pula wali dan wali pengawas, pengampu dan
pengampu pengawas, berhak mencegah perkawinan:
1° bila ketentuan-ketentuan Pasal 38 dan Pasal 40 mengenai memperoleh
izm kawin tidak diindahkan;
2° karena alasan-alsaan seperti yang tercantum dalam nomor 3°,4°,5°,
dan 6° Pasal 61.
64 . Suami yang perkawinannya telah bubar karena perceraian, boleh mencegah perkawinan bekas isterinya, bila dia hendak kawin lagi sebelum lampau tiga ratus hari sejak pembubaran perkawinan yang dulu.
65. Kejaksaan wajib mencegah perkawinan yang hendak dilangsungkan dalam hal-hal yang tercantum dalam Pasal 27 sampai dengan 34.
66. Pencegahan perkawinan ditangani oleh Pengadilan Negeri, yang di daerah hukumnya terletak tempat kedudukan Pegawai Catatan Sipil yang harus melangsungkan perkawinan itu.
67. Dalam akta pencegahan harus disebutkan segala alasan yang dijadikan dasar pencegahan itu, dan tidak diperkenakan mengajukan alasan baru, sejauh hal itu tidak timbul setelah pencegahan.
68. Dihapus dengan S. 1937-595.
69. Bila pencegahan itu ditolak, para penentang boleh dikenakan kewajiban mengganti biaya, kerugian dan bunga, kecuali jika penentang itu adalah keluarga sedarah dalam garis ke atas dan garis ke bawah atau Kejaksaan.
70. Bila terjadi pencegahan perkawinan. Pegawai Catatan Sipil tidak diperkenankan untuk melaksanakan perkawinan itu, kecuali setelah kepadanya disampaikan suatu putusan pengadilan yang telah mendapat kekuatan hukum tetapi atau suatu akta otentik dengan mana pencegahan itu ditiadakan pelanggaran atas ketentuan ini kena ancaman hukuman penggantian biaya, kerugian dan bunga.
Bila perkawinan itu dilaksanakan sebelum pencegahan itu ditiadakan, maka perkara mengenai pencegahan itu boleh dilanjutkan, dan perkawinan boleh dinyatakan batal sekiranya gugatan penentang dikabulkan.
BAGIAN 4
Pelaksanaan Perkawinan (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing
Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa, Kecuali KUHP.
71-6°, 74,75)
71. Sebelum melangsungkan perkawinan, Pegawai Catatan Sipil
harus meminta agar kepadanya diperlihatkan :
1° akta kelahiran masing-masing calon suami istri
2°. akta yang dibuat oleh Pegawal Catatan Sipil dan didaftarkan
dalam daftar izin kawin, atau akta otentik lain yang berisi izin
bapak, ibu, kakek, nenek, wali atau wali pengawas, ataupun izin
yang diperoleh dan Hakim, dalam hal-hal di mana izin itu diperlukan;
Izin itu juga dapat diberikan pada akta perkawinan sendiri;
3° dalam hal perkawinan kedua atau perkawinan berikutnya akta perkawinan
suami istri yang dulu, atau akta perceraian, atau salinan surat
izin dari Hakim yang diberikan dalam hal pihak lain dan suami atau
istri tidak ada;}
4°. akta yang menunjukkan adanya perantaraan Pengadilan Negeri;
5°. akta kematian dan mereka yang seharusnya memberikan izin kawin;
6°. bukti, bahwa pengumuman perkawinan itu telah berlangsung tanpa
pencegahan di tempat yang disyaratkan menurut Pasal 52 dan berikutnya,
ataupun bukti bahwa pencegahan yang dilakukan telah dihentikan;
7°. dispensasi yang telah diberikan;
8°. izin untuk para perwira dan tentara bawahan yang menjadi syarat
untuk melakukan perkawinan.
72. Jika di antara calon suami istri yang tidak dapat memperlihatkan akta kelahiran seperti yang disyaratkan pada nomor 1° pasal yang lalu, maka hal im dapat diganti dengan akta tanda kenal lahir yang dikeluarkan oleh Kepala Pemerintahan Daerah tempat lahir atau tempat tinggal calon suami atau istri atas keterangan dua saksi laki-laki atau perempuan, keluarga atau bukan keluarga. Keterangan ini harus menyebutkan tempat dan waktu kelahirannya secermat mungkin, serta sebab-sebab yang menghalangmya untuk menunjukkan akta kelahiran.
Tidak adanya akta kelahiran dapat juga diganti dengan keterangan semacam itu dibawah sumpah yang diberikan oleh saksi-saksi yang harus hadir pada pelaksanaan perkawinan itu, ataupun dengan keterangan yang diberikan di bawah sumpah di hadapan pegawai Catatan Sipil oleh calon suami atau istri, dan sumpah itu beriisi, bahwa dia tidak dapat memperoleh akta kelahiran atau akta tanda kenal lahir. Dalam akta perkawinannya, keterangan yang satu dan yang lainnya harus dicantumkan.
73. Bila para pihak tidak dapat memperlihatkan akta kematian yang disebut dalam Pasal 71 nomor 5°, maka kekurangan itu dapat diperbaiki dengan cara yang sama seperti yang tercantum dalam pasal yang lalu.
74. Bila Pegawai Catatan Sipil menolak untuk melangsungkan perkawinan atas dasar tidak lengkapnya surat-surat dan keterangan-keterangan yang diharuskan oleh pasal-pasal yang lalu, maka pihak-pihak yang berkepentingan berhak mengajukan surat permohonan kepada Pengadilan Negeri; setelah mendengar Kejaksaan,bila ada alasan untuk itu,dan mendengar Pegawai Catatan Sipil,Pengadilan negeri itu secara singkat dan tanpa kemungkinan untuk banding,akan mengambil keputusan tentang lengkap atau tidak lengkapnya surat-surat.
75. Perkawinan tidak boleh dilangsungkan, sebelum hari kesepuluh setelah hari pengumuman, di mana hari itu sendirii tidak termasuk. Jika ada alasan penting Kepala Pamerintahan Daerah, yang di daerahnya telah dilakukan pemberitahuan kawin, berkuasa memberikan dispensasi dan pengumuman dan waktu tunggu yang diharuskan. Jika dispensasi telah diberikan, berita tentang hal itu harus ditempel secepat-cepatnya pada pintu utama gedung yang dimaksud pada alinea pertama Pasal 52. Dalam berita tempel itu harus disebutkan kapan perkawinan itu akan atau dilaksanakan.
76. Perkawinan harus dilaksanakan di muka umum, dalam gedung tempat membuat akta Catatat Sipil, di hadapan Pegawal Catatan Sipil tempat tinggal salah satu pihak dan dihadapan dua orang saksi, baik keluarga maupun bukan keluarga, yang telah mencapai umur dua puluh satu tahun dan berdiam di Indonesia.
77. Bila salah satu pihak karena halangan yang terbukti cukup sah, tidak dapat pergi ke gedung tersebut, perkawinan boleh dilangsungkan dalam sebuah rumah khusus di daerah Pegawai Catatan Sipil yang bersangkutan. Jika terjadi hal yang demikian, maka dalam akta perkawinan harus dicantumkan sebab-sebab terjadinya. Penilaian tentang sah tidaknya halangan tersebut dalam pasal ini, diserahkan kepada Pegawai Catatan Sipil itu.
78. Kedua calon suami istri harus datang secara pribadi menghadap Pegawai Catatan Sipil itu.
79. Jika ada alasan-alasan penting. Presiden berkuasa untuk mengizinkan pihak-pihak yang bersangkutan melangsungkan perkawinan mereka dengan menggunakan seorang wakil yang khusus diberi kuasa penuh dengan akta otentik. Bila pemberi kuasa itu, sebelum perkawinan dilaksanakan, telah kawin dengan orang lain secara sah, maka perkawinan yang telah berlangsung dengan wakil khusus dianggap tidak pernah terjadi.
80. Kedua calon suami istri, di hadapan Pegawai Catatan Sipil dan dengan kahadiran para saksi, harus menerangkan bahwa yang satu menerima yang lain sebagai suami atau istrinya, dan bahwa dengan ketulusan hati mereka akan memenuhi kewajiban mereka, yang oleh undang-undang ditugaskan kepada mereka sebagai suami istri.
81. Tidak ada upacara keagamaan yang boleh diselenggarakan, sebelum kedua pihak membuktikan kepada pejabat agama mereka bahwa perkawinan di hadapan Pegawai Catatan Sipil telah berlangsung.
82. Jika terjadi pelanggaran oleh Pegawai Catatan Sipil atas ketentuan-ketentuan dalam bab ini, maka selama hal itu tidak diatur dalam aturan undang-undang hukum pidana, para Pegawai itu boleh dihukum oleh Pengadilan Negeri dengan denda uang yang tidak melebihi seratus rupiah, tanpa mengurangi hak pihak-pihak yang berkepentingan untuk menuntut ganti rugi, bila ada alasan untuk itu.
BAGIAN
5
Perkawinan-perkawinan yang Dilaksanakan di Luar Negeri Negeri (Tidak
Berlaku Bagi Golongan Timur Asing BukanTionghoa, tetapi Berlaku
Bagi Golongan Tionghoa)
83. Perkawinan yang dilangsungkan di luar negeri, baik antara sesama warga negara Indonesia, maupun antara warga negara Indonesia dengan warga negara lain, adalah sah apabila perkawinan itu dilangsungkan menurut cara yang biasa di negara tempat berlangsungnya perkawinan itu, dan suami istri yang warga negara Indonesia tidak melanggar ketentuan-ketentuan tersebut dalam bagian 1 Bab ini.
84. Dalam waktu satu tahun setelah kembalinya suami istri ke wilayah Indonesia, akta tentang perkawinan mereka di luar negeri harus didaftarkan dalam daftar umum perkawinan di tempat tinggal mereka.
BAGIAN 6
Batalnya Perkawinan (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan
Golongan Tionghoa, tetapi Berlaku BagiGolongan Tionghoa)
85. Batalnya suatu perkawinan hanya dapat dinyatakan oleh Hakim.
86. Batalnya suatu perkawinan yang dilakukan bertentangan dengan Pasal 27, dapat dituntut oleh orang yang karena perkawinan sebelumnya terikat dengan salah seorang dan suami istri itu, oleh suami istri itu sendiri, oleh keluarga sedarah dalam garis ke atas, oleh siapa pun yang mempunyal kepentingan dengan batalnya perkawinan itu, dan, oleh Kejaksaan. Bila batalnya perkawinan yang terdahulu dipertanyakan, maka terlebih dahulu harus diputuskan ada tidaknya perkawinan terdahulu itu.
87. Keabsahan suatu perkawinan yang berlangsung tanpa persetujuan bekas kedua suami istri atau salah seorang dari mereka, hanya dapat dibantah oleh suami istri itu, atau oleh salah seorang dari mereka yang memberikan persetujuan secara tidak bebas.
Bila telah terjadi kekhilafan tentang diri orang yang dikawini, keabsahan perkawinan itu hanya dapat dibantah oleh suami atau istri yang telah khilaf itu. Dalam hal-hal tersebut dalam pasal ini, tuntutan akan pembatalan suatu perkawinan tidak boleh diterima, bila telah terjadi tinggal serumah terus-menerus selama tiga bulan sejak si suami atau istri mendapat kebebasan, atau sejak mengetahui kebebasannya.
88. Bila perkawinan dilakukan oleh orang yang karena cacat mental ditaruh di bawah pengampuan, keabsahan perkawinan itu hanya boleh dibantah oleh bapaknya, ibunya dan keluarga sedarah dalam garis ke atas, saudara laki-laki dan perempuan, paman dan bibinya, demikian pula oleh pengampuannya, dan akhirnya oleh Kejaksaan.
Setelah pengampuan itu dicabut, pembatalan perkawinan hanya boleh dituntut oleh suami atau istri yang telah ditaruh di bawah pengampuan itu, tetapi tuntutan ini pun tidak dapat diterima bila kedua suami istri telah tinggal bersama selama enam bulan, terhitung dari pencabutan pengampuan itu.
89.
Bila perkawinan dilakukan oleh orang yang belum mencapai umur yang
disyaratkan dalam Pasal 29, maka pembatalan perkawinan itu boleh
dituntut, baik oleh orang yang belum cukup umur itu, maupun oleh
Kejaksaan. Namun keabsahan perkawinan itu tidak dapat dibantah:
1° bila pada hari tuntutan akan pembatalan itu diajukan, salah seorang
atau kedua suami istri telah mencapai umur yang disyaratkan;
2°. bila listri, kendati belum mencapai umur yang disyaratkan. telah
hamil sebelum tuntutan diajukan.
90. Semua perkawinan yang dilakukan dengan melanggar ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal 30, 31, 32 dan 33, boleh dimintakan pembatalan, baik oleh suami istri itu sendiri, maupun oleh orang tua mereka atau keluarga sedarah mereka dalam garis ke atas, atau oleh siapa pun yang mempunyai kepentingan dengan pembatalan itu, ataupun oleh Kejaksaan.
91. Bila suatu perkawinan dilaksanakan tanpa izin bapak, ibu, kakek, nenek, wali atau wali pengawas, maka dalam hal izin harus diperoleh ataupun wali harus didengar menurut pasal-pasal 36, 37, 38, 39 dan 40, pembatalan perkawinan hanya boleh dituntut oleh orang yang harus diperoleh izinnya atau harus didengar menurut undang-undang.
Para keluarga sedarah yang izinnya disyaratkan tidak lagi boleh menuntut pembatalan perkawinan, bila secara diam-diam, atau perkawinan itu teiah berlangsung enam bulan tanpa bantahan apa pun dan mereka terhitung sejak saat mereka mengetahui perkawinan itu.
Mengenai perkawinan yang dilangsungkan di luar negeri, pengetahuan tentang berlangsungnya perkawinan itu tidak boleh dianggap ada, selama suami istri itu tetap Ialai untuk mendaftarkan akta pelaksanaan perkawinan sesuai dengan ketentuan Pasal 84.
92. Perkawinan yang dilangsungkan tidak dihadapan Pegawai Catatan Sipil yang berwenang dan tanpa kehadiran sejumlah saksi yang disyaratkan, dapat dimintakan pembatalannya oleh suami istri itu, oleh bapak, ibu, dan keluarga sedarah lainnya dalam garis ke atas, dan juga oleh wali, wali pengawas, dan oleh siapa pun yang berkepentingan dalam hal itu, dan akhirnya oleh Kejaksaan.
Jika terjadi pelanggaran terhadap Pasal 76, sejauh mengenai keadaan saksi-saksi, maka perkawinan itu tidak mutlak harus batal; Hakimlah yang akan mengambil keputusan menurut keadaan.
Bila tampak jelas adanya hubungan selaku suami istri, dan dapat pula diperlihatkan akta perkawinan yang dibuat di hadapan Pegawal Catatan Sipil, maka suami istri itu tidak dapat diterima untuk minta pembatalan perkawinan mereka menurut pasal ini.
93. Dalam segala hal di mana sesuai dengan pasal-pasal 85,90 dan 92 suatu tuntutan hukum pernyataan batal dapat dimulai oleh orang yang mempunyai kepentingan dalam ha! itu, yang demikian tidak dapat dilakukan oleh kerabat sedarah dalam garis ke samping oleh anak dari perkawinan lain, atau oleh orang-orang luar, selama suami istri itu kedua-duanya masih hidup, dan tuntutan boleh diajukan hanya bila mereka dalam hal itu telah memperoleh atau akan segera memperoleh kepentingan.
94. Setelah perkawinan dibubarkan, Kejaksaan tidak boleh menuntut pembatalannya.
95. Suatu perkawinan, walaupun telah dinyatakan batal, mempunyai segala akibat perdatanya, baik terhadap suami isteri, maupun terhadap anak-anak mereka, bila perkawinan itu dilangsungkan dengan itikad baik oleh kedua suami isteri itu.
96. Bila itikad baik hanya ada pada salah seorang dan suami isteri, maka perkawinan itu hanya mempunyai akibat-akibat perdata yang menguntungkan pihak yang beritikad baik itu dan bagi anak-anak yang lahir dan perkawinan itu. Suami atau isteri yang beritikad buruk boleh dijatuhi hukuman mengganti biaya, kerugian dan bunga terhadap pihak yang lain.
97. Dalam ha! tersebut dalam dua pasal yang lalu, perkawinan itu berhenti mempunyai akibat-akibat perdata, terhitung sejak hari perkawinan itu dinyatakan batal.
98. Batalnya suatu perkawinan tidak boleh merugikan pihak ketiga, bila dia telah berbuat dengan itikad baik dengan suami istri itu.
99. Tiada suatu perkawinan pun yang harus batal bila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan pasal-pasal 34,42,46,52, dan 75, atau, kecuali apa yang diatur dalam Pasal 77, bila perkawinan itu dilangsungkan tidak di muka umum dalam gedung tempat akta-akta Catatan Sipil dibuat. Dalam hal-hal itu berlakulah ketentuan Pasal 82 bagi Pegawai-pegawai Catatan Sipil.
99a. Pembatalan suatu perkawinan oleh Pengadilan atas tuntutan Kejaksaan di Pengadilan tersebut harus didaftar dalam daftar perkawinan yang sedang berjalan oleh Pegawai Catatan Sipil tempat perkawinan itu dilangsungkan, dengan cara yang sesuai dengan alinea pertama Pasal 64 Reglemen tentang Catatan Sipil untuk golongan Eropa atau alinea pertama Pasal 72 Reglemen yang sama untuk golongan Tionghoa. Tentang pendaftaran itu harus dibuat catatan pada margin akta perkawinan.
Bila perkawinan itu berlangsung di luar Indonesia, maka pendaftarannya dilakukan di Jakarta.
BAGIAN 7
Bukti Adanya Suatu Perkawinan (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur
Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku BagiGolongan Tionghoa)
100. Adanya suatu perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan cara lain daripada dengan akta pelaksanaan perkawinan itu yang didaftarkan dalam daftar-daftar Catatan Sipil, kecuali dalam hal-hal yang diatur dalam pasal-pasal berikut.
101. Bila ternyata bahwa daftar-daftar itu tidak pernah ada, atau telah hilang, atau akta perkawinan itu tidak terdapat di dalamnya, maka penilaian tentang cukup tidaknya bukti-bukti tentang adanya perkawinan diserahkan kepada Hakim, asalkan kelihatan jetas adanya hubungan selaku suami isteri.
102. Keabsahan seorang anak yang tidak dapat memperlihatkan akta perkawinan orang tuanya yang sudah meninggal, tidak dapat dibantah, bila dia telah memperlihatkan kedudukannya sebagai anak sesuai dengan akta kelahirannya, dan orang tuanya telah hidup secara jelas sebagai suami-isteri.
BAB V
HAK
DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
103. Suami isteri wajib setia
satu sama lain, saling menolong dan saling membantu.
104. Suami isteri, dengan hanya melakukan perkawinan, telah
saling mengikatkan diri untuk memelihara dan mendidik anak mereka.
105. Setiap suami adalah menjadi kepala persatuan perkawinan.
Sebagai kepala, ia wajib memberi bantuan kepada isterinya atau tampil
untuknya di muka Hakim, dengan mengingat pengecualian-pengecualian
yang diatur di bawah ini. Dia harus mengurus harta kekayaan pribadi
si isteri, kecuali bila disyaratkan yang sebaliknya. Dia harus mengurus
harta kekayaan itu sebagai seorang kepala keluarga yang baik, dan
karenanya bertanggung jawab atas segala kelalaian dalam pengurusan
itu. Dia tidak diperkenankan memindahtangankan atau membebankan
harta kekayaan tak bergerak isterinya tanpa persetujuan si isteri.
106. Setiap isteri harus patuh kepada suaminya. Dia wajib tinggal serumah dengan suaminya dan mengikutinya, di mana pun dianggapnya perlu untuk bertempat tinggal.
107. Setiap suami wajib menerima isterinya di rumah yang ditempatinya. Dia wajib melindungi isterinya, dan memberinya apa saja yang perlu, sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya.
108. Seorang isteri, sekalipun ia kawin di luar harta bersama, atau dengan harta benda terpisah, tidak dapat menghibahkan, memindahtangankan, menggadaikan, memperoleh apa pun, baik secara cuma-cuma maupun dengan beban, tanpa bantuan suami dalam akta atau izin tertulis. Sekalipun suami telah memberi kuasa kepada isterinya untuk membuat akta atau perjanjian tertentu, si isteri tidaklah berwenang untuk menerima pembayaran apa pun, atau memberi pembebasan untuk itu tanpa izin tegas dari suami.
109. Mengenai perbuatan atau perjanjian, yang dibuat oleh seorang isteri karena apa saja yang menyangkut perbelanjaan rumah tangga biasa dan sehari-hari, juga mengenai perjanjian perburuhan yang diadakan olehnya sebagai majikan untuk keperluan rumah tangga, undang-undang menganggap bahwa ia telah mendapat persetujuan dan suaminya.
110. Isteri tidak boleh tampil dalam pengadilan tanpa bantuan suaminya, meskipun dia kawin tidak dengan harta bersama, atau dengan harta terpisah, atau meskipun dia secara mandiri menjalankan pekerjaan bebas.
111. Bantuan
suami tidak diperlukan:
1°. bila si isteri dituntut dalam perkara pidana;
2°. dalam perkara perceraian, pisah meja dan ranjang, atau pemisahan
harta.
112. Bila suami menolak memberi kuasa kepada isterinya untuk membuat akta, atau menolak tampil di Pengadilan, maka si isteri boleh memohon kepada Pengadilan Negeri di tempat tinggi mereka bersama supaya dikuasakan untuk itu.
113. Seorang isteri yang atas usaha sendiri melakukan suatu pekerjaan dengan izin suaminya, secara tegas atau secara diam-diam, boleh mengadakan perjanjian apa pun yang berkenaan dengan usaha itu tanpa bantuan suaminya. Bila ia kawin dengan suaminya dengan penggabungan harta, maka si suami juga terikat pada perjanjian itu. Bila si suami menarik kembali izinnya, dia wajib mengumumkan penarikan kembali itu.
114 . Bila si suami, karena sedang tidak ada atau karena alasan-alasan lain, terhalang untuk membantu isterinya atau memberinya kuasa, atau bila ia mempunyai kepentingan yang berlawanan, maka Pengadilan Negeri di tempat tinggal suami isteri itu boleh memberikan wewenang kepada si isteri untuk tampil di muka Pengadilan, mengadakan perjanjian, melakukan pengurusan, dan membuat akta-akta lain.
115. Pemberian kuasa umum, pun jika dicantumkan pada perjanjian perkawinan, berlaku tidak lebih daripada yang berkenaan dengan pengurusan harta kekayaan si isteri itu sendiri.
116. Batalnya suatu perbuatan berdasarkan tidak adanya kuasa, hanya dapat dituntut oleh si isteri, suaminya atau oleh para ahli waris mereka.
117. Bila seorang isteri, setelah pembubaran perkawinan melaksanakan perjanjian atau akta, seluruhnya atau sebagian, yang telah dia adakan tanpa kuasa yang disyaratkan, maka dia tidak berwenang untuk meminta pembatalan perjanjian atau akta itu.
118. Isteri dapat membuat wasiat tanpa izin suami.
BAB VI
HARTA BERSAMA MENURUT UNDANG-UNDANG DAN PENGURUSANNYA
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
BAGIAN 1
Harta Bersama Menurut Undang-Undang
119. Sejak saat dilangsungkannya perkawinan, maka menurut hukum terjadi harta bersama menyeluruh antarà suami isteri, sejauh tentang hal itu tidak diadakan ketentuan-ketentuan lain dalam perjanjian perkawinan. Harta bersama itu, selama perkawinan berjalan, tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami isteri.
120. Berkenaan dengan soal keuntungan, maka harta bersama itu meliputi barang-barang bergerak dan barangbarang tak bergerak suami isteri itu, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, juga barang-barang yang mereka peroleh secara cuma-cuma, kecuali bila dalam hal terakhir ini yang mewariskan atau yang menghibahkan menentukan kebalikannya dengan tegas.
121. Berkenaan dengan beban-beban, maka harta bersama itu meliputi semua utang yang dibuat oleh masing-masmg suami isteri, baik sebelum perkawinan mupun setelah perkawinan maupun selama perkawinan.
122. Semua penghasilan dan pendapatan, begitu pula semua keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian yang diperoleh selama perkawinan, juga menjadi keuntungan dan kerugian harta bersama itu.
123. Semua utang kematian, yang terjadi setelah seorang meninggal dunia, hanya menjadi beban para ahli waris dan yang meninggal itu.
BAGIAN 2
Pengurusan Harta Bersama (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing
Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku BagiGolongan Tionghoa)
124. Hanya suami saja yang boleh mengurus harta bersama itu. Dia boleh menjualnya, memindahtangankannya dan membebaninya tanpa bantuan isterinya, kecuali dalam hal yang diatur dalam Pasal 140.
Dia tidak boleh memberikan harta bersama sebagai hibah antara mereka yang sama-sama masih hidup, baik barang-barang tak bergerak maupun keseluruhannya atau suatu bagian atau jumlah yang tertentu dan barang-barang bergerak, bila bukan kepada anak-anak yang lahir dan perkawinan mereka, untuk memberi suatu kedudukan. Bahkan dia tidak boleh menetapkan ketentuan dengan cara hibah mengenai sesuatu barang yang khusus, bila dia memperuntukkan untuk dirinya hak pakai hasil dari barang itu.
125. Bila si suami tidak ada, atau berada dalam keadaan tidak mungkin untuk menyatakan kehendaknya, sedangkan hal ini dibutuhkan segera, maka si isteri boleh mengikatkan atau memindahtangankan barang-barang dan harta bersama itu, setelah dikuasakan untuk itu oleh Pengadilan Negeri.
BAGIAN 3
Pembubaran Gabungan Harta Bersama dan Hak untuk Melepaskan Diri
Padanya (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa,
Tetapi Berlaku BagiGolongan Tionghoa)
126.
Harta bersama bubar demi hukum:
1°. karena kematian;
2°. karena perkawinan atas izin hakim setelah suami atau isteri
tidak ada;
3°. karena perceraian;
4°. karena pisah meja dan ranjang;
5°. karena pemisahan harta.
Akibat-akibat khusus dan pembubaran dalam hal-hal tersebut pada nomor 2°, 3°, 4°, dan 5°pasal ini, diatur dalam bab-bab yang membicarakan soal ini.
127. Setelah salah seorang dan suami isteri meninggal, maka bila ada meninggalkan anak yang masih di bawah umur, pihak yang hidup terlama wajib untuk mengadakan pendaftaran harta benda yang merupakan harta bersama dalam waktu empat bulan. Pendaftaran harta bersama itu boleh dilakukan di bawah tangan, tetapi harus dihadiri oleh wali pengawas. Bila pendaftaran harta bersama itu tidak diadakan, gabungan harta bersama berlangsung terus untuk keuntungan si anak yang masih di bawah umur dan sekali-kali tidak boleh merugikannya.
128. Setelah bubarnya harta bersama,. kekayaan bersama mereka dibagi dua antara suami dan isteri, atau antara para ahli waris mereka, tanpa mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu.
Ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Bab XVII Buku Kedua, mengenai pemisahan harta penginggalan, berlaku terhadap pembagian harta bersama menurut undang-undang.
129. Pakaian, perhiasan dan perkakas untuk mata pencaharian salah seorang dari suami isteri itu, beserta buku-buku dan koleksi benda-benda kesenian dan keilmuan, dan akhirnya surat-surat atau tanda kenang-kenangan yang bersangkutan dengan asal usul keturunan salah seorang dari suami isteri itu, boleh dituntut oleh pihak asal benda itu, dengan membayar harga yang ditaksir secara musyawarah atau oleh ahli-ahli.
130. Setelah pembubaran harta bersama, suami boleh ditagih atas utang dan harta bersama seluruhnya, tanpa mengurangi haknya untuk minta penggantian setengah dan utang itu kepada isterinya atau kepada para ahli waris si isteri.
131. Suami atau isteri, setelah pemisahan dan pembagian seluruh harta bersama, tidak boleh dituntut oleh para kreditur untuk membayar utang-utang yang dibuat oleh pihak lain dari suami atau isteri itu sebelum perkawinan, dan utang-utang itu tetap menjadi tanggungan suami atau isteri yang telah membuatnya atau para ahil warisnya; hal ini tidak mengurangi hak pihak yang satu untuk minta ganti rugi kepada pihak yang lain atau ahli warisnya.
132. Isteri berhak melepaskan haknya atas harta bersama; segala perjanjian yang bertentangan dengan ketentuan ini batal; sekali melepaskan haknya, dia tidak boleh menuntut kembali apa pun dari harta bersama, kecuali kain seprai dan pakaian pribadinya. Dengan pelepasan ini dia dibebaskan dan kewajiban untuk ikut membayar utang-utang harta bersama. Tanpa mengurangi hak para kreditur atas harta bersama, si isteri tetap wajib untuk melunasi utang-utang yang dari pihaknya telah jatuh ke dalam harta bersama; hal ini tidak mengurangi haknya untuk minta penggantian seluruhnya kepada suaminya atau ahli warisnya.
133. Isteri yang hendak menggunakan hak tersebut dalam pasal yang lalu, wajib untuk menyampaikan akta pelepasan, dalam waktu satu bulan setelah pembubaran harta bersama itu, kepada paniteria Pengadilan Negeri di tempat tinggal bersama yang terakhir, dengan ancaman akan kehilangan hak itu (bila lalai). Bila gabungan itu bubar akibat kematian suaminya, maka tenggang waktu satu bulan berlaku sejak si isteri mengetahui kematian itu.
134. Bila dalam jangka waktu tersebut di atas isteri meninggal dunia, sebelum menyampaikan akta pelepasan. para ahli warisnya berhak melepaskan hak mereka atas harta bersama itu dalam waktu satu bulan setelah kematian itu, atau setelah mereka mengetahui kematian itu, dan dengan cara seperti yang diuraikan dalam pasal terakhir. Hak isteri untuk menuntut kembali kain seprai dan pakaiannya dan harta bersama itu, tidak dapat diperjuangkan oleh para ahli wanisnya.
135. Bila para ahli waris tidak sepakat dalam tindakan, sehingga sebagian menerima dan yang lain melepaskan diri dari harta bersama itu, maka yang menerima itu, tidak dapat memperoleh lebih dari bagian warisan yang menjadi haknya atas barang-barang yang sedianya menjadi bagian isteri itu seandainya terjadi pemisahan harta. Sisanya dibiarkan tetap pada si suami, atau para ahli warisnya, yang sebaliknya berkewajiban terhadap ahli waris yang melakukan pelepasan, untuk memenuhi apa saja yang sedianya akan dituntut oleh si isteri dalam hal pelepasan, tetapi hanya sebesar bagian warisan yang menjadi hak ahli waris yang melakukan pelepasan.
136. Isteri yang telah menarik pada dirinya tidak berhak melepaskan diri dari harta bersama itu. Tindakan-tindakan yang menyangkut pengurusan semata-mata atau penyelamatan, tidak membawa akibat seperti itu.
137. Isteri yang telah menghilangkan atau menggelapkan barang-barang dan harta bersama, tetap berada dalam penggabungan meskipun telah melepaskan dirinya; hal yang sama berlaku bagi para ahli warisnya.
138. Dalam hal gabungan harta bersama berakhir karena kematian si isteri para ahli warisnya dapat melepaskan diri dari harta bersama itu, dalam waktu dan dengan cara seperti yang diatur mengenai si isteri sendiri.
BAB
VII
PERJANJIAN
KAWIN
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
BAGIAN
1
Perjanjian Kawin pada Umumnya
139. Para calon suami isteri dengan peranjian kawin dapat menyimpang dan peraturan undang-undang mengenai harta bersama asalkan hal itu tidak bertentangan dengan tata susila yang baik atau dengan tata tertib umum dan diindahkan pula ketentuan-ketentuan berikut.
140. Perjanjian itu tidak boleh mengurangi hak-hak yang bersumber pada kekuasaan si suami sebagai suami, dan pada kekuasaan sebagai bapak, tidak pula hak-hak yang oleh undang-undang dibenikan kepada yang masih hidup paling lama.
Demikian pula perjanjian itu tidak boleh mengurangi hak-hak yang diperuntukkan bagi si suami sebagai kepala persatuan suami isteri; namun hal mi tidak mengurangi wewenang isteri untuk mensyaratkañ bagi dirinya pengurusan harta kekayaan pribadi, baik barang-barang bergerak maupun barang-barang tak bergerak di samping penikmatan penghasilannya pnbadi secara bebas.
Mereka juga berhak untuk membuat perjanjian, bahwa meskipun ada golongan harta bersama, barang-barang tetap, surat-surat pendaftaran dalam buku besar pinjamanpinjaman negara, surat-surat berharga lainnya dan piutang-piutang yang diperoleh atas nama isteri, atau yang selama perkawinan dan pihak isteri jatuh ke dalam harta bersama, tidak boleh dipindahtangankan atau dibebani oleh suaminya tanpa persetujuan si isteri.
141. Para calon suami isteri, dengan mengadakan perjanjian perkawinan, tidak boleh melepaskan hak yang diberikan oleh undang-undang kepada mereka atas wanisan keturunan mereka, pun tidak boleh mengatur warisan itu.
142. Mereka tidak boleh membuat perjanjian, bahwa yang satu mempunyai kewajiban lebih besar dalam utang-utang daripada bagiannya dalam keuntungan-keuntungan harta bersama.
143. Mereka tidak boleh membuat perjanjian dengan kata-kata sepintas lalu, bahwa ikatan perkawinan mereka akan diatur oleh undang-undang, kitab undang-undang luar negeri, atau oleh beberapa adat kebiasaan, undangundang, kitab undang-undang atau peraturan daerah, yang pemah berlaku di Indonesia.
144. Tidak adanya gabungan harta bersama tidak berarti tidak adanya keuntungan dan kerugian bersama, kecuali jika hal mi ditiadakan secara tegas. Penggabungan keuntungan dan kerugian diatur dalam Bagian 2 bab ini.
145. Juga dalam hal tidak digunakannya atau dibatasinya gabungan harta bersama, boleh ditetapkan dalani jumlah yang harus disumbangkan oleh si isteri setiap tahun dan hartanya untuk biaya rumah tangga dan pendidikan anak-anak.
146. Bila tidak ada perjanjian mengenai hal itu, hasil-hasil dan pendapatan dan harta isteri masuk penguasaan suami.
147. Perjanjian kawin harus dibuat dengan akta notaris sebelum pernikahan berlangsung, dan akan menjadi batal bila tidak dibuat secara demikian. Perjanjian itu akan mulai berlaku pada saat pernikahan dilangsungkan, tidak boleh ditentukan saat lain untuk itu.
148 . Perubahan-perubahan dalam hal itu, yang sedianya boleh diadakan sebelum perkawinan dilangsungkan, tidak dapat diadakan selain dengan akta, dalarn bentuk yang sama seperi akta perjanjian yang dulu dibuat. Lagi pula tiada perubahan yang berlaku jika diadakan tanpa kehadiran dan izin orang-orang yang telah menghadiri dan dan menyetujui perjanjian kawin itu.
149. Setelah perkawinan berlangsung, peijanjian kawin tidak boleh diubah dengan cara apa pun.
150. Jika tidak ada gabungan harta bersama, maka masuknya barang-barang bergerak, terkecuali surat-surat pendaftaran pinjaman-pinjaman negara dan efek-efek dan surat-surat piutang atas nama, tidak dapat dibuktikan dengan cara lain daripada dengan cara mencantunikannya dalam perjanjian kawin, atau dengan pertelaan yang ditandatangi oleh notaris dan pihak-pihak yang bersangkutan, dan dilekatkan pada surat ash perjanjian kawin, yang didalamnya hal itu harus tercantum.
151. Anak di bawah umur yang memenuhi syarat-syarat untuk melakukan perkawinan, juga cakap untuk memberi persetujuan atas segala peranjian yang boleh ada dalam perjanjian kawin, asalkan dalam pembuatan perjanjian itu, anak yang masih dibawah umur itu dibantu oleh orang yang persetujuannya untuk melakukan perkawinan itu diperlukan.
Bila perkawinan itu harus berlangsung dengan izin tersebut dalam Pasal 38 dan Pasal 41, maka rencana perjanjian kawm itu harus dilampirkan pada permohonan izin itu, agar tentang hal itu dapat sekalian diambil ketetapan.
152. Ketentuan yang tercantum dalam perjanjian kawin, yang menyimpang dan harta bersarna menurut undang-undang, seluruhnya atau sebagian, tidak akan benlaku bagi pihak ketiga sebelum han pendaftaran ketentuan-ketentuan itu dalam daftar umum, yang harus diselenggarakan di kepaniteraan pada Pengadilan Negeni, yang di daerah hukumnya perkawinan itu dilangsungkan. atau kepaniteraan di mana akta perkawinan itu didaf tarkan, jika perkawinan berlangsung di luar negeri.
153. Segala ketentuan mengenai gabungan harta bersama selalu benlaku selama tidak ada penyimpangan daripadanya, baik yang dibuat secara tertulis, maupun secara tersirat, dalam perjanjian kawin. Bagaimanapun sifat dan cara gabungan harta bersama diperjanjikan, isteri atau para ahli warisnya berhak untuk melepaskan din daripadanya, dengan cara dan dalam hal-hal seperti yang diatur dalam bab yang lalu.
154. Perjanjian kawin, demikian pula hibah-hibah yang berkenaan dengan perkawinan, tidak berlaku bila tidak diikuti oleh perkawinan.
BAGIAN 2
Gabungan Keuntungan dan Kerugian dan Gabungan Hasil dari Pendapatan
(Tidak Berlaku Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku
BagiGolongan Tionghoa)
155. Bila para calon suami isteri hanya memperjanjikan, bahwa harus ada gabungan keuntungan dan kerugian, maka persyaratan mi menutup jalan untuk mengadakan gabungan harta bersama secara menyeluruh menurut undang-undang dan segala keuntungan yang diperoleh suami isteri selama perkawinan harus dibagi antara mereka, sedangkan segala kerugian harus dipikul bersama, bila gabungan harta bersama bubar.
156. Masing-masmg dan suami isteri mendapat separuh keuntungan dan memikul separuh kerugian, bila mengenai hal itu dalam perjanjian kawin tidak ada ketentuan-ketentuan lain.
157. Yang dianggap sebagai keuntungan pada harta bersama suami isteri ialah bertambahnya harta kekayaan mereka, berdua, yang selama perkawinan timbul dan hasil harta kekayaan mereka dan pendapatan masing-masing, dan usaha dan kerajinan masing-masing dan dan penabungan pendapatan yang tidak dihabiskan, yang dianggap sebagai kerugian ialah berkurangnya harta benda itu akibat pengeluaran yang lebih tinggi dan pendapatan.
158. Apa saja yang diperoleh seorang suami atau isten selama perkawinan dan warisan, wasiat atau hibah, entah berasal dan keluarga entah dan orang lain, tidak termasuk keuntungan, dengan tidak mengurangi ketentutan Pasal 167.
159. Barang-barang tetap dan efek-efek yang dibeli selama perkawinan, atas nama siapa pun juga dianggap sebagai keuntungan, kecuali bila terbukti sebaliknya.
160. Naik atau turunnya harga barang salah seorang dan suami isteri itu, tidak dihitung sebagai keuntungan atau kerugian bersama.
161. Perbaikan barang-barang tetap, yang terjadi karena pertumbuhan tanah, perdamparan lumpur, penanganan oleh tukang kayu atau karena hal-hal lain, tidak dianggap sebagai keuntungan bersama, melainkan hanya menguntungkan pemiik barang-barang itu.
162. Kerusakan atau pengurangan karena kebakaran, kebanjiran, hanyut atau lain sebagainya, tidak termasuk kerugian bersama, tetapi menjadi beban si pemilik barang yang rusak atau berkurang itu.
163. Semua utang kedua suami isteri itu bersama-sama, yang dibuat selama perkawinan, harus dihitung sebagai kerugian bersama. Apa yang dirampas akibat kejahatan salah seorang dan suami isteri itu, tidak termasuk kerugian bersama itu.
164. Perjanjian, bahwa antara suami isteri hanya akan ada gabungan penghasilan dan pendapatan saja, mengandung arti secara diam-diam bahwa tiada gabungan harta bersama secara menyeluruh menurut undangundang dan tiada pula gabungan keuntungan dan kerugian.
165. Barang-barang bergerak kepunyaan masing-masing suami isteri sewaktu melakukan perkawinan, harus dinyatakan dengan tegas dalam akta perjanjian kawin sendiri, atau dalam surat pertelaan yang ditandatangani oleh Notaris dan para pihak yang berjanji, dan dilekatkan pada akta asli perjanjian kawin, yang di dalamnya harus tercantum hal itu, baik jika gabungan keuntungan dan kerugian saja yang dipersyaratkan, maupun jika dipersyaratkan gabungan penghasilan dan pendapatan seperti yang diuraikan dalam Pasal 155 dan Pasal 164; tanpa bukti ini barang-barang bergerak itu dianggap sebagai keuntungan.
166. Adanya barang-barang bergerak yang diperoleh masing-masing pihak dan suami isteri dengan pewarisan, hibah wasiat atau hibah biasa selama perkawinan harus diperlthatkan dengan surat pertelaan.
Bila tidak ada surat pertelaan barang-barang bergerak yang diperoleh si suami selama perkawinan atau bila tidak ada surat yang memperlihatkan apa saja barang-barang itu dan berapa harga masing-masing, istri itu atau para ahli warisnya berwenang untuk membuktikan adanya dan harga barang-barang itu dengan saksi-saksi, dan jika perlu, dengan menunjukkan bahwa umum mengetahuinya.
167. Yang termasuk penghasilan dan pendapatan ialah segala hibah wasiat atau hibah penerimaan uang tahunan, bulanan, mingguan dan sebagainya seperti juga cagak hidup, dan dengan demikian tercakup kedua jenis golongan yang dibicarakan dalam bagian ini.
BAGIAN 3
Hibah-Hibah Antara Kedua Calon Suami Isteri (Tidak Berlaku Bagi
Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan
Tionghoa)
168. Dalam mengadakan perjanjian kawin, kedua calon suami isteri, secara timbal balik atau secara sepihak, boleh memberikan hibah yang menurut pertimbangan mereka pantas diberikan, tanpa mengurangi pemotongan hibah itu sejauh penghibahan itu kiranya akan merugikan mereka yang berhak atas suatu bagian menurut undang-undang.
169. Hibah-hibah itu dapat berkenaan dengan banang-barang yang telah ada seperti yang dirinci dalam akta hibahnya, dapat pula dengan seluruh atau sebagian harta wanisan si penghibah.
170. Pemberian hibah-hibah demikian itu berlaku biar pun disambut tanpa pernyataan setuju secara tegas oleh pihak yang diberi hibah.
171. Hibah-hibah itu dapat diberikan dengan persyaratanpersyaratan, yang pelaksanaannya tergantung pada kehendak si penghibah.
172. Hibah yang terdiri dan barang-barang yang telah ada dan tertentu tidak dapat ditarik kembali, kecuali jika tidak dipenuhi persyaratan-persyaratan Hibah itu.
173. Hibah yang mencakup seluruh atau sebagian warisan si penghibah tidak dapat ditarik kembali, dengan pengertian, bahwa dia tidak lagi menguasai barang-barang yang termasuk dalam hibah itu, kecuali uang dalam jumlah-jumlah kecil untuk upah, atau untuk soal-soal lain menurut pertimbangan hakim. Bila syarat-syarat tidak dipenuhi, hibah-hibah itu dapat ditank kembali.
174. Hibah yang terdirii dari barang-barang yang telah ada dan terinci secara tertentu, dan diberikan antara suami isteri dalam perjanjian kawin, tak dapat diangap diberikan dengan syarat, bahwa penerimaan hibah harus hidup lebih lama danipada pemberinya, kecuali bila syarat yang dibuat secara tegas dalam perjanjian.
175. Tiada hibah seluruh atau sebagian dan warisan si penghibah, yang diberikan dalam perjanjian kawin, baik yang diberikan oleh yang seorang dan suami isteri kepada yang lain, maupun yang diberikan secara timbal balik, akan beralih kepada anak-anak yang lahir dan perkawinan mereka, bila yang diberi hibah meninggal sebelum si penghibah.
BAGIAN 4
Hibah-Hibah yang Diberikan Kepada Kedua Calon Suami Isteri atau
Kepada Anak-anakdan Perkawinan Mereka (Tidak Berlaku Bagi Golongan
Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
176. Baik dalam penjanjian kawin, maupun dengan akta Notaris tersendiri, yang dibuat sebelum pelaksanaan perkawinan, pihak ketiga boleh memberikan hibah, yang menurut pendapat mereka pantas diberikan kepada kedua calon suami isteri atau kepada salah seorang dan mereka, dengan tidak mengurangi kemungkinan untuk mengurangi hibah itu bila dengan hibah itu orang yang mempunyai hak atas suatu bagian menurut undang-undang dirugikan.
177. Bila hibah-hibah itu dibenkan dalam perjanjian kawin, maka untuk berlakunya secara sah tidak perlu ada persetujuan tegas dan yang diberi hibah; sebaliknya bila hibah itu diberikan dengan akta tersendiri, maka hal itu tidak mempunyai akibat kecuali setelah ada persetujuan tegas untuk menerima.
178. Suatu hibah yang terdiri dan seluruh atau sebagian warisan si penghibah, meskipun diberikan hanya untuk kedua suami isteni atau untuk salah seorang dan mereka, selalu dianggap diberikan untuk anak-anak dan keturunan mereka, bila si penghibah hidup lebih lama daripada yang diberi hibah, dan bila dalam akta tidak ditentukan lain. Hibah seperti itu hapus, bila si penghibah hidup lebih lama daripada anak-anak dan keturunan mereka selanjutnya yang diberi hibah.
179. Ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal 169, 171, 172, dan 173, berlaku juga pada hibah-hibah yang dibicarakan dalam bagian ini.
BAB VIII
GABUNGAN
HARTA BERSAMA ATAU PERJANJIAN KAWIN PADA PERKAWINAN KEDUA ATAU SELANJUTNYA
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
180. Juga
dalam perkawinan kedua dan berikutnya,menurut hukum ada gabungan
harta benda menyeluruh antara suami isteri, bila dalam perjanjian
kawin tidak diadakan ketentuan lain.
181. Akan tetapi pada perkawinan kedua atau berikutnya, bila ada anak dan keturunan dan perkawinan yang sebelumnya, suami atau isteri yang baru, oleh percampuran harta dan utang-utang pada suatu gabungan, tidak boleh memperoleh keuntungan yang lebih besar daripada jumlah bagian terkecil yang diperoleh seorang anak atau bila anak itu telah meninggal lebih dahulu, oleh turunannya dalam penggantian ahli waris, dengan ketentuan, bahwa keuntungan ini sekali-kali tidak boleh melebihi seperempat bagian dan harta benda suami atau isteri yang kawin lagi itu.
Anak-anak dan perkawinan terdahulu atau keturunan mereka, pada waktu terbukanya warisan dan suami atau isteni yang kawm lagi berhak menuntut pemotongan atau pengurangan; dan apa yang melebihi bagian yang diperkenankan, masuk ke dalam warisan itu.
182. Suami atau isteri, yang mempunyai anak-anak dan perkawinan yang terdahulu dan melakukan perkawinan berikutnya, tidak boleh menyediakan kepada suami atau isteri yang baru, dengan perjanjian kawin itu, keuntungan-keuntungan yang lebih daripada yang tersebut dalam pasal sebelum ini.
183. Suami isteri tidak diperkenankan dengan cana yang berliku-liku saling memberi hibah lebih danipada yang diperkenankan dalam ketentuan-ketentuan di atas.
Semua hibah yang diberikan dengan dalih yang dikarang-karang, atau diberikan kepada orang-onang perantara, adalah batal.
184. Yang dimaksud dengan hibah yang diberikan kepada perantara ialah hibah yang diberikan oleh seorang suami atau isteri kepada semua anak atau salah seorang anak dan perkawinan terdahulu isteri atau suaminya, demikian pula hibah yang diberikan kepada keluarga sedarah penghibah dan pada waktu penghibahan diperkirakan akan menjadi warisan isteri atau suami penghibah itu, meskipun suami atau isteri penghibah ini mungkin tidak hidup lebih lama dan penerima hibah.
184a. Pasal-pasal 181-184, dalam hal suami isteri yang kawin kembali satu sama lain, tidak berlaku bagi anakanak atau keturunan dan perkawinan mereka yang terdahulu.
185. Juga jika ada anak-anak dan perkawinan yang dulu, maka keuntungan dan kerugian harus dibagi rata antara suami isteri, kecuali bila peraturan tentang itu ditiadakan atau diubah oleh perjanjian kawin.
BAB
IX
PEMISAHAN
HARTA BENDA
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
186.
Selama perkawinan, si isteri boleh mengajukan tuntutan akan pemisahan
harta benda kepada Hakim, tetapi hanya dalam hal-hal:
1º. bila suami, dengan kelakuan buruk memboroskan barang-barang
dan gabungan harta bersama, dan membiarkan rumah tangga terancam
bahaya kehancuran.
2°. bila karena kekacaubalauan dan keburukan pengurusan harta kekayaan
si suami, jaminan untuk harta perkawinan isteri serta untuk apa
yang menurut hukum menjadi hak isteri akan hilang, atau jika karena
kelalaian besar dalam pengurusan harta perkawinan si isteri, harta
itu berada dalam keadaan bahaya.
Pemisahan harta benda yang dilakukan hanya atas persetujuan bersama
adalah batal.
187. Tuntutan akan pemisahan harta benda harus diumumkan secara terbuka.
188. Orang yang berpiutang kepada si suami dapat ikut campur dalam penyidangan perkara untuk menentang tuntutan akan pemisahan harta benda itu.
189. Putusan Hakim yang mengabulkan tuntutan akan pemisahan harta benda itu, sebelum pelaksanaannya, harus diumumkan secara terbuka, dengan ancaman menjadi batal pelaksanaannya bila tidak dipenuhi persyaratan pengumuman itu. Putusan tentang dikabulkannya pemisahan harta benda itu, dalam hal akibat hukumnya, mempunyai kekuatan berlaku surut, terhitung dari hari gugatan diajukan.
190. Selama penyidangan, isteri boleh melakukan tindakan-tindakan, dengan seizin Hakim, untuk menjaga agar barang-barangnya tidak hilang atau diboroskan si suami.
191. Keputusan di mana pemisahan harta benda diizinkan, hapus menurut hukum, bila hal itu tidak dilaksanakan secara sukarela dengan pembagian barang-barang itu, seperti yang tennyata dan akta otentik tentang itu; atau bila dalam waktu satu bulan setelah putusan itu memperoleh kekuatan hukum tetap, si isteri tidak mengajukan tuntutan untuk pelaksanaannya kepada Hakim dan tidak melanjutkan penuntutan secara teratur
192. Para kreditur si suami yang tidak turut campur dalam penyidangan, boleh menentang pemisahan itu, meskipun hal itu telah dilaksanakari, bila hak-hak mereka dengan adanya pelaksanaan itu, secara sengaja dirugikan.
193. Meskipun ada pemisahan harta benda, si isteri wajib memberi sokongan untuk biaya rumah tangga dan pendidikan anak-anak yang dilahirkan olehnya karena perkawinan dengan si suami, menurut perbandingan antara harta si isteri dan harta si suami. Bila si suami ada dalam keadaan tidak mampu, biaya-biaya itu menjadi tanggungan si isteri saja.
194. Isteri yang berpisah harta benda dengan suaminya, memperoleh kembali kebebasan untuk mengurusnya, dan meskipun ada ketentuan-ketentuan Pasal 108, dia dapat memperoleh izin umum dan hakim untuk menguasai barang-barang bergeraknya.
195. Suami tidak bertanggung jawab kepada isterinya, bila si isteri setelah berpisah harta bendanya, telah lalai untuk memanfaatkan atau menanamkan kembali uang penjualan barang tetap yang telah dipindahtangankannya atas izin yang diperolehnya dan Hakim, kecuali bila si suami ikut membantu dalam mengadakan kontrak, atau bila dapat dibuktikan, bahwa uang itu telah diterima oleh suami, atau telah dipergunakan untuk kepentingan suami.
196. Gabungan harta benda yang tetah dibubarkan, dapat dipulihkan kembali atas persetujuan kedua suami isteri. Persetujuan yang demikian tidak boleh diadakan selain dengan akta otentik.
197. Bila gabungan harta bersama itu telah pulih kembali, barang-barangnya dikembalikan ke keadaan semula, seakan-akan tidak pernah ada pemisahan, tanpa mengurangi kewajiban si isteri untuk memenuhi perjanjian, yang dibuatnya selama waktu sejak pemisahan sampai dengan pemulihan kembali gabungan harta bersama itu. Segala perjanjian yang oleh suami isteri itu dipergunakan untuk memulihkan kembali gabungan harta bersama itu dengan syarat-syarat yang semula, adalah batal.
198. Suami isteri itu wajib untuk mengumumkan pemulihan kembali gabungan harta bersama itu secara terbuka. Selama pengumuman seperti itu seperti itu belum dilaksanakan, suami isteri itu tidak boleh mempersoalkan akibat-akibat pemulihan gabungan harta bersama itu dengan pihak-pihak ketiga.
BAB X
PEMBUBARAN PERKAWINAN
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan
Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
BAGIAN 1
Pembubaran
Perkawinan Pada Umumnya
199. Perkawinan bubar:
1. oleh kematian;
2. oleh tidak hadirnya si suami atau si isteri selama sepuluh tahun, yang disusul oleh perkawinan baru isteri atau suaminya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Bagian 5 Bab 18;
3. oleh keputusan Hakim setelah pisah meja dan ranjang dan pendaftaran Catatan Sipil, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Bagian 2 bab ini;
4. oleh perceraian, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Bagian 3 bab ini.
BAGIAN
2
Pembubaran
Perkawinan Setelah Pisah Meja dan Ranjang
(Tidak
Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku
Bagi Golongan Tionghoa)
200. Bila suami isteri pisah meja dan ranjang, baik karena salah satu alasan dari alasan-alasan yang tercantum dalam pasal 233, maupun atas permohonan kedua belah pihak, dan perpisahan itu tetap berlangsung selama lima tahun penuh tanpa perdamaian antara kedua belah pihak, maka mereka masing-masing bebas untuk menghadapkan pihak lain ke pengadilan, dan menuntut agar perkawinan mereka dibubarkan.
201. Tuntutan itu harus segera ditolak, bila pihak tergugat, setelah tiga kali dari bulan ke bulan dipanggil ke Pengadilan tidak muncul-muncul, atau datang dengan mengadakan perlawanan terhadap tuntutan itu, atau menyatakan bersedia untuk berdamai dengan pihak lawan.
202. Bila pihak tergugat menyetujui tuntutan, Pengadilan Negeri harus memerintahkan, agar suami isteri itu secara pribadi bersama-sama menghadap seorang atau lebih hakim anggota, yang akan berusaha mendamaikan mereka.
Bila usaha itu tidak berhasil, Hakim harus memerintahkan untuk kembali lagi, paling cepat tiga bulan dan paling lambat enam bulan setelah pertama kali menghadap.
Bila ada alasan yang sah untuk tidak menghadap maka anggota atau para anggota yang ditunjuk itu harus pergi ke rumah suami isteri itu.
Bila salah seorang dari suami isteri, atau kedua-duanya, bertempat tinggal di luar daerah hukum Pengadilan Negeri yang kepadanya permohonan diajukan, maka Pengadilan Negeri itu boleh meminta Pengadilan Negeri yang di daerah hukumnya kedua suami isteri itu bertempat tinggal untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut dalam tiga alinea terdahulu. Pengadilan Negeri ini akan membuat berita acara tentang tindakan-tindakan yang dilakukannya dan segera mengirimkannya kepada Pengadilan Negeri tersebut pertama.
Bila salah seorang dari suami isteri, atau kedua-duanya bertempat tinggal di luar Indonesia, Pengadilan Negeri boleh meminta kepada seorang pejabat Pengadilan di negara tempat mereka berdiam, untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut dalam alinea satu dan dua, atau memerintahkannya kepada Pegawai Perwakilan Indonesia di tempat tinggal suami isteri itu. Berita Acara mengenai hal itu dikirimkan kepada Pengadilan Negeri itu.
203. Bila pertemuan yang kedua ternyata tidak berhasil juga, maka setelah mendengar penuntut umum, Pengadilan Negeri harus mengambil keputusan dan menerima tuntutan itu, jika segala persyaratan acara telah dipenuhi seperti yang dikemukakan di atas.
Namun demikian, setelah mengadakan pemeriksaan Pengadilan Negeri bebas untuk menangguhkan putusan selama enam bulan, bila ternyata baginya masih ada kemungkinan untuk berdamai.
204. Terhadap putusan Pengadilan Negeri ini boleh dimintakan banding kepada Hakim yang lebih tinggi selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan.
205. Perkawinan itu dibubarkan oleh putusan tersebut dan pendaftarannya dalam daftar-daftar Catatan Sipil.
Pendaftarannya harus dilakukan dengan cara, dalam jangka waktu dan dengan ancaman hukuman seperti yang ditentukan dalam Pasal 221 tentang perceraian.
206. Pembubaran perkawinan tidak mengurangi akibat-akibat yang diatur dalam Pasal 222 sampai dengan Pasal 228 dan Pasal 231 yang berdasarkan Pasal 246 juga berlaku terhadap pisah meja dan ranjang, dan juga tidak mengurangi syarat-syarat, yang berdasarkan pemufakatan berkenaan dengan pasal 237, telah ditetapkan oleh suami isteri itu, baik terhadap diri mereka maupun terhadap pemeliharaan dan pendidikan anak-anak.
Pada waktu memutuskan pisah meja dan ranjang itu, Hakim mengangkat salah seorang dari antara orangtua yang telah melakukan kekuasaan orang tua sebagai wali.
Atas permohonan kedua orangtua atau salah seorang dan mereka, Pengadilan Negeri berdasarkan keadaan yang timbul setelah putusan pembubaran perkawinan mempunyai kekuatan hukum yang pasti, boleh mengubah penetapan yang telah diberikan berdasarkan alinea yang lalu, dan persyaratan-persyaratan terhadap anak-anak seperti yang termaksud dalam alinea pertama, setelah mendengar atau memanggil dengan sah para orangtua, wali pengawasnya dan keluarga sedarah atau semenda dari anak-anak yang masih dibawah umur. Boleh dinyatakan, bahwa penetapan ini dapat segera dilaksanakan, meskipun ada perlawanan atau banding dengan atau tanpa jaminan.
Pemeriksaan terhadap orangtua dan wali pengawas yang bertempat tinggal di luar daerah hukum Pengadilan Negeri itu, boleh dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri di tempat tinggal atau tempat kediaman mereka, yang akan menyampaikan berita acara tentang hal itu kepada Pengadilan Negeri tersebut pertama. Pemanggilan para orangtua dan wali pengawas dilakukan dengan cara seperti yang ditentukan dalam Pasal 333 terhadap keluarga sedarah dan semenda. Mereka dapat mewakilkan diri dengan cara seperti yang ditentukan dalam Pasal 334.
Salah satu dari kedua orangtua yang tidak mengajukan permohonan dan yang tidak menghadap atas panggilan boleh mengadakan perlawanan dalam waktu tiga puluh hari setelah suatu penetapan atau suatu akta yang dibuat berdasarkan hal itu atau untuk pelaksanaan penetapan itu, disampaikan kepada orangtua itu sendiri, atau setelah dia melakukan suatu perbuatan yang tak dapat tidak memberi kesimpulan, bahwa dia telah mengerti tentang penetapan itu atau tentang pelaksanaannya yang dimulai. Orangtua yang permohonannya telah ditolak, dan orangtua yang kendati melakukan perlawanan telah dinyatakan salah, demikian pula yang perlawanannya telah ditolak, boleh mohon banding dalam waktu tiga puluh hari setelah keputusan diucapkan.
Bila anak yang belum dewasa belum benar-benar berada dalam kekuasaan orang yang berdasarkan salah satu ketentuan pasal ini ditugaskan menjadi wali, maka dalam putusan itu atau dalam penetapan harus diperintahkan juga penyerahan anak-anak itu. Ketentuan-ketentuan alinea kedua, ketiga, keempat dan kelima Pasal 319h berlaku terhadap hal ini.
206a. Dalam kenyataan pemutusan atau pada pengubahan seperti yang diinaksud dalam alinea ketiga Pasal 206b, bila ada ketakutan yang beralasan, jangan-jangan orangtua yang tidak diserahi tugas perwalian tidak akan memberi cukup bantuan untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang belum dewasa, Pengadilan Negeri dapat pula memberi perintah tersebut dalam Pasal 230b, dengan cara dan dengan akibat-akibat seperti yang yang ditentukan dalam pasal itu.
Dalam hal tidak ada perintah ini, dewan perwalian boleh menuntut pembayaran itu kepada pengadilan, setelah penetapan pembubaran perkawinan itu didaftarkan dalam daftar-daftar Catatan Sipil.
206b. Ketentuan Pasal 232a berlaku juga bagi orang-orang yang kawin kembali satu sama lain, setelah perkawinan mereka yang dahulu dibubarkan sesuai dengan pasal-pasal sebelum ini.
BAGIAN
3
Perceraian
Perkawinan
(Tidak
Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku
Bagi Golongan Tionghoa)
207. Gugatan perceraian perkawinan harus diajukan kepada Pengadilan Negeri yang di daerah hukumnya si suami mempunyai tempat tinggal pokok, pada waktu memajukan permohonan termaksud dalam Pasal 831 Reglemen Acara Perdata atau tempat tinggal yang sebenarnya bila tidak mempunyai tempat tinggal pokok.
Jika pada waktu mengajukan surat permohonan tersebut di atas si suami tidak mempunyai tempat tinggal pokok atau tempat tinggal yang sesungguhnya di Indonesia, maka gugatan itu harus diajukan kepada Pengadilan Negeri tempat kediaman si isteri yang sebenarnya.
208. Perceraian perkawinan sekali-kali tidak dapat terjadi hanya dengan persetujuan bersama.
209. Dasar-dasar yang dapat berakibat perceraian perkawinan hanya sebagai berikut:
1. zina;
2. meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad buruk;
3. dikenakan hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat lagi, setelah dilangsungkan perkawinan;
4. pencederaan berat atau penganiayaan, yang dilakukan oleh salah seorang dari suami isteri itu terhadap yang lainnya sedemikian rupa, sehingga membahayakan keselamatan jiwa, atau mendatangkan luka-luka yang berbahaya.
210. Bila salah seorang dari suami isteri itu dengan keputusan
Hakim dikenakan hukuman karena telah berzina, maka untuk mendapatkan
perceraian perkawinan, cukuplah salinan surat putusan itu disampaikan
kepada Pengadilan Negeri dengan surat keterangan, bahwa putusan
itu telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti.
Ketentuan ini berlaku juga, bila perceraian perkawinan ini dituntut karena si suami atau si isteri dikenakan hukuman penjara lima tahun atau hukuman yang lebih berat.
211. Dalam hal perbuatan meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad buruk, demikian pula dalam hal perubahan tempat tinggal pokok atau tempat tinggal sebenarnya, yang terjadi setelah timbulnya sebab perceraian perkawinan, tuntutan perceraian perkawinan itu boleh juga diajukan kepada Pengadilan di tempat tinggal bersama yang terakhir.
Tuntutan akan perceraian perkawinan atas dasar meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad buruk hanya dapat dikabulkan, bila yang meninggalkan tempat tinggal bersama tanpa alasan sah, tetap menolak untuk kembali kepada suami atau isterinya.
Tuntutan itu tidak boleh dimulai sebelum lampau lima tahun, terhitung sejak suami atau isteri itu meninggalkan tempat tinggal bersama mereka.
Bila kepergian itu mempunyai alasan yang sah, jangka waktu lima tahun itu akan dihitung sejak berakhirnya alasan itu.
212. Isteri itu, baik sebagai penggugat untuk perceraian maupun sebagai tergugat, dengan izin Hakim boleh meninggalkan rumah suaminya selama berlangsungnya persidangan.
Pengadilan Negeri akan menunjuk rumah di mana isteri itu harus tinggal.
213. Isteri itu tidak berhak untuk menuntut tunjangan nafkah, yang setelah ditentukan Hakim harus dibayar oleh si suami kepada isterinya selama berlangsungnya perkara itu.
Bila isteri itu, tanpa izin Hakim, meninggalkan tempat tinggal yang ditunjuk baginya, maka tergantung pada keadaan, dia boleh diberi hak lagi untuk menuntut tunjangan, bahkan bila dia adalah penggugat, dia dapat dinyatakan tidak dapat diterima untuk melanjutkan tuntutan hukumnya.
214. Pengadilan Negeri, selama persidangan masih berjalan, bebas untuk mencabut pelaksanaan kekuasaan orangtua untuk sementara seluruhnya atau sebagian, dan sejauh dianggap perlu, memberikan wewenang-wewenang yang demikian atas diri dan barang-barang anak-anak kepada pihak lain antara orangtua itu, atau kepada orang yang ditunjuk Pengadilan Negeri, atau kepada dewan perwalian.
Terhadap penetapan-penetapan ini tidak diperkenankan memohon banding. Penetapan- penetapan itu tetap berlaku sampai putusan yang menolak gugatan perceraian memperoleh kekuatan hukum yang pasti; dalam hal gugatan diterima, penetapan-penetapan itu tetap berlaku sampai satu bulan berlalu, setelah penetapan yang diberikan berkenaan dengan itu untuk mengatur soal perwalian memperoleh kekuatan hukum yang pasti.
Mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan sesuai dengan alinea pertama, berlaku alinea ketujuh dan kedelapan Pasal 319f.
215. Hak-hak si suami mengenai pengurusan harta si isteri tidak terhenti selama perkara berjalan, hal ini tidak mengurangi wewenang si isteri untuk melindungi haknya, dengan melakukan tindakan-tindakan pencegahan yang ditunjukkan dalam ketentuan-ketentuan Reglemen Acara Perdata.
Semua akta si suami yang sengaja mengurangi hak-hak si isteri adalah batal.
216. Hak untuk menuntut perceraian perkawinan gugur jika terjadi perdamaian suami isteri, entah perdamaian itu terjadi setelah si suami atau si isteri mengetahui perbuatan-perbuatan yang sedianya boleh dipakai sebagai alasan untuk menggugat, entah setelah gugatan untuk perceraian dilakukan.
Undang-undang menganggap telah ada perdamaian, bila si suami dan si isteri tinggal bersama lagi setelah isteri dengan izin Hakim meninggalkan rumah kediaman mereka bersama.
217. Suami atau isteri, yang mengajukan gugatan baru atas dasar suatu sebab baru yang timbul setelah perdamaian, boleh mepergunakan alasan-alasan yang lama untuk mendukung gugatannya.
218. Gugatan untuk perceraian perkawinan atas dasar meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad buruk, gugur bila suami atau isteri, sebelum diputuskan perceraian, kembali ke rumah kediaman bersama. Namun bila setelah sebab yang sah, pihak lain oleh memulai gugatan baru untuk perceraian perkawinan enam bulan setelah kepergian itu, dan boleh menggunakan alasan-alasan lama untuk mendukung gugatannya.
Dalam hal itu, gugatan perceraian perkawinan tidak akan gugur bila pihak yang meninggalkan tempat tinggal bersama itu kembali sekali lagi.
219. Dalam kedua hal yang diatur dalam Pasal 210, suami atau isteri yang membiarkan lampau waktu enam bulan terhitung dari hari putusan Hakim mendapatkan kekuatan hukum yang pasti, tidak dapat diterima lagi untuk memulai gugatan perceraian perkawinan.
Bila salah seorang dari suami isteri itu berada di luar negeri pada waktu pihak yang lain mendapat putusan hukuman, maka jangka waktu yang ditetapkan adalah enam bulan dihitung mulai dari hari kembalinya ke Indonesia.
220. Gugatan untuk perceraian gugur, bila salah seorang dari kedua suami isteri meninggal sebelum ada putusan.
221. Perkawinan dibubarkan oleh keputusan hakim dan pendaftaran perceraian yang ditetapkan dengan putusan itu dalam daftar-daftar Catatan Sipil.
Pendaftaran itu harus dilakukan atas permohonan kedua suami isteri atau salah seorang dari mereka di tempat pendaftaran perkawinan itu.
Jika perkawinan itu dilaksanakan di luar Indonesia, maka pendaftaran harus dilakukan dalam daftar-daftar Catatan Sipil di Jakarta.
Pendaftaran itu harus dilakukan dalam jangka waktu enam bulan, terhitung dari hari putusan itu memperoleh kekuatan hukum yang pasti.
Bila pendaftaran itu tidak dilakukan dalam jangka waktu itu, kekuatan putusan perceraian itu hapus, dan perceraian tidak dapat dituntut sekali lagi atas dasar dan alasan yang sama.
222. Suami atau isteri yang gugatannya untuk perceraian perkawinan dikabulkan, boleh menikmati keuntungan-keuntungan yang dijanjikan kepadanya oleh pihak lain berkenaan dengan perkawinan mereka, sekalipun keuntungan-keuntungan itu dijanjikan secara timbal balik.
223. Sebaliknya, suami atau isteri yang dinyatakan kalah dalam putusan perceraian itu, kehilangan semua keuntungan yang dijanjikan oleh pihak lain kepadanya berkenaan dengan perkawinan mereka.
224. Dengan berlakunya perceraian perkawinan, keuntungan-keuntungan yang dijanjikan akan keluar setelah kematian salah seorang danri suami isteri itu, tidak segera dapat dituntut, pihak yang gugatannya untuk perceraian perkawinan dikabulkan, baru boleh mempergunakan haknya akan keuntungan-keuntungan itu setelah pihak lawannya meninggal.
225. Bila suami atau isteri, yang atas permohonannya dinyatakan perceraian, tidak mempunyai penghasilan yang mencukupi untuk biaya penghidupan, maka Pengadilan Negeri akan menetapkan pembayaran tunjangan hidup baginya dari harta pihak yang lain.
226. Dihapus dengan 5. 1938-622.
227. Kewajiban untuk memberi tunjangan hidup terhenti dengan kematian si suami atau si isteri.
228. Tunjangan-tunjangan yang dijanjikan oleh pihak ketiga dalam perjanjian perkawinan, tetap harus dibayar kepada si suami atau si isteri yang mendapat janji untuk kepentingannya.
229. Setelah memutuskan perceraian, dan setelah mendengar atau memanggil dengan sah para orangtua atau keluarga sedarah atau semenda dari anak-anak yang dibawah umur, Pengadilan Negeri akan menetapkan siapa dari kedua orangtua akan melakukan perwalian atas tiap-tiap anak, kecuali jika kedua orangtua itu dipecat atau dilepaskan dari kekuasaan orangtua, dengan mengindahkan putusan-putusan Hakim terdahulu yang mungkin memecat atau melepas mereka dari kekuasaan orangtua.
Penetapan ini tidak berlaku sebelum hari putusan perceraian perkawinan itu memperoleh kekuatan hukum yang pasti. Sebelum itu tidak usah dilakukan pemberitahuan, dan tidak boleh dilakukan perlawanan atau banding.
Terhadap penetapan ini, bapak atau ibu yang tidak diangkat menjadi wali boleh melakukan perlawanan, bila dia tidak hadir atas panggilan yang dimaksud dalam alinea pertama. Perlawanan ini harus dilakukan dalam waktu tiga puluh hari setelah penetapan itu diberitahukan kepadanya.
Bapak atau ibu yang setelah hadir atas panggilan tidak diangkat menjadi wali,atau yang perlawanannya ditolak, dalam tiga puluh hari setelah hari termasuk dalam alinea kedua, dapat naik banding mengenai penetapan itu.
Alinea keempat Pasal 206 berlaku terhadap pemeriksaan para orangtua.
230. Atas dasar hal-hal yang terjadi setelah putusan perceraian perkawinan memperoleh kekuatan hukum yang pasti, maka Pengadilan Negeri berkuasa untuk mengubah penetapan- penetapan yang telah diberikan menurut alinea pertama pasal yang lalu atas permohonan kedua orangtua atau salah seorang setelah mendengar atau memanggil dengan sah kedua orangtua, para wali pengawas dan keluarga sedarah atau semenda anak-anak yang di bawah umur. Penetapan-penetapan ini boleh dinyatakan dapat dilaksanakan dengan segera meskipun ada perlawanan atau banding, dengan atau tanpa jaminan.
Ketentuan alinea keempat dan kelima Pasal 206 berlaku terhadap hal ini.
230a. Bila anak-anak yang di bawah umur belum berada dalam kekuatan nyata seseorang berdasarkan Pasal 230 atau 229 ditugaskan menjadi wali, atau dalam kekuasaan bapak, ibu atau dewan perwalian yang mungkin diserahi anak-anak itu berdasarkan Pasal 214 alinea pertama, maka dalam penetapan itu juga harus diperintahkan penyerahan anak-anak itu.
Ketentuan-ketentuan alinea kedua, ketiga, keempat dan kelima Pasal 319h dalam hal ini berlaku.
230b. Pada penetapan dalam alinea pertama Pasal 229, setelah mendengar atau memanggil dengan sah seperti yang dimaksud dalam alinea itu dan setelah mendengar dewan perwalian, bila ada kekhawatiran yang beralasan, bahwa orangtua yang diserahi tugas perwalian, tidak akan memberikan tunjangan secukupnya untuk biaya hidup dan pendidikan anak-anak yang masih di bawah umur, Pengadilan Negeri boleh memerintahkan juga, bahwa orangtua itu untuk biaya hidup dan pendidikan anak tiap-tiap tiga bulan akan membayarkan kepada dewan perwalian suatu jumlah yang dalam pada itu ditentukan. Ketentuan-ketentuan alinea kedua, ketiga dan keempat Pasal 229 berlaku juga terhadap perintah ini.
230c. Bila tidak ada perintah seperti yang dimaksud dalam alinea pertama pasal sebelum ini, dewan perwalian boleh menuntut pembayaran tunjangan itu lewat Pengadilan, setelah putusan tentang perceraian perkawinan itu didaftarkan dalam daftar-daftar catatan sipil.
230d. Dihapus dengan S. S. 1938-622.
231. Bubarnya perkawinan karena perceraian tidak akan menyebabkan anak-anak yang lahir dari perkawinan itu kehilangan keuntungan-keuntungan yang telah dijaminkan bagi mereka oleh undang-undang, atau oleh perjanjian perkawinan orangtua mereka.
Akan tetapi anak-anak itu tidak boleh menuntutnya, selain dengan cara yang sama dan dalam keadaan yang sama seakan-akan tidak pernah terjadi perceraian perkawinan.
232. Bila suami isteri yang bercerai itu dahulu kawin dengan gabungan harta bersama, pembagian harta harus dilakukan berdasarkan dan dengan cara seperti yang ditentukan dalam Bab 6.
232a. Bila suami isteri itu kawin kembali satu sama lain, semua akibat perkawinan itu menurut hukum dengan sendirinya timbul kembali, seakan-akan tidak pernah terjadi perceraian. Namun hal ini tidak mengurangi kelanjutan berlakunya perbuatan-perbuatan yang sekiranya telah dilakukan terhadap pihak-pihak ketiga selama waktu antara perceraian itu dengan perkawinan baru, dan tidak mengurangi kelanjutan berlakunya penetapan-penetapan Hakim, yang sekiranya telah memecat atau melepaskan suami isteri itu dari perwalian atas anak-anak mereka sendiri, penetapan-penetapan mana harus dipandang sebagai pemecatan atau pelepasan dari kekuasaan orangtua.
Segala persetujuan antara suami isteri yang bertentangan dengan ini adalah batal.
BAB XI
PISAH MEJA DAN RANJANG
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
233. Jika
ada hal-hal yang dapat menjadi dasar untuk menuntut perceraian perkawinan,
suami atau isteri berhak untuk menuntut pisah meja dan ranjang.
Gugatan untuk itu dapat juga diajukan atas dasar perbuatan-perbuatan
yang melampaui batas kewajaran, penganiayaan dan penghinaan kasar
yang dilakukan oleh salah seorang dan suami isteri itu terhadap
yang Iainnya.
234. Gugatan itu diajukan, diperiksa dan diselesaikan dengan cara yang sama seperti gugatan untuk perceraian perkawinan.
235. Suami atau isteri yang telah mengajukan gugatan untuk pisah meja dan ranjang, tidak dapat diterima untuk menuntut perceraian perkawinan.
236. Pisah meja dan ranjang juga boleh ditetapkan oleh hakim atas permohonan kedua suami isteri bersama-sama, yang boleh diajukan tanpa kewajiban untuk mengajukan alasan tertentu. Pisah meja dan ranjang tidak boleh diizinkan, kecuali bila suami isteri itu telah kawin selama dua tahun.
237. Sebelum meminta pisah meja dan ranjang, suami isteri itu wajib mengatur dengan akta otentik semua persyaratan untuk itu, baik yang bercerai pelaksanaan kekuasaan orangtua dan urusan pemeliharaan dan pendidikan anak-anak mereka. Tindakan-tindakan yang telah mereka rancang untuk dilaksanakan selama pemeriksaan Pengadilan, harus dikemukakan supaya dikuatkan oieh Pengaditan Negeri, dan jika pertu, supaya diatur olehnya.
238. Permintaan kedua suami isteri harus diajukan dengan surat permohonan kepada Pengadilan Negeri tempat tinggal mereka; dan dalam surat itu harus dilampirkan baik salinan akta perkawinan maupun salinan perjanjian yang dibicarakan dalam alinea pertama pasal yang lalu.
239. Berkenaan dengan itu Pengadilan Negeri akan memerintahkan kedua suami isteri untuk bersama-sama secara pribadi menghadap seorang atau Iebih anggota yang akan memberi wejangan-wejangan seperlunya kepada mereka.
Bila suami isteri itu bertahan dengan niat mereka, Hakim akan memerintahkan mereka untuk menghadap lagi setelah lewat enam bulan. Bila temyata ada alasan sah yang menghalangi mereka untuk menghadap, maka Hakim yang ditunjukkan harus pergi ke rumah suami isteri itu.
Bila suami isteri itu bertempat tinggal di luar daerah di mana Pengadilan Negeri itu bertempat kedudukan, Pengadilan Negeri dapat menunjuk kepada kepala daerah setempat untuk melakukan tindakan-tindakan yang dimaksud dalam tiga alinea yang lalu. Pejabat yang telah ditunjuk itu akan membuat berita acara tentang apa yang telah dilakukannya dan mengirimkannya ke Pengadilan Negeri.
Bila salah seorang dan suami isteri atau kedua-duanya bertempat tinggal di luar Indonesia, Pengadilan Negeri itu boleh memohon kepada seorang Hakim di negara tempat suami isteri itu berdiam, untuk memanggil kedua suami isterii atau satah seorang menghadap kepadanya dengan tujuan melakukan ikhtiar perdamaian, atau menugaskan hal itu kepada pejabat perwakilan Indonesia di wilayah tempat suami isteri itu berdiam. Berita acara yang dibuat mengenai hal itu harus dikirimkan kepada Pengadilan Negeri itu.
240. Pengadilan Negeri harus mengambil keputusan enam bulan setelah berlangsungnya pertemuan kedua. Ketentuan-ketentuan Pasal-pasal 230b dan 230c berlaku sama terhadap ibu dan bapak, yang tidak ditugaskan untuk melakukan kekuasaan orangtua.
241. Bila permohonan yang diajukan ditolak, paling lambat satu bulan setelah diberikan keputusan, suami isteri itu bersama-sama boleh mengajukan permohonan banding dengan surat permohonan.
242. Dengan pisah meja dan ranjang, perkawinan tidak dibubarkan, tetapi dengan itu suami isteri tidak lagi wajib untuk tinggal bersama.
243. Pisah meja dan ranjang selalu berakibat perpisahan harta, dan akan menimbulkan dasar untuk pembagian harta bersama, seakan-akan perkawinan itu dibubarkan.
244. Karena pisah meja dan ranjang, pengurusan suami atas harta isterinya ditangguhkan. Si isteri mendapat kembali kekuasaan untuk mengurus hartanya, dan dapat memperoleh kuasa umum dan Hakim untuk menggunakan barang-barangnya yang bergerak.
245. Putusan-putusan mengenai pisah meja dan ranjang harus diumumkan secara tenang-terangan. Selama pengumuman terang-terangan ini belum berlangsung, putusan tentang pisah meja dan ranjang tidak berlaku bagi pihak ketiga.
246. Ketentuan - ketentuan Pasal 210 sampai dengan 220, Pasal 222 sampai dengan 228, dan Pasal 231, berlaku juga terhadap pisah meja dan ranjang yang diminta oleh salah seorang dan suami isteri terhadap yang lain.
Setelah mengucapkan putusan tentang pisah meja dan ranjang, Pengadilan Negeri setelah mendengar dan memanggil dengan sah orangtua dan keluarga sedarah dan semenda anak-anak yang masih di bawah umur, harus menetapkan siapa dan kedua orangtua itu yang akan melakukan kekuasaan orang tua atas drin tiap-tiap anak, kecuali bila kedua orangtua itu telah dipecat atau dilepaskan dan kekuasaan orangtua, dengan mengindahkan putusan-putusan Hakim yang terdahulu yang mungkin telah memecat atau melepaskan mereka dan kekuasaan orangtua.
Ketetapan ini berlaku setelah hari putusan tentang pisah meja dan ranjang memperoleh kekuatan hukum yang pasti. Sebelum han itu tidak usah dilakukan pemberitahuan, dan perlawanan serta banding pun tidak diperbolehkan.
Terhadap penetapan ini, pihak orangtua yang tidak ditugaskan untuk melaksanakan kekuasaan orangtua, boleh melakukan perlawanan, bila atas panggilan termaksud dalam alinea kedua dia tidak menghadap. Perlawanan ini harus dilakukan dalam waktu tiga puluh hari setelah penetapan itu diberitahukan kepadanya. Pihak orangtua yang telah menghadap atas pemanggilan dan tidak ditugaskan untuk melakukan kekuasaan orangtua, atau yang perlawanannya ditolak, boleh mohon banding terhadap penetapan itu dalam waktu tiga puluh hari setelah hari termaksud dalam alinea ketiga. Ketentuan Pasal 230b dan Pasal 230c berlaku sama terhadap bapak dan ibu yang tidak diserahi tugas melakukan kekuasaan orangtua. Terhadap pemeriksaan para orangtua berlaku alinea keempat Pasat 206.
246a. Bila anak-anak yang masih di bawah umur itu belum berada dalam kekuasaan nyata orang yang berdasarkan Pasal 246 dan Pasal 246a diserahi tugas melaksanakan kekuasaan orangtua, atau dalarn kekuasaan bapak, ibu atau dewan perwalian yang mungkin diserahi anak-anak itu berdasarkan alinea pertama Pasal 246 dan sesuai dengan Pasat 214, maka dalam penetapan itu juga harus diperintahkan penyerahan anak-anak itu. Ketentuan-ketentuan alinea kedua, ketiga dan keempat serta kelima Pasat 319h dalam hal ini berlaku.
246b. Berdasarkan keadaan yang timbul setelah putusan pisah meja dan ranjang mendapat kekuatan hukum yang pasti, Pengadilan Negeri boleh mengadakan perubahan pada penetapan-penetapan, yang telah diberikan berdasarkan alinea kedua pasal yang lalu, atas permohonan kedua orangtua atau salah seorang dan mereka, setelah mendengar dan memanggil dengan sah kedua orangtua dan para keluarga sedarah atau semenda dan anak-anak yang masih di bawah umur. Penetapan ini boleh dinyatakan dapat dilaksanakan segera meskipun ada perlawanan atau banding, dengan atau tanpa jaminan.
Ketentuan alinea keempat dan kelima Pasal 206 dalam hal ini berlaku.
247. Blta setelah mempertimbangkan perjanjian yang dibicarakan dalam alinea pertama Pasal 237, Hakim mengabulkan permintaan pisah meja dan ranjang atas permohonan kedua suami isteri, maka pisah meja dam ranjang itu memperoleh segala akibat yang dijanjikan dalam perjanjian itu.
248. Pisah meja dan ranjang menurut hukum dengan sendirinya batal karena perdamian suami isteri, dan perdamaian ini menghidupkan kembali segala akibat dan perkawinan mereka, tanpa mengurangi berlangsungnya terus kekuatan perbuatan-perbuatan terhadap pihak-pihak ketiga, yang sekiranya telah dilakukan dalam tenggang waktu antara perpisahan itu dan perdamaiannya. Semua persetujuan suami isteri yang bertentangan dengan ini adalah batal.
249. Bila putusan yang menyatakan suami isteni pisah meja dan ranjang sudah diumumkan secara jelas, suami isteri itu tidak boleh menerapkan berlakunya akibat-akibat perdamaian mereka terhadap pihak ketiga, bila mereka tidak mengumumkan secara jelas, bahwa pisah meja dan ranjang itu telah tiada.
BAB XII
KEBAPAKAN DAN ASAL KETURUNAN
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Tionghoa, Tetapi Berlaku
Bagi Golongan Tionghoa)
BAGIAN
1 250.
Anak yang dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan, memperoleh
suami sebagai bapaknya. 251.
Sahnya anak yang dilahirkan sebelum hari keseratus delapan puluh
dari perkawinan, dapat diingkari oleh suami. Namun pengingkaran
itu tidak boleh dilakukan dalam hal-hal berikut: 1.
bila sebelum perkawinan suami telah mengetahui kehamilan itu; 2.
bila pada pembuatan akta kelahiran dia hadir, dan akta ini ditandatangani
olehnya, atau memuat suatu keterangan darinya yang berisi bahwa
dia tidak dapat menandatanganinya; 3.
bila anak itu dilahirkan mati. Dengan
menunjuk kepada kelemahan alamiah jasmaninya, suami tidak dapat
mengingkari anak itu sebagai anaknya. 253.
Suami tidak dapat mengingkari keabsahan anak atas dasar perzinaan,
kecuali bila kelahiran anak telah dirahasiakan terhadapnya, dalam
hal itu, dia harus diperkenankan untuk menjadikan hal itu sebagai
bukti yang sempurna, bahwa dia bukan ayah anak itu. 254.
Dia dapat mengingkari keabsahan seorang anak, yang dilahirkan tiga
ratus hari setelah putusan pisah meja dan ranjang memperoleh kekuatan
hukum yang pasti, tanpa mengurangi hak isterinya untuk mengemukakan
peristiwa-peristiwa yang cocok kiranya untuk menjadi bukti bahwa
suaminya adalah bapak anak itu. Bila
pengingkaran itu telah dinyatakan sah, perdamaian antara suami isteri
itu tidak menyebabkan si anak memperoleh kedudukan sebagai anak
yang sah. 255.
Anak yang dilahirkan tiga ratus hari setelah bubarnya perkawinan
adalah tidak sah. Bila
kedua orangtua seorang anak yang dilahirkan tiga ratus hari setelah
putusnya perkawinan kawin kembali satu sama lain, si anak tidak
dapat memperoleh kedudukan anak sah selain dengan cara yang sesuai
dengan ketentuan-ketentuan Bagian 2 bab ini. 256.
Dalam hal-hal yang diatur dalam Pasal-pasal 251, 252, 253, dan 254,
pengingkaran keabsahan anak harus dilakukan suami dalam waktu satu
bulan, bila dia berada di tempat kelahiran anak itu, atau di sekitar
itu; dalam waktu dua bulan setelah dia kembali, bila dia telah tidak
berada di situ; dalam waktu dua bulan setelah diketahuinya penipuan,
bila kelahiran anak itu telah disembunyikan terhadapnya. Semua
akta yang dibuat di luar Pengadilan, yang berisi pengingkaran suami,
tidak mempunyai kekuatan hukum, bila dalam dua bulan tidak diikuti
oleh suatu tuntutan di muka Hakim. Bila
suami, setelah melakukan pengingkaran dengan akta yang dibuat di
luar Pengadilan, meninggal dunia dalam jangka waktu tersebut di
atas, maka bagi para ahli warisnya terbuka jangka waktu baru selama
dua bulan untuk mengajukan tuntutan hukum mereka. 257.
Tuntutan hukum yang diajukan oleh suami itu gugur bila para ahli
waris tidak melanjutkannya dalam waktu dua bulan, terhitung dari
hari meninggalnya suami. 258.
Bila suami meninggal dia menerapkan haknya dalam hal ini, padahal
waktunya untuk itu masih berjalan, maka para ahli warisnya tidak
dapat mengingkari keabsahan anak itu selain dalam hal tersebut Pasal
252. Gugatan
untuk membantah keabsahan anak itu harus dimulai dalam waktu dua
bulan terhitung sejak anak itu memiliki harta benda suami, atau
sejak para ahli warisnya terganggu dalam memilikinya oleh anak.
259.
Dalam hal-hal di mana para ahli waris, berkenaan dengan pasal-pasal
256, 257, dan 258 mempunyai wewenang untuk memulai atau melanjutkan
suatu gugatan untuk membantah keabsahan seorang anak, mereka akan
memperoleh jangka waktu satu tahun, bila salah seorang atau lebih
dari mereka bertempat tinggal di luar negeri. Dalam
hal ada perang di laut, jangka waktu itu dilipat duakan. Dengan
S. 1946-67 yang berlaku 13 Juli 1946, ditentukan: (1)
Hakim yang menangani gugatan yang dilakukan atau memungkinkan dilakukan
untuk mengingkari keabsahan anak, berwenang sampai pada waktu yang
akan ditentukan oleh Presiden, untuk memperpanjang jangka waktu
yang diatur dalam pasal 256 sampai 259 Kitab Undang-undang Hukum
Perdata untuk mengingkari keabsahan seorang anak dengan akta yang
dibuat di luar pengadilan. untuk mengajukan suatu gugatan pengingkaran
semacam itu, atau untuk melanjutkan gugatan demikian dengan jangka
waktu tertentu, ataupun sampai saat tertentu, bila pengindahan jangka
waktu tersebut di atas karena keadaan- keadaan luar biasa, selayaknya
tidak dapat diharapkan. (2)
Perpanjangan waktu termaksud dalam ayat (1) boleh diberikan oleh
hakim karena jabatan. 260.
Semua gugatan untuk mengingkari keabsahan seorang anak harus ditujukan
kepada wali yang secara khusus diperbantukan kepada anak itu, dan
ibunya harus dipanggil dengan sah untuk sidang itu. 261.
Asal keturunan anak-anak sah dibuktikan dengan akta-akta kelahiran
yang didaftarkan dalam daftar-daftar Catatan Sipil. Bila
tidak ada akta demikian,cukuplah bila seorang anak telah mempunyai
kedudukan tak terganggu sebagai anak sah. 262.
Pemilikan kedudukan demikian dapat dibuktikan dengan peristiwa-peristiwa
yang, baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri, menunjukkan hubungan
karena kelahiran dan karena perkawinan antara orang tertentu dan
keluarga yang diakui olehnya, bahwa dia termasuk di dalamnya. Yang
terpenting dari peristiwa-peristiwa ini antara lain adalah: bahwa
orang-orang itu selalu memakai nama bapak yang dikatakannya telah
menurunkannya; bahwa
bapak itu telah memperlakukan dia sebagai anaknya, dan dia sebagai
anak telah diurus dalam hal pendidikan, pemeliharaan dan penghidupannya; bahwa
masyarakat senantiasa mengakui dia selaku anak bapaknya bahwa
sanak saudaranya mengakui dia sebagai anak bapaknya. 263.
Tiada seorang pun dapat menyandarkan diri pada kedudukan yang bertentangan
dengan kedudukan yang nyata dinikmatinya dan sesuai dengan akta
kelahirannya, dan sebaliknya tiada seorang pun dapat menyanggah
kedudukan yang dimiliki seorang anak sesuai dengan akta kelahirannya.
264.
Bila tidak ada akta kelahiran dan tidak nyata pemilikan kedudukan
yang tak terputus-putus, dan bila anak itu didaftarkan dengan nama-nama
palsu dalam daftar-daftar Catatan Sipil atau seakan-akan dilahirkan
dari bapak ibu yang tidak dikenal, maka asal keturunannya dapat
dibuktikan dengan saksi-saksi. Namun
pembuktian dengan cara demikian tidak boleh diperkenankan, kecuali
bila ada bukti permulaan tertulis, atau bila dugaan-dugaan atau
petunjuk-petunjuk dari peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dibantah
lagi kebenarannya, dapat dianggap cukup berbobot untuk memperkenankan
pembuktian demikian. 265.
Bukti permulaan tertulis adalah surat-surat ke luar, daftar-daftar
dan surat- surat rumah tangga bapak atau ibu, atau akta-akta notaris
atau akta-akta di bawah tangan yang berasal dari pihak-pihak yang
tersangkut dalam perselisihan, atau bila masih hidup, mereka yang
sedianya berkepentingan dalam perselisihan itu. 266.
Bukti lawan itu terdiri dari segala alat bukti yang cocok untuk
menunjukkan, bahwa orang yang menyandarkan diri pada asal keturunannya
bukan anak dari ibu yang diakuinya sebagai ibunya, atau juga bila
soal ibu telah dibuktikan bahwa dia bukan anak dari suami ibu itu.
267.
Hanya Hakim perdatalah yang berwenang untuk mengadili tuntutan-tuntutan
akan suatu kedudukan. 268.
Tuntutan pidana karena kejahatan penggelapan kedudukan tidak dapat
dilancarkan sebelum keputusan akhir atas sengketa mengenai kedudukan
itu diucapkan. Akan
tetapi kejaksaan bebas untuk melancarkan suatu tuntutan pidana seperti
itu, bila pihak-pihak yang berkepentingan tinggal diam, asalkan
ada bukti permulaan tertulis, sesuai dengan ketentuan Pasal 265,
dan pada permulaan pemeriksaan pidana telah dinyatakan adanya bukti
permulaan. 269.
Gugatan untuk menarik kembali kedudukan terhadap anak, tidak terkena
lewat ketentuan waktu. 270.
Para ahli waris anak yang tidak memperjuangkan kedudukannya, tidak
dapat melancarkan gugatan seperti itu, kecuali bila anak meninggal
waktu masih di bawah umur atau dalam tiga tahun setelah menjadi
dewasa. 271.
Namun para ahli waris dapat melanjutkan tuntutan hukum demikian,
bila hal itu telah dimulai oleh anak itu, kecuali bila anak itu
tidak melanjutkan tuntutannya selama tiga tahun sejak tindakan acara
yang terakhir dilakukan. 271a.
Orang yang gugatannya untuk memperjuangkan suatu kedudukan perdata
atau untuk mengingkari keabsahan seorang anak dikabulkan, setelah
putusan itu memperoleh kekuatan hukum yang pasti, harus menyeluruh
melakukan pendaftaran putusan itu dalam daftar kelahiran yang sedang
berjalan di tempat kelahiran anak itu didaftar. Hal ini harus diterangkan
pula pada margin akta kelahiran itu. BAGIAN
2 272.
Anak di luar kawin, kecuali yang dilahirkan dari perzinaan atau
penodaan darah, disahkan oleh perkawinan yang menyusul dari bapak
dan ibu mereka, bila sebelum melakukan perkawinan mereka telah melakukan
pengakuan secara sah terhadap anak itu, atau bila pengakuan itu
terjadi dalam akta perkawinannya sendiri. 273.
Anak yang dilahirkan dari orangtua, yang tanpa memperoleh dispensasi
dari Pemerintah tidak boleh kawin satu sama lainnya, tidak dapat
disahkan selain dengan cara mengakui anak itu dalam akta kelahiran.
274.
Bila orangtua, sebelum atau pada waktu melakukan perkawinan telah
lalai untuk mengakui anak di luar kawin, kelalaian mereka ini dapat
diperbaiki dengan surat pengesahan dari Presiden, yang diberikan
setelah mendengar nasihat Mahkamah Agung.
275.
Dengan cara yang sama seperti yang diatur dalam pasal yang lalu,
dapat juga disahkan anak di luar kawin yang telah diakui menurut
undang-undang:
1.
bila anak itu lahir dari orangtua, yang karena kematian salah seorang
dari mereka, perkawinan mereka tidak jadi dilaksanakan;
2.
bila anak itu dilahirkan oleh seorang ibu, yang termasuk golongan
Indonesia atau yang disamakan dengan golongan itu; bila ibunya meninggal
dunia atau bila ada keberatan-keberatan penting terhadap perkawinan
orang tua itu, menurut pertimbangan Presiden.
276.
Dalam hal-hal seperti yang dinyatakan dalam dua pasal yang tersebut
terakhir, Mahkamah Agung, bila menganggap perlu, sebelum memberikan
nasihatnya, harus mendengar atau memerintahkan untuk mendengar keluarga
sedarah si pemohon, dan bahkan dapat memerintahkan bahwa permohonan
pengesahan itu diumumkan dalam Berita Negara.
277.
Pengesahan anak, baik dengan menyusulnya perkawinan orangtuanya
maupun dengan surat pengesahan menurut Pasal 274, menimbulkan akibat,
bahwa terhadap anak-anak itu berlaku ketentuan undang-undang yang
sama, seakan-akan mereka dilahirkan dalam perkawinan itu.
278.
Dalam hal-hal yang diatur dalam Pasal 275, pengesahan itu hanya
berlaku mulai dari diberikannya surat pengesahan Presiden; hal itu
tidak boleh berakibat merugikan anak-anak sah sebelumnya dalam hal
pewarisan, demikian pula hal itu tidak berlaku bagi keluarga sedarah
lainya dalam hal pewarisan, kecuali bila mereka yang terakhir ini
telah menyetujui pemberian surat pengesahan itu. 279.
Dengan cara yang sama dan menurut ketentuan yang sama seperti yang
tercantum dalam pasal-pasal yang lalu, anak yang telah meninggal
dan meninggalkan keturunan, boleh juga disahkan; pengesahannya itu
berakibat menguntungkan keturunan itu.
BAGIAN
3 280.
Dengan pengakuan terhadap anak di luar kawin, terlahirlah hubungan
perdata antara anak itu dan bapak atau ibunya.
281.
Pengakuan terhadap anak di luar kawin dapat dilakukan dengan suatu
akta otentik, bila belum diadakan dalam akta kelahiran atau pada
waktu pelaksanaan perkawinan.
Pengakuan
demikian dapat juga dilakukan dengan akta yang dibuat oleh Pegawai
Catatan Sipil, dan didaftarkan dalam daftar kelahiran menurut hari
penandatanganan. Pengakuan itu harus dicantumkan pada margin akta
kelahirannya, bila akta itu ada.
Bila
pengakuan anak itu dilakukan dengan akta otentik lain, tiap-tiap
orang yang berkepentingan berhak minta agar hal itu dicantumkan
pada margin akta kelahirannya.
Bagaimanapun
kelalaian mencatatkan pengakuan pada margin akta kelahiran itu tidak
boleh dipergunakan untuk membantah kedudukan yang telah diperoleh
anak yang diakui itu.
282.
Pengakuan anak di luar kawin oleh orang yang masih di bawah umur
tidak ada harganya, kecuali jika orang yang masih di bawah umur
itu telah mencapai umur genap sembilan belas tahun, dan pengakuan
itu bukan akibat dari paksaan, kekeliruan, penipuan atau bujukan. Namun
anak perempuan di bawah umur boleh melakukan pengakuan itu, sebelum
dia mencapai umur sembilan belas tahun.
283.
Anak yang dilahirkan karena perzinaan atau penodaan darah (incest,
sumbang), tidak boleh diakui tanpa mengurangi ketentuan Pasal 273
mengenai anak penodaan darah. 284.
Tiada pengakuan anak di luar kawin dapat diterima selama ibunya
masih hidup, meskipun ibu itu termasuk golongan Indonesia atau yang
disamakan dengan golongan itu, bila ibu tidak menyetujui pengakuan
itu. Bila
anak demikian itu diakui setelah ibunya meninggal, pengakuan itu
tidak mempunyai akibat lain daripada terhadap bapaknya.
Dengan
diakuinya seorang anak di luar kawin yang ibunya termasuk golongan
Indonesia atau golongan yang disamakan dengan itu, berakhirlah hubungan
perdata yang berasal dari hubungan keturunan yang alamiah, tanpa
mengurangi akibat-akibat yang berhubungan dengan pengakuan oleh
ibu dalam hal-hal dia diberi wewenang untuk itu karena kemudian
kawin dengan bapak.
285.
Pengakuan yang diberikan oleh salah seorang dari suami isteri selama
perkawinan untuk kepentingan seorang anak di luar kawin, yang dibuahkan
sebelum perkawinan dengan orang lain dari isteri atau suaminya,
tidak dapat mendatangkan kerugian, baik kepada suami atau isteri
maupun kepada anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan itu. Walaupun
demikian, pengakuan yang dilakukan oleh bapak ibunya, demikian juga
semua tuntutan akan kedudukan yang dilakukan oleh pihak si anak,
dapat dibantah oleh setiap orang yang mempunyai kepentingan dalam
hal itu.
286.
Setiap pengkauan yang dilakukan oleh bapak atau ibu, begitupun setiap
tuntutan yang dilancarkan oleh pihak anak, boleh ditentang oleh
semua mereka yang berkepentingan dalam hal itu. 287.
Dilarang menyelidiki siapa bapak seorang anak. Namun
dalam hal kejahatan tersebut dalam Pasal 285 sampai dengan 288,
294, dan 332 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, bila saat dilakukannya
kejahatan itu bertepatan dengan saat kehamilan perempuan yang terhadapnya
dilakukan kejahatan itu, maka atas gugatan pihak yang berkepentingan
orang yang bersalah boleh dinyatakan sebagai bapak anak itu.
Dalam
hal itu, anak wajib melakukan pembuktian dengan saksi-saksi kecuali
bila telah ada bukti permulaan tertulis.
289.
Tiada seorang anak pun diperkenankan menyelidiki siapa bapak atau
ibunya, dalam hal-hal di mana menurut Pasal 283 pengakuan tidak
boleh dilakukan.
290. Kekeluargaan sedarah adalah pertalian kekeluargaan
antara orang-orang dimana yang seorang adalah keturunan dan yang
lain, atau antara orang-orang yang mempunyai bapak asal yang sama.
Hubungan kekeluargaan sedarah dihitung dengan jumlah
kelahiran, setiap kelahiran disebut derajat. 292. Dalam garis lurus, dibedakan garis
lurus ke bawah dan garis lurus ke atas.Yang pertama merupakan hubungan
antara bapak asal dan keturunannya dan yang terakhir adalah hubungan
antara seorang dan mereka yang menurunkannya. 293. Dalam garis lurus derajat-derajat antara
dua orang dihitung menurut banyaknya kelahiran; dengan demikian,
dalam garis ke bawah, seorang anak, dalam pertalian dengan bapaknya
ada dalam derajat pertama, seorang cucu ada dalam derajat kedua,
dan demikianlah seterusnya; sebaliknya dalam garis ke atas, seorang
bapak dan seorang kakek, sehubungan dengan anak dan cucu, ada dalam
derajat pertama dan kedua, dan demikianlah seterusnya. 294. Dalam garis menyimpang, derajat-derajat
dihitung dengan banyaknya kelahiran, mula-mula antara keluarga sedarah
yang satu dan bapak asal yang sama dan terdekat dan selanjutnya
antara yang terakhir ini dan keluarga sedarah yang lain; dengan
demikian, dua orang bersaudara ada dalam derajat kedua paman dan
keponakan ada dalam derajat ketiga, saudara sepupu ada dalam derajat
keempat, dan demikian seterusnya. 295. Kekeluargaan semenda adalah satu pertalian
kekeluargaan karena perkawinan, yaitu pertalian antara salah seorang
dari suami isteri dan keluarga sedarah dari pihak lain. Antara keluarga sedarah pihak suami dan keluarga
sedarah pihak isteri dan sebaliknya tidak ada kekeluargaan semenda.
296. Derajat kekeluargaan semenda dihitung
dengan cara yang sama seperti cara menghitung derajat kekeluargaan
sedarah. 297.
Dengan terjadinya suatu perceraian, kekeluargaan semenda antara
salah satu dari suami isteri dan para keluarga sedarah dari pihak
yang lain tidak dihapuskan. BAB XIV
BAGIAN 1 298. Setiap anak, berapa pun juga umurnya, wajib
menghormati dan menghargai orangtuanya. Orangtua wajib memelihara dan mendidik anak-anak
mereka yang masih di bawah umur. Kehilangan kekuasaan orangtua atau
kekuasaan wali tidak membebaskan mereka dari kewajiban untuk memberi
tunjangan menurut besarnya pendapat mereka guna membiayai pemeliharaan
dan pendidikan anak-anak mereka itu. Bagi yang sudah dewasa berlaku
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Bagian 3 bab ini. 299. Selama perkawinan orangtuanya, setiap anak
sampai dewasa tetap berada dalam kekuasaan kedua orangtuanya, sejauh
kedua orangtua tersebut tidak dilepaskan atau dipecat dari kekuasaan
itu. 300. Kecuali jika terjadi pelepasan atau pemecatan
dan berlaku ketentuan-ketentuan mengenai pisah meja dan ranjang,
bapak sendiri yang melakukan kekuasaan itu. Bila bapak berada dalam keadaan tidak mungkin untuk
melakukan kekuasaan orangtua, kekuasaan orangtua, kekuasaan itu
dilakukan oleh ibu, kecuali dalam hal adanya pisah meja dan ranjang.
Bila ibu juga tidak dapat atau tidak berwenang,
maka oleh Pengaditan Negeri diangkat seorang wali sesuai dengan
Pasal 359. 301. Tanpa mengurangi ketentuan
dalam hal pembubaran perkawinan setelah pisah meja dan ranjang,
perceraian perkawinan, serta pisah meja dan ranjang, orangtua itu
wajib untuk tiap-tiap minggu, tiap-tiap bulan dan tiaptiap tiga
bulan, membayar kepada dewan wali sebanyak yang
ditetapkan oleh Pengadilan Negeri atas tuntutan dewan itu, untuk
kepentingan pemeliharaan dan pendidikan anak mereka yang di bawah
umur, pun sekiranya mereka tidak mempunyai kekuasaan orangtua atau
perwalian atas anak itu dan tidak dibebaskan atau dipecat dari itu.
302. Bila bapak atau ibu yang melakukan kekuasaan
orangtua mempunyai alasan-alasan yang sungguh - sungguh untuk merasa
tidak puas akan kelakuan anaknya, maka Pengadilan Negeri, atas permohonannya
atau atas permohonan dewan wali, asal dewan ini diminta olehnya
untuk itu dan melakukannya untuk kepentingannya, boleh memerintahkan
penampungan anak itu selama waktu tertentu dalam suatu lembaga negara
atau swasta yang ditunjuk oleh Menteri Kehakiman. Penampungan ini
dibiayai oleh anak itu; penampungan itu tidak boleh diperintahkan
untuk lebih lama dari enam bulan berturut-turut, bila pada waktu
penetapan itu anak belum mencapai umur empat belas tahun, atau bila
pada waktu penetapan itu dicapai umur tersebut, paling lama satu
tahun dan sekali-kali tidak boleh melewati saat dia mencapai kedewasaan.
Pengadilan Negeri tidak boleh memerintahkan penampungan
sebelum mendengar dewan perwalian dan dengan tidak mengurangi ketentuan
alinea pertama Pasal 303, sebelum mendengar anak itu; bila orangtua
yang satu lagi tidak kehilangan kekuasaan orangtua, maka dia pun
harus didengar lebih dahulu setidak-tidaknya dipanggil dengan sah.
Alinea keempat Pasal 206 berlaku terhadap pemeriksaan tersebut terakhir.
303. Bila anak itu tidak menghadap untuk didengar
pada hari yang ditentukan, Pengadilan Negeri harus menunda pemeriksaan
itu sampai hari yang kemudian ditentukan, dan harus memerintahkan
agar hari itu anak dibawa kehadapannya oleh juru sita atau polisi;
penetapan ini dilaksanakan atas perintah kejaksaan; bila ternyata
hari itu anak tidak menghadap, maka Pengadilan Negeri tanpa mendengar
anak, boleh memerintahkan penampungan atau menolaknya. Dalam hal ini tidak usah diindahkan tertib acara
selanjutnya, kecuali perintah untuk penampungan yang tidak usah
dinyatakan alasan-alasannya. Apabila Pengadilan dalam penetapannya memutuskan,
bahwa orang yang melakukan kekuasaan orangtua dan anak itu tidak
mampu membiayai penampungan itu, maka segala biaya dibebankan kepada
negara. Penetapan yang memerintahkan penampungan itu harus
dilaksanakan atas perintah kejaksaan atas permohonan orang yang
melakukan kekuasaan orangtua. 304. Dengan penetapan Menteri Kehakiman, anak itu
sewaktu-waktu boleh dilepaskan dan lembaga seperti yang dimaksud
Pasal 302, bila alasan penampungan itu tidak ada lagi atau bila
keadaan jasmaninya atau keadaan rohaninya tidak mengizinkan untuk
tinggal lebih lama lagi di situ. Orang yang menjalankan kekuasaan
orangtua tetap bebas untuk memperpendek waktu penampungan yang ditentukan
dalam perintah. Untuk perpanjangan, harus diindahkan lagi apa yang
ditentukan dalam Pasal 302 dan 303. Pengadilan Negeri hanya boleh memerintahkan perpanjangan
itu setiap kali untuk jangka waktu yang lebih dan enam bulan berturut-turut,
perintah itu tidak boleh diberikan sebelum kepala lembaga tempat
anak tinggal waktu permohonan untuk perpanjangan diajukan, atau
orang yang menggantikannya didengar atas permohonan itu, jika perlu
secara tertulis. 305. Dihapus dengan S. 1927- 31 jis. 390,421. 306. Anak di luar kawin yang diakui sebagai sah
sama sekali berada di bawah perwalian. Pasal 298 berlaku baginya. Ketentuan Pasal 301 berlaku bagi orang yang telah
mengakui anak luar kawin yang belum dewasa, bila ía tidak melakukan
kekuasaan perwalian atas anak itu tanpa dibebaskan atau dipecat
dari itu. BAGIAN 2 Akibat-akibat Kekuasaan Orangtua Terhadap Barang-barang Anak 307. Orang yang melakukan kekuasaan orangtua terhadap
seorang anak yang masih di bawah umur, harus mengurus barang-barang
kepunyaan anak tersebut, dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal
237 dan alinea terakhir Pasal 319e. Ketentuan ini tidak berlaku terhadap barang-barang
yang dihibahkan atau diwasiatkan kepada anak-anak, baik dengan akta
antar yang sama-sama masih hidup maupun dengan surat wasiat, dengan
ketentuan bahwa pengurusan atas barang-barang itu akan dilakukan
oleh seorang pengurus atau lebih yang ditunjuk untuk itu di luar
orang yang melakukan kekuasaan orangtua. Bila pengurusan yang diatur demikian, karena alasan
apa pun juga sekiranya hapus, maka barang-barang termaksud beralih
pengelolaannya kepada orang yang melakukan kekuasaan orangtua. Meskipun ada pengakatan pengurus-pengurus khusus
seperti di atas, orang yang melakukan kekuasaan orangtua mempunyai
hak untuk minta perhitungan dan pertanggungjawaban dari orang-orang
tersebut selama anaknya belum dewasa. 308. Orang yang berdasarkan kekuasaan orangtua
wajib mengurus barang-barang anak-anaknya, harus bertanggung jawab,
baik atas hak milik barang-barang itu maupun atas pendapatan dari
barang-barang demikian yang tidak boleh dinikmatinya. Mengenai barang-barang yang hasilnya menurut undang-undang
boleh dinikmatinya, ia hanya bertanggung jawab atas hak miliknya.
309. Dia tidak boleh memindahtangankan barang-barang
anak-anaknya yang masih di bawah umur, kecuali dengan mengindahkan
peraturan-peraturan yang diatur dalam Bab XV Buku Pertama mengenai
pemindahtanganan barang-barang kepunyaan anak-anak di bawah umur.
310. Dalam hal-hal di mana dia mempunyai kepentingan
yang bertentangan dengan kepentingan anak-anaknya yang masih di
bawah umur, maka anak-anak ini harus diwakili oleh pengampu khusus
yang diangkat untuk itu oleh Pengadilan Negeri. 311. Bapak atau ibu yang melakukan kekuasaan orangtua
atau perwalian, berhak menikmati hasil dan barang-barang anak-anaknya
yang belum dewasa. Dalam hal orangtua itu, baik bapak maupun ibu,
dilepaskan dari kekuasaan orangtua atau perwalian, kedua orangtua
itu berhak untuk menikmati hasil dan kekayaan anak-anak mereka yang
masih di bawah umur. Pembebasan bapak atau ibu yang melakukan kekuasaan
orangtua atau perwalian, sedang orangtua yang lainnya telah meninggal
atau dibebaskan atau dipecat dan kekuasaan orangtua atau perwalian
tidak berakibat terhadap hak menikmati hasil. 312. Dengan hak menikmati hasil itu, terkait kewajiban-kewajiban: 1. hal-hal yang diwajibkan bagi pemegang hak pakai
hasil. 2. pemeliharaan dan pendidikan anak-anak itu, sesuai
dengan harta kekayaan mereka yang disebut terakhir; 3. pembayaran semua angsuran dan bunga atas uang
pokok; 4. biaya penguburan anak. 313. Hak menikmati hasil tidak terjadi: 1. terhadap barang-barang yang diperoleh anak -
anak itu sendiri dari pekerjaan dan usaha sendiri: 2. terhadap barang-barang yang dihibahkan dengan
akta semasa pewaris masih hidup atau dihibahkan dengan wasiat kepada
mereka, dengan persyaratan tegas, bahwa kedua orangtua mereka tidak
berhak menikmati hasilnya. 314. Hak menikmati hasil terhenti dengan kematian
anak - anakitu. 315. Bapak atau ibu yang hidup terlama, sekiranya
telah lalai untuk menyelenggarakan pendaftaran sesuai dengan Pasal
127, oleh kelalaian itu kehilangan hak menikmati hasil atas seluruh
barang-barang kepunyaan anak-anaknya yang masih di bawah umur. 316. 317. Dihapus dengan S. 1927 - 31 jis. 390,421.
318. Bila hak menikmati hasil itu hilang berdasarkan
Pasal 315, Pengadilan Negeri menetapkan pembayaran kepada orangtua
yang hidup terlama suatu tunjangan tahunan dan pendapatan anak-anaknya
agar dipergunakan untuk mengajukan pendidikan mereka selama mereka
masih di bawah umur. 319. Bapak atau ibu
anak-anak di luar kawin yang diakui secara sah, tidak
mempunyai hak menikmati hasil atas barang-barang kepunyaan anak-anak
itu. BAGIAN 2 A Pembebasan dan Pemecatan dan Kekuasaan Orangtua (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa) 319a. Bapak atau ibu yang melakukan kekuasaan orangtua
dapat dibebaskan dan kekuasaan orangtua, baik terhadap semua anak-anak
maupun terhadap seorang anak atau lebih, atas permohonan dewan perwalian
atau atas tuntutan kejaksaan, bila ternyata bahwa dia tidak cakap
atau tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk memelihara dan mendidik
anak-anaknya dan kepentingan anak-anak itu tidak berlawanan dengan
pembebasan mi berdasarkan hal lain. Bila Hakim menganggap perlu untuk kepentingan anak-anak,
masing-masing dan orangtua, sejauh belum kehilangan kekuasaan orangtua,
boleh dipecat dan kekuasaan orangtua, baik terhadap semua anak maupun
terhadap seorang anak atau lebih, atas permohonan orangtua yang
lainnya atau salah seorang keluarga sedarah atau semenda dan anak-anak
itu, sampai dengan derajat keturunan keempat, atau dewan perwalian,
atau Kejaksaan atas dasar: 1. menyalahgunakan kekuasaan orangtua atau terlalu
mengabaikan kewajiban memelihara dan mendidik seorang anak atau
lebih; 2. berkelakuan buruk; 3. dijatuhi hukuman yang tidak dapat ditarik kembali
karena sengaja ikut serta dalam suatu kejahatan dengan seorang anak
yang masih di bawah umur yang ada dalam kekuasaannya; 4. dijatuhi hukuman yang tidak dapat ditarik kembali
karena melakukan kejahatan yang tercantum dalam Bab 13, 14, 15,
18, 19, dan 20, Buku Kedua Kitab Undang-undang Hukum Pidana, terhadap
seorang di bawah umur yang ada dalam kekuasaannya; 5. dijatuhi hukuman badan yang tidak dapat ditarik
kembali untuk dua tahun atau lebih. Dalam pasal ini pengertian kejahatan meliputi juga
keikutsertaan membantu dan percobaan melakukan kejahatan. 319b. Permohonan atau tuntutan yang dimaksud dalam
pasal yang lalu, harus memuat peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan
yang menjadi dasarnya, dan diajukan bersama dengan surat-surat yang
diperlukan sebagai bukti kepada Pengadilan Negeri di tempat tinggal
orangtua yang dimintakan pembebasannya atau pemecatannya, atau bila
tidak ada tempat tinggal yang demikian, kepada pengadilan negeri
di tempat tinggalnya yang terakhir, atau bila permohonan atau tuntutan
itu mengenai pembebasan atau pemecatan salah seorang dan orangtua
yang diserahi tugas melakukan kekuasaan orangtua setelah pisah meja
dan ranjang. Dalam permohonan atau tuntutan itu oleh Panitera Pengadilan
harus dicatat terlebih dahulu pengajuannya. Kemudian salman permohonan
atau tuntutan itu beserta surat-surat tersebut di atas harus disampaikan
secepatnya oleh panitera Pengadilan Negeri kepada dewan perwalian,
kecuali bila permohonan atau tuntutan untuk pelepasan atau pemecatan
itu diajukan oleh dewan perwalian sendiri. Dalam permohonan atau tuntutan akan pembebasan,
sedapat-dapatnya diberitahukan juga dengan cara bagaimana kekuasaan
orangtua atau perwaliannya harus diatur, dan dalam setiap permohonan
atau tuntutan termaksud dalam pasal yang lalu, harus disebut juga
nanta kedua orangtua, tampat tinggal dan tempat kediaman mereka
sejauh hal mi diketahui, nama dan tempat tinggal keluarga sedarah
atau semenda, yang menurut Pasal 333 harus dipanggil, demikian pula
nama dan tempat tinggal para saksi yang sekiranya dapat membuktikan
peristiwa-peristiwa yang dikemukakan dalam permohonan atau tuntutan
tersebut. Pembebasan tidak boleh diperintahkan, bila orang
yang melakukan kekuasaan orangtua menentangnya. 319c. Pengadilan Negeri mengambil keputusan, setelah
mendengar atau memanggil dengan sah kedua orangtua dan keluarga
sedarah atau semenda anak itu dan setelah mendengar dewan perwalian.
Pengadilan Negeri boleh memerintahkan supaya saksi-saksi yang ditunjuk
dan dipiih olehnya, baik dan keluarga sedarah atau semenda maupun
dan luar mereka, dipanggil untuk didengar di bawah sumpah. Bila kedua orangtua atau saksi-saksi yang harus
didengar bertempat tinggal di luar daerah hukum pengadilan negeri,
maka tugas mendengar itu boleh diimpahkan dengan cara seperti yang
ditentukan bagi keluarga sedarah atau semenda dalam Pasal 333. Anak kalimat terakhir alinea keempat Pasal 206
berlaku juga bagi kedua orangtua. 319d. Semua panggilan dilakukan dengan cara seperti
yang ditentukan dalam Pasal 333 bagi keluarga sedarah dan semenda,
tetapi bila harus dilakukan panggilan terhadap seseorang yang tempat
tinggalnya tidak diketahui, hal itu harus segera dipasang oleh Panitera
dalam satu atau beberapa surat kabar yang ditunjuk oleh Pengadilan
Negeri itu. Panggilan terhadap orang yang pembebasannya atau pemecatannya
dan kekuasaan orangtua dimohon atau dituntut, harus disertai keterangan
singkat tentang isi permohonan atau tuntutan itu, kecuali bila tempat
tinggalnya tidak diketahui. Bila perlu Pengadilan Negeri boleh juga mendengar
orang-orang selain mereka yang telah ditunjuk, sebagai saksi di
bawah sumpah, pula orang-orang yang telah menghadap pada han yang
ditentukan itu, dan boleh pula menetapkan akan memeriksa saksi-saksi
lebih lanjut; saksi-saksi terakhir ini harus ditunjuk dalam penetapan
itu dan harus dipanggil dengan cara yang sama. 319e. Selama pemeriksaan, setiap penduduk Indonesia
yang berwenang untuk melakukan perwalian itu dan setiap pengurus
perkumpulan, yayasan dan lembaga amal boleh mengajukan permohonan
kepada pengadilan negeri supaya ditugaskan memangku perwalian itu.
Pengadilan Negeri boleh memerintahkan pemanggilan mereka untuk didengar
tentang surat permohonan itu. Alinea keempat Pasal 206 berlaku terhadap
pemeriksaan orang-orang tersebut. Jika permohonan atau tuntutan itu dikabulkan, suami
atau isteri orang yang dibebaskan atau dipecat dan kekuasaan orangtua,
dengan sendinnya menurut hukum harus melakukan kekuasaan orangtua,
kecuali bila dia juga telah dibebaskan atau dipecat. Namun demikian, atas permohonan dewan perwalian.
atau atas tuntutan Kejaksaan atau karena jabatan, Pengadilan Negeri
boleh membebaskannya juga dan kekuasaan orangtua, bila ada alasan
untuk itu. Terhadap pembebasan mi berlaku alinea terakhir Pasal
319b. Bila terjadi pembebasan seperti itu, demikian pula
bila suami atau isterinya juga telah dibebaskan atau dipecat dan
kekuasaan orangtua, maka pengadilan negeri harus mengadakan perwalian
bagi anak-anak yang terlepas dan kekuasaan orangtua. Dalam penetapan tentang pembebasan atau pemecatan
itu, orangtua yang kehilangan kekuasaan orangtua, harus dijatuhi
hukuman memberikan perhitungan dan pertanggungjawaban kepada istermya
atau suaminya, atau kepada dewan perwalian. Bila anak-anak yang diserahkan kepada kekuasaan
orangtua atau perwalian beberapa orang, mempunyai hak milik bersama
atas barang-barang maka Pengadilan Negeri boleh menunjuk salah seorang
dan mereka atau orang lain untuk mengurus barang-barang itu, dengan
jaminan-jaminan yang ditetapkan Pengadilan Negeri, sampai diadakan
pemisahan dan pembagian menurut Bab 17 Buku Kedua. 319f. Pemeriksaan perkara ini berlangsung dalam
sidang tertutup. Keputusan beserta alasan-alasannya harus diucapkan
di muka umum sesegera mungkm setelah pemeriksaan terakhir; keputusan
ini boleh dinyatakan dapat dilaksanakan segera meskipun ada perlawanan
atau banding, dengan atau tanpa jaminan, dan semuanya atas naskah
aslinya. Bila orang yang dimohon atau dituntut pembebasannya
atau pemecatannya itu atas panggilan tidak datang, maka ia boleh
mengajukan perlawanan dalam tiga puluh han setelah keputusan atau
akta yang dibuat berdasarkan hal itu atau yang dibuat untuk malaksanakan
hal itu disampaikan kepadanya, atau setelah ia melakukan suatu perbuatan
yang talc dapat tidak memberi kesimpulan bahwa keputusan atau permulaan
pelaksanaannya telah diketahui olehnya. Orang yang permohonannya atau Kejaksaan yang tuntutannya
untuk pembebasan atau pemecatan dan kekuasaan orangtua ditolak,
dan orang yang dibebaskan atau dipecat dan kekuasaan orangtua kendati
telah menghadap setelah dipanggil, demikian pula orang yang perlawanannya
ditolak, boleh naik banding dalam waktu tiga puluh han setelah keputusan
diucapkan. Bila tujuan permohonan atau tuntutan itu adalah
pembebasan atau pemecatan dan kekuasaan orangtua, maka selama pemeriksaan
Pengadilan Negeri bebas untuk menghentikan sementara pelaksanaan,
kekuasan orang tua, seluruhnya atau sebagian dan menyerahkan wewenang
atas din dan barang-barang anak-anak itu, sekiranya Pengadilan Negeri
menganggap hal itu perlu, kepada suami atau isteri orang yang digugat,
atau kepada orang yang ditunjuk oleh dewan perwalian, atau kepada
dewan perwalian. Terhadap penetapan termaksud dalam alinea yang
lalu tidak diperkenankan mengajukan perlawanan atau naik banding.
Penetapan itu tetap berlaku sampai keputusan tentang pemecatan memperoleh
kekuatan hukum yang pasti. Biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak
di bawah umur, yang menurut alinea kelima harus dikeluarkan oleh
orang yang ditunjuk oleh pengadilan negeri, atau oleh dewan perwalian,
boleh diambil dan harta kekayaan dan pendapatan anak-anak yang masih
di bawah umur, dan jika anak-anak itu tidak mampu, dan harta kekayaan
dan pendapatan orangtua mereka; kedua orangtua ini bertanggung jawab
atas biaya-biaya itu secara tanggung-menanggung. Orang yang mengajukan tuntutan di muka Hakim untuk
perhitungan dan pertanggungjawaban demikian, harus dianggap telah
mendapat izin dan Hakim untuk berperkara secara cuma-cuma. Ketentuan
ini tidak berlaku bagi orang yang pernah mengajukan tuntutan demikian
tetapi ditolak tuntutannya. 319g. Orang yang telah dilepaskan atau dipecat
dan kekuasaan orangtua, balk atas permohonan sendiri ataupun atas
permohonan mereka yang berwenang untuk memohon pembebasan atau pemecatan
menurut Pasal 319a, atau atas tuntutan kejaksaan, bo!eh diberi kekuasaan
orangtua kembali atau diangkat menjadi wali atas anakanaknya yang
masih di bawah umur, bila ternyata bahwa peristiwa-peristiwa yang
telah mengakibatkan pembebasan atau pemecatan, tidak lagi menjadi
halangan untuk pemulihan atau pengangkatan itu. Demikian pula orang
yang telah dibebaskan atau dipecat dan perwalian atas anak-anaknya
sendiri dan kemudian kawin kembali dengan suami atau isteri yang
dahulu, selama perkawinan itu, boleh diberi kekuasaan orangtua kembali.
Permohonan atau tuntutan untuk itu harus diajukan kepada Pengadilan
Negeri yang dulu menangani permohonan atau tuntutan untuk pembebasan
atau pemecatan, kecuali bila yang dibebaskan atau dipecat itu pisah
meja dan ranjang, atau perkawinannya dibubarkan oleh perceraian
perkawinan atau setelah pisah meja dan ranjang; dalam hal kekecualian
mi, semua permohonan atau tuntutan harus diajukan kepada Pengadilan
Negeri yang telah menangani permohonan atau tuntutan untuk pisah
meja dan ranjang, perceraian atau pembubaran perkawinan. Pengadilan Negeri, sebelum mengambil keputusan,
harus mendengar atau memanggil dengan sah, jika mungkin, kedua orangtua,
keluarga sedarah atau semenda dan anak-anak, beserta dewan perwalian;
bila anak-anak itu berada di bawah perwalian, yang harus didengar
atau dipanggil dengan sah adalah wall atau pengurus perkumpulan,
yayasan atau lembaga amal yang ditugaskan melakukan perwalian, dan
wali pengawasannya. Bila perlu, Pengadilan Negeri boleh memerintahkan
agar saksi-saksi yang dipilih, baik dan keluarga sedarah maupun
dan keluarga semenda, didengar di bawah sumpah. Bila saksi-saksi yang harus didengar itu bertempat
tinggal atau berkediaman di luar daerah hukum Pengadilan Negeri
yang memeriksa permintaan, maka pemeriksaan boleh dilimpahkan dengan
cara seperti yang ditentukan dalam Pasal 333 terhadap keluarga sedarah
dan semenda. Ketentuan dalam anak kalimat terakhir dan alinea keempat
Pasal 206 berlaku kecuali bagi para saksi. Pemeriksaan perkara ini dilakukan dalam sidang
tertutup. Keputusan beserta alasan-alasannya hanus diucapkan dimuka
umum. Keputusan itu boleh dinyatakan dapat dilaksanakan segera meskipun
ada perlawanan atau banding, dengan atau tanpa jaminan, semuanya
atas naskah aslinya. Terhadap keputusan yang mengabulkan permohonan
atau tuntutan, orangtua yang dengan itu kehilangan kekuasaan orangtua
atau perwaliannya, bila ia telah tidak menghadap atas panggilan,
boleh melakukan perlawanan dalam tiga puluh han setelah keputusan
itu atau suatu akta yang dibuat berdasarkan hal itu atau untuk pe!aksanaannya
telah disampaikan kepadanya secara pribadi, atau setelah ia melakukan
suatu perbuatan yang tak dapat tidak memberi kesimpulan bahwa keputusan
itu atau pelaksanaannya yang telah dimulai diketahui olehnya. Dalam waktu tiga puluh han setelah keputusan diucapkan,
permohonan banding boleh diajukan oleh orang yang permohonannya
ditolak, atau oleh Kejaksaan yang tuntutannya ditolak, serta oleh
orang yang telah did engar dan meskipun menentangnya, terhad apnya
permohonan dan tuntutan itu dikabulkan. 319h. Bila anak-anak yang masih di bawah umur tidak
nyata-nyata berada dalain kekuasaan orang atau pengurus perkumpulan,
yayasan atau lembaga ama!, yang mendapat tugas melakukan kekuasaan
orangtua atau perwalian berdasarkan keputusan hakim termaksud dalam
bagian mi, atau dalam kekuasaan orangtua atau dewan perwalian yang
mungkin kepadanya anak-anak itu dipercayakan berdasarkan penetapan
termaksud dalam Pasal 319f, alinea kelima, maka da!am keputusan
itu juga harus diperintahkan penyerahan anak-anak itu kepada pihak
yang berdasarkan keputusan itu mendapat kekuasaan atas anak-anak
yang masih di bawah umur itu. Bi!a orang yang memegang kekuasaan nyata atas anak-anak
yang di bawah umur itu menolak untuk menyerahkan anak-anak itu,
maka pihak yang menurut keputusan hakim mendapat kekuasaan atas
anak-anak itu, dapat berusahaagar penyerahan dilakukan oleh juru
sita yang diserahi tugas olehnya untuk melaksanakan keputusan itu.
Keputusan itu tidak boleh dilaksanakan sebelum
disampaikan kepada pihak yang kekuasaannya atas anakanak itu dicabut,
serta kepada pihak yang kekuasaannya yang nyata anak-anak di bawah
umur itu berada. Keputusan itu tidak boleh dilaksanakan sebelum
disampaikan kepada pihak yang kekuasaannya at4s anak-anak itu dicabut,
serta kepada pihak yang dalam kekuasaannya yang nyata anak-anak
di bawah umur itu berad a. Bila terjadi perlawanan secara nyata, juru sita
boleh meminta bantuan Polisi. Juru sita boleh memasuki setiap tempat anak-anak
yang di bawah umur berada atau diperkirakan berada; tetapi bila
anak-anak yang di bawah umur itu berada atau diperkirakan berada
dalam rumah, yang di!arang oleh penghuninya dimasuki atau yang pintu-pintunya
terkunci, juru sita boleh menghubungi kepala daerah setempat, atau
pegawai yang ditunjuk oleh kepala daerah itu, dan dalam kehadirannya
masuk ke dalam rumah itu. Kehadiran kepala daerah atau seorang pegawai
dan apa yang dilakukan dalam kehadirannya berdasarkan pasal im,
harus dicantumkan dalam berita acara pelaksanaan yang harus ditandatangani
juga o!ehnya. 319i. Kejaksaan, baik jika terjadi peristiwa yang
dapat menjadi alasan untuk mengadakan pemecatan dan kekuasaan orangtua,
maupun jika ada anak di bawah umur yang terlantar atau tanpa pengawasan,
berhak mempercayakan anak di bawah umur itu untuk sementara kepada
dewan perwalian. sampai pengadilan mengangkat seorang pemangku kekuasaan
orangtua atau perwalian, atau sampai pengadilan menetapkan tidak
perlu diadakan pengangkatan dan ketetapan ini mendapat kekuatan
tetap. Ketentuan alinea ketujuh dan kedelapan Pasal 319f berlaku
dalam hal ini. Bila Kejaksaan mempergunakan wewenang termaksud
di atas sebelum mengajukan permohonan atau tuntutan untuk pemecatan
itu, kepada Hakim dan wajib mengajukan tuntutan itu sesegera mungkin.
Perintah untuk menyerahkan pengawasan anak yang
di bawah umur kepada dewan perwalian, menghentikan pelaksanaan kekuasaan
orangtua sejauh hal itu mengenai din anak itu. Bila pihak yang bersangkutan menolak untuk menyerahkan
anak yang masih di bawah umur itu kepada dewan perwalian, maka Kejaksaan
berhak memerintahkan juru sita membawa anak itu kepada dewan perwalian
atau memerintahkan polisi untuk melaksanakan surat perintahnya.
Ketentuan alinea ketiga, keempat dan kelima Pasal 319h berlaku juga
dalam hal ini. 319j. Orang yang dibebaskan atau dipecat dan kekuasaan
orangtua, wajib memberi tunjangan kepada dewan perwalian untuk biaya
pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang telah ditarik dan kekuasaannya,
setiap minggu, setiap bulan, atau setiap tiga bulan, sebesar jumlah
yang ditentukan oleh Pengadilan Negeri atas permohonan dewan perwalian.
Bila penentuan tunjangan itu telah dimohon oleh
dewan perwalian dalam permohonan untuk pelepasan atau pemecatan
dan kekuasaan orangtua kepada Pengadilan Negeri, atau telah dimohon
selama berjalan pemeriksaan temaksud dalam Pasal 319e, maka Pengadilan
harus menentukan tunjangan itu dalam penetapan yang menyatakan pelepasan
atau pemecatan 319k. Setiap keputusan yang mengandung pembebasan
atau pemecatan dan kekuasaan orangtua, harus segera diberitahukan
oleh panitera berupa salinan kepada pihak yang menerima kekuasaan
orangtua itu atau kepada pihak yang ditugaskan untuk melakukan perwalian,
demikian pula kepada dewan perwalian. Pemberitahuan yang sama harus dilakukan oleh panitera
tentang penetapan-penetapan Pengadilan termaksud dalam Pasal yang
lalu. 3191. Dihapus dengan S. 1938 - 622. 319m. Segala surat-surat permohonan, tuntutan,
penetapan. pemberitahuan dan semua surat lain yang dibuat untuk
memenuhi ketentuan-ketentuan dalam bagian ini, bebas dan materai.
Segala permohonan termaksud dalam bagian ini, yang
diajukan oleh dewan perwalian, harus diperiksa oleh Pengadilan Negeri
dengan cuma-cuma, dan salinan-salinan yang diminta oleh dewan-dewan
itu untuk salinan-salinan yang diperintahkan kepadanya, harus diberikan
oleh panitera kepada mereka secara bebas dan segala biaya. BAGIAN 3 Kewajiban-kewajiban Timbal Balik Antara Kedua
Orangtua atau Keluarga Sedarah dalam Garis ke Atas dan Anak-anak Beserta Keturunan (Tidak Berlaku bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa,
Tetapi Berlaku bagi Golongan Tionghoa) 320. Anak tidak berhak menuntut kedudukan yang
tetap dan orangtuanya dengan cara menyediakan segala sesuatu untuk
itu sebelum ia kawin, atau dengan cara lain. 321. Setiap anak wajib memberi nafkah orangtua
dan keluarga sedarahnya dalam garis ke atas, bila mereka mi dalam
keadaan miskin. 322. Menantu laki-laki dan perempuan juga dalam
hal-hal yang sama wajib memberi nafkah kepada mertua mereka. tetapi
kewajiban im berakhir: 1. bila ibu mertua melangsungkan perkawinan kedua.
2. bila suami atau isteri yang menimbulkan hubungan
keluarga semenda itu, dan anak-anak dan perkawinan dengan isteri
atau suaminya telah meninggal dunia. 323. Kewajiban-kewajiban yang timbul dan ketentuan-ketentuan
dua pasal yang lalu berlaku timbal balik. 324. dan 325. Dihapus dengan S. 1938-622. 326. Bila orang yang wajib memberi nafkah itu membuktikan
bahwa ia tidak mampu menyediakan uang untuk itu, Pengadilan Negeri
dapat memerintahkan, setelah menyelidiki duduknya perkara, agar
dia membawa orang yang wajib dipeliharanya ke rumahnya dan menyediakan
kebutuhannya di sana. 327. Bila bapak atau ibu menawarkan untuk memberi
nafkah dan memelihara dirumahnya anak yang wajib diberinya nafkah,
maka ia karena itu terbebas dan keharusan untuk memenuhi kewajiban
itu dengan cara lain. 328. Anak di luar kawin yang diakui menurut undang-undang
wajib memelihara orangtuanya. Kewajiban ini berlaku timbal-balik. 329. Perjanjian-perjanjian di mana dilepaskan hak
untuk menikmati nafkah adalah batal dan tidak berlaku. BAB XIVA 329a.
Nafkah yang diwajibkan menurut buku ini, termasuk yang diwajibkan
untuk pemeliharaan dan pendidikan seorang anak di bawah umur, harus
ditentukan menurut perbandingan kebutuhan pihak yang berhak atas
pemeliharaan itu, dengan pendapatan dan kemampuan pihak yang wajib
membayar, dihubungkan dengan jumlah dan keadaan orang-orang yang
menurut buku ini menjadi tanggungannya.
329b. Penetapan mengenai tunjangan, atas tuntutan pihak yang
dihukum untuk membayar nafkah atau atas tuntutan pihak yang harus
diberi nafkah, boleh diubah atau dicabut oleh Hakim.
Perubahan atau pencabutan itu harus didasarkan atas pertimbangan,
bahwa perbandingan nyata antara kebutuhan orang yang berhak atas
nafkah itu di satu pihak dan pendapatan dan kekayaan orang yang
dihukum untuk membayar sehubungan dengan beban-beban yang menjadi
tanggungannya di lain pihak, sejak saat penetapan itu diberikan
telah berubah sedemikian mencolok, sehingga seandainya perbandingan
yang berubah ini ada pada saat tersebut, maka penetapan itu sedianya
akan lain.
Dengan cara sama, peraturan yang telah dimufakati oleh kedua pihak
mengenai nafkah yang diwajibkan berdasarkan buku ini, boleh diubah
atau dicabut oleh Hakim. BAB XV
330.Yang belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur
genap dua puluh satu tahun dan tidak kawin sebelumnya. Bila perkawinan
dibubarkan sebelum umur mereka genap dua puluh satu tahun, maka
mereka tidak kembali berstatus belum dewasa. Penentuan
tentang arti istilah "belum dewasa" yang dipergunakan dalam beberapa
peraturan undang-undang terhadap penduduk Indonesia. Untuk menghilangkan
keraguan-raguan yang disebabkan oleh adanya Ordonansi tanggal 21
Desember 1971 dalam S.1917-738, maka Ordonansi ini dicabut kembali,
dan ditentukan sebagai berikut: BAGIAN 2
331.Dalam setiap perwalian, hanya ada seorang wali, kecuali
yang ditentukan dalam Pasal 351 dan 361.
331a. Perwalian mulai berlaku:
Dalam segala hal, bila pemberitahuan tentang pengakatan wali ditentukan
dalam pasal ini atau pasal-pasal yang lain, balai harta peninggalan
wajib melaksanakan pemberitahuan ini secepat-cepatnya.
331b. Bila bagi anak-anak belum dewasa yang ada di bawah
perwalian, diangkat seorang wali lain atau karena hukum orang lain
menjadi wali, maka perwalian yang pertama berakhir pada saat perwalian
lain mulai berlaku, kecuali jika hakim menentukan saat lain. 332.
Kecuali apa yang ditentukan dalam pasal berikut, barangsiapa sehubungan
dengan Bagian 8 dan 9 dalam bab ini tidak dikecualikan atau dibebaskan
dari perwalian, wajib menerima perwalian tersebut. Bila orang yang
diangkat menjadi wali menolak atau lalai menjalankan perwalian itu,
balai harta peninggalan sebagai pengganti dan atas tanggung jawab
wali, harus melakukan tindakan-tindakan sementara guna mengurus
pribadi dan harta benda anak belum dewasa dengan cara seperti yang
diatur dalam instruksi untuk balai harta peninggalan. Dalam hal
itu wali bertanggung jawab atas tindakan-tindakan balai harta peninggalan,
tanpa mengurangi tuntutan terhadapnya.
332a. Baik orang yang diangkat menjadi wali oleh salah seorang
dari kedua orangtua, maupun wanita bersuami yang diangkat oleh salah
seorang dari kedua orangtua, maupun wanita bersuami yang diangkat
menjadi wali, tidaklah wajib menerimanya. Pengangkatan itu tidak
mengakibatkan suatu apa pun bila mereka tidak menyatakan sanggup
menerima. Pernyataan ini harus dilakukan di kepaniteraan Pengadilan
Negeri tempat tinggal anak yang belum dewasa dalam waktu enam puluh
hari, setelah pengangkatan itu diberitahukan kepada mereka.
332b. Wanita bersuami tidak boleh menjadi wali tanpa bantuan
atau izin tertulis dari suami. Bila suami telah memberikan bantuan
atau izin atau bila ia kawin dengan wanita tersebut setelah perwalian
dimulai, seperti halnya bila wanita tersebut menurut Pasal 112 atau
Pasal 114 telah menerima perwalian itu berdasarkan kuasa Hakim,
maka wali wanita bersuami itu, seperti tidak bersuami, berhak melakukan
segala tindakan perdata berkenaan dengan perwalian itu dan bertanggung
jawab atas tindakan-tindakan itu, tanpa pemberian kuasa atau bantuan
apa pun juga. Perintah untuk melimpahkan perwalian kepada suatu
perkumpulan, yayasan atau lembaga sosial memberikan kekuatan hukum
kepada perjanjian-perjanjian yang dilakukan perempuan bersuami itu
selaku pengurus perwalian tersebut tanpa adanya bantuan atau pemberian
kuasa suaminya.
333.Bila sehubungan dengan ketentuan-ketentuan kitab undang-undang
ini ikut sertanya keluarga sedarah atau semenda dan anak belum dewasa
diharuskan, maka sedapat-dapatnya harus selalu dipanggil sejumlah
empat orang dipilih dari keluarga terdekat dan sedapat-dapatnya
dari garis kedua pihak, dengan catatan bahwa yang dipanggil Hakim
adalah mereka yang bertempat tinggal atau berkediaman di daerah
hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan; sedangkan bila dipandang
perlu mendengar anggota sedarah atau semenda yang bertempat tinggal
atau berkediaman di luar daerah hukum tersebut maka pemanggilan
dan pemeriksaan mereka boleh dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri
yang dalam daerah hukumnya orang-orang itu bertempat tinggal atau
berkediaman atau kepada kepala daerah setempat, yang akan mengirimkan
berita acara yang dibuatnya kepada Pengadilan Negeri tersebut pertama.
Keluarga sedarah atau semenda yang harus dipanggil adalah mereka
yang telah dewasa dan bertempat tinggal atau berkediaman di Indonesia.
Semua panggilan termaksud dalam pasal ini dilakukan dengan surat
tercatat. 334.Setiap
kali diperlukan kehadiran para keluarga sedarah atau semenda dari
anak belum dewasa, mereka dapat diwakili oleh seorang kuasa khusus.
Surat kuasa bebas dari bea materai. Yang diberi kuasa boleh bertindak
atas nama satu orang saja.
335.Dalam waktu satu bulan setelah perwalian mulai berjalan
atau bila sepanjang perwalian harta anak belum dewasa sangat bertambah,
dalam waktu satu bulan setelah mendapat teguran dari Balai Harta
Peninggalan, setiap kali, kecuali perkumpulan, yayasan dan lembaga
sosial tersebut dalam Pasal 365, atas kerelaan balai harta peninggalan
tersebut dan guna menjamin pengurusan mereka, wajib menaruh suatu
ikatan jaminan, memberikan hipotek atau gadai atau menambah jaminan
yang telah ada.
336.Bila wali Ialai dalam waktu yang ditentukan dalam alinea
pertama pasal yang lalu untuk menaruh salah satu jaminan tersebut
di dalamnya, Balai Harta Peninggalan harus melakukan pendaftaran
hipotek atas beban wali tersebut. Bila si wali berkeberatan karena
pendaftaran yang baru itu diambil untuk jumlah uang yang terlampau
besar atau atas barang-barang yang lebih banyak daripada seperlunya
guna menjamin anak belum dewasa, maka persoalan ini harus diputus
oleh Pengadilan Negeri. 337.Baik
wali yang telah menanggung pendaftaran semacam itu maupun wali yang
dengan sukarela telah menaruh jaminan, setiap waktu untuk mengakhiri
akibatnya dengan meletakkan jaminan lain atas kerelaan Balai Harta
Peninggalan atau dalam hal adanya perbedaan pendapat dengan balai
harta peninggalan tentang cukup tidaknya jaminan yang ditawarkan,
dengan keputusan Pengadilan Negeri menurut ketentuan Pasal 335.
Bila soalnya diselesaikan di luar Pengadilan, maka penghapusan hipotek
berlangsung berdasarkan tuntutan Balai Harta Peninggalan; dalam
hal kebalikannya penghapusan itu dilakukan berdasarkan perintah
Hakim yang dilangsungkan oleh penyimpan hipotek karena jabatannya
dengan penunjukkan perintah Hakim. Wali itu boleh minta pengurangan
jaminan yang telah ditaruhnya, bila sepanjang pengurusan harta kekayaan
anak belum dewasa sangat mengalami kemerosotan di luar kesalahannya.
Bila ada perbedaan pendapat tentang hal itu antara wali dan Balai
Harta Peninggalan, Pengadilan Negeri memutuskannya atas permintaan
pihak yang lebih dulu memintanya.
338.Bila dalam tenggang waktu yang ditentukan untuk itu,
wali lalai menaruh ikatan jaminan atau gadai dan tidak memiliki
harta benda tak bergerak yang cukup, maka atas tuntutan Balai Harta
Peninggalan pengurusan harta kekayaan anak belum dewasa harus dicabut
oleh Pengadilan Negeri dan diberikan kepada Balai Harta Pernnggalan
sampai wali memberikan jaminan secukupnya; yaitu bila atas permintaan
wali, Pengadilan Negeri setelah mendengar Balai Harta Peninggalan,
menyerahkan tugas tersebut kembali kepada wali. Wali
yang telah dicabut pengurusannya, tetap ditugaskan memelihara anak-anak
yang belum dewasa dengan dasar dan cara yang jika perlu akan ditentukan
oleh Pengadilan Negeri. atas usul Balai Harta Peninggalan. Akan
tetapi bila pengurusan harta tak bergerak dan anak belum dewasa
memerlukan pengawasan terus menerus, Pengadilan Negeri setelah mendengar
Balai Harta Peninggalan, dapat menentukan bahwa tugas pengurusan
itu tetap berada si wali asal saja wali itu menyerahkan kepada Balai
Harta Peninggalan semua uang tunai, barang-barang berharga dan surat-surat
berharga milik anak yang belum dewasa; dalam hal yang demikian Balai
Harta Peninggalan akan memberikan uang secukupnya kepada wali untuk
pemeliharaan dan pendidikan anak belum dewasa dan untuk keperluan
sehari-hari pengurusan barang-barang tak bergerak, dengan kewajiban
pula bagi wali supaya setiap tahun memberikan kepada Balai Harta
Peninggalan pertanggungjawaban tentang pemakaian uang itu menurut
cara yang ditetapkan dalam Pasal 372. 338a.
Wali yang berminat meninggalkan Indonesia boleh mengajukan surat
permohonan kepada Pengadilan Negeri agar memperoleh pencabutan jaminan
benda yang telah diberikan olehnya atau yang telah diambil atas
tanggungannya. Permohonan itu harus didahului dengan pertanggungjawaban
yang lengkap kepada Balai Harta Peninggalan menurut cara yang diatur
dalam Pasal 372 dan dalam surat permohonan itu harus dilampirkan
surat keterangan dari Balai Harta Peninggalan bahwa Balai Harta
Peninggalan itu telah menyetujui pertanggungjawaban yang diserahkan
kepadanya.
Pengadilan Negeri akan mengeluarkan penetapan setelah mendengar
Balai Harta Peninggalan dan keluarga sedarah beserta semenda. Permohonan
akan dikabulkan bila ternyata si wali telah memenuhi kewajibannya
sebagai wali. Bila karena ini pencabutan jaminan diizinkan, maka
jaminan itu harus diganti dengan penyerahan tanggungan; apabila
hal ini tidak bisa dijalankan, harus dilakukan menurut ketentuan-ketentuan
pasal yang lalu.
339.Bila wali itu meninggalkan Indonesia bersama si anak
yang belum dewasa, maka atas permintaan wali tersebut dan setelah
mendengar Balai Harta Peninggalan, tugas pengurusan yang dicabut
menurut Pasal 338, oleh Pengadilan Negeri boleh dikembalikan kepadanya,
seluruhnya atau sebagian, dengan penentuan sebagaimana dianggap
perlu oleh Pengadilan Negeri bagi kepentingan anak belum dewasa.
340.Penanggung-penanggung
yang diikatkan sedapat-dapatnya bertempat tinggal dalam daerah hukum
Pengadilan Negeri, tanpa mengurangi syarat-syarat umum yang ditetapkan
dalam ketentuan perundang-undangan.
341.Bila seorang penanggung meninggalkan Indonesia karena
pindah atau meninggal dunia, maka Pengadilan Negeri atas permintaan
Balai Harta Peninggalan boleh memerintahkan kepada wali, supaya
dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Pengadilan Negeri, ditunjuk
penanggung baru yang setelah penunjukkan diterima, penanggung yang
pertama atau ahli warisnya demi hukum bebas dari ikatan. Dalam hal
si wali tidak mematuhi perintah itu, maka berlakulah ketentuan Pasal
336 dan 338.
342.Penanggung dan hak gadai berakhir, dan hipotek-hipotek
yang didaftarkan harus dihapuskan, bila tugas pengurusan wali berakhir
dan bila pertanggungan jawab pun berakhir dengan memberi perhitungan,
menyerahkan surat-surat dan membayar uang sisa.
343.Akta untuk penyelenggaraan pendaftaran hipotek dan penghapusan
yang harus dilakukan menurut bagian ini tidak dikenakan biaya dan
pajak, . kecuali uang upah bagi penyimpan hipotek yang masuk tanggungan
anak yang belum dewasa.
344.Segala penetapan Pengadilan Negeri tersebut dalam bagian
ini diambil atas surat permintaan, setelah mendengar pertimbangan
Kejaksaan, tanpa adanya bentuk acara dan tidak dapat dimintakan
banding.
BAGIAN 3 345.Bila
salah satu dari orangtua meninggal dunia, maka perwalian anak belum
dewasa dipangku demi hukum oleh orangtua yang masih hidup, sejauh
orangtua itu tidak dibebaskan atau dipecat dari kekuasaan orangtua.
346,
347. Dicabut dengan S. 1927-31 jis. 390, 421.
348.Jika setelah suami meninggal dunia, isteri menerapkan,
atau setelah dipanggil secara sah untuk itu, mengaku bahwa ia sedang
mengandung, maka balai harta peninggalan harus jadi pengampu atas
buah kandungan itu dan wajib mengadakan segala tindakan yang perlu
dan yang mendesak guna menyelamatkan dan mengurus harta kekayaannya,
baik demi kebaikan anak bila ia lahir hidup maupun demi kebaikan
semua orang yang berkepentingan. Bila anak itu lahir hidup, ketentuan-ketentuan
biasa tentang perwalian harus diperhatikan.
349, 350. Dicabut dengan S. 1927 -31 jis. 390, 421. 351.Bila
wali ibu kawin, maka suaminya, kecuali jika ia dikecualikan atau
dipecat dari perwalian, selama dalam perkawinan antara suami dan
isteri tidak ada pisah meja dan ranjang atau tidak ada pisah harta
benda, demi hukum menjadi wali peserta dan di samping isterinya
bertanggung jawab secara tanggung-menanggung sepenuhnya atas segala
perbuatan yang dilakukan setelah perkawinan berlangsung. Perwalian
peserta suami berakhir, bila ia dipecat dari perwalian atau si ibu
berhenti menjadi wali.
352.Wali bapak atau wali ibu yang kawin lagi, bila wali pengawas
menghendakinya, sebelum atau sesudah perkawinan itu dilangsungkan,
wajib menyampaikan daftar lengkap harta kekayaan anak belum dewasa
kepada wali pengawas.
Bila yang dimaksud dalam alinea terdahulu tidak dipenuhi dalam waktu
satu bulan, maka wali pengawas, dengan melampirkan bukti tentang
permintaannya untuk itu, boleh mengajukan permohonan kepada Pengadilan
Negeri supaya wali itu dipecat; Pengadilan Negeri harus membuat
penetapan sesuai dengan permohonan itu, kecuali bila dalam jangka
waktu yang ditentukan oleh Pengadilan Negeri dan diberitahukan kepadanya,
si wali masih menyampaikan daftar yang dikehendakinya kepada Pengadilan
Negeri; ketetapan diambil tanpa suatu bentuk acara.
Sedapat-dapatnya dalam penetapan yang sama, yang berisi pemecatan
itu, oleh Pengadilan Negeri diangkat pula wali yang baru.
353.Seorang anak tidak sah, demi hukum berada di bawah perwalian
bapaknya atau ibunya yang telah dewasa dan telah mengakui anak itu,
kecuali jika bapak atau ibu ini dikecualikan dari perwalian, atau
orang lain telah ditugaskan sebagai wali selama ayah atau ibu itu
belum dewasa, atau orang tua telah mendapat tugas sebagai wali sebelum
anak itu diakui.
Bila pengakuan itu dilakukan oleh kedua orangtua, maka perwalian
terhadap anak itu, dengan pengecualian yang sama, dilakukan oleh
orangtua yang lebih dulu mengakui dan bila pengakuan itu dilakukan
pada waktu yang sama, bapaklah yang memangku perwalian.
Bila orangtua yang melakukan perwalian berdasarkan ketentuan-ketentuan
yang lalu meninggal dunia, dipecat dari perwalian, ditempatkan di
bawah pengampuan, atau dalam hal tersebut dalam Pasal 354 tidak
dipertahankan sebagai wali atau tidak diangkat sekali lagi sebagai
wali, maka orangtua yang satu lagi demi hukum menjadi wali, kecuali
jika ia telah dikecualikan atau dipecat dari perwalian atau telah
kawin. Bila bapak atau ibu yang menurut ketentuan yang lalu memangku
perwalian tidak hadir, maka Pengadilan Negeri harus mengangkat seorang
wali.
Bila bapak atau ibu yang tidak dikecualikan atau dibebaskan dari
perwalian dan telah kawin dan oleh karena itu menurut alinea yang
lalu demi hukum tidak memangku perwalian, mengajukan permohonan
kepada Pengadilan Negeri supaya diangkat menjadi wali, maka Pengadilan
Negeri harus mengabulkannya, kecuali jika kepentingan anak tidak
mengizinkannya; Pengadilan Negeri mengambil ketetapan setelah mendengar
atau memanggil dengan sah suami atau istri si pemohon dan, jika
orangtua yang lain masih hidup, juga dia dan wali pengawas. Terhadap
pemeriksaan orang-orang ini berlaku ketentuan alinea keempat Pasal
206. Terhadap wall ibu atas di luar kawin yang diakui dan terhadap
suaminya berlaku Pasal 351, kecuali bila karena perkawinan tersebut
anak menjadi sah.
354.Bila orang yang melakukan perwalian terhadap anak di
luar kawin yang telah diakuinya, hendak kawin, maka kecuali jika
dengan perkawinan itu anaknya akan menjadi sah, ia harus mengajukan
permohonan kepada Pengadilan Negeri. supaya dapat meneruskan perwalian.
Pengadilan Negeri mengambil ketetapan setelah mendengar atau memanggil
dengan sah orangtua yang lain, sekiranya ia telah mengakui anak
itu, dan juga wali pengawas. Terhadap pemeriksaan orang-orang tersebut
berlaku alinea keempat Pasal 206. Orang yang lalai memenuhi ketentuan
termuat dalam kalimat pertama alinea pertama, demi hukum kehilangan
haknya untuk menjadi wali; kedua suami istri bertanggung jawab secara
tanggung-menanggung sepenuhnya atas segala akibat perwalian, yang
dilakukannya tanpa hak.
Kehilangan hak untuk menjadi wali seperti yang ditentukan di atas,
tidak menghalang-halangi orang yang berdasarkan alinea yang lalu
kehilangan perwalian, sekiranya ada alasan-alasan, untuk diangkat
oleh Pengadilan Negen menjadi wali dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan
dalam Bagian 5 bab ini. 354a.
Bila perwalian diserahkan kepada orang lain dalam salah satu hal
yang dimaksud dalam alinea pertama Pasal 353, maka bapak yang telah
dewasa atau ibu yang telah dewasa dari anak tidak sah yang diakuinya,
sejauh mereka tidak dikecualikan, dibebaskan atau dipecat dari perwalian,
boleh mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri supaya diangkat
menjadi wali sebagai pengganti wali yang lain itu. Pengadilan
Negeri mengambil ketetapan atas permohonan itu setelah mendengar
atau memanggil dengan sah si pemohon, wali, wali pengawas, suami
atau isteri pemohon bila pemohon ini telah kawin lagi, dan orangtua
yang lain bila ia ikut mengakui anak dan masih hidup, serta dewan
perwalian. Pengadilan Negeri mengabulkan permohonan mi, kecuali
jika ada kekhawatiran yang mendasar, bahwa bapak dan ibu akan melalaikan
si anak.
Ketentuan dalam kalimat terakhir Pasal 253 berlaku dalam hal ini.
Terhadap pemeriksaan orang-orang tersebut di atas berlaku ketentuan
alinea keempat Pasal 206 dengan penyesuaian sekedarnya. BAGIAN
4 355.Masing-masing
orangtua yang menjalankan kekuasaan orangtua atau perwalian atas
seorang atau beberapa orang anaknya, berhak mengangkat seorang wali
bagi anak-anaknya itu, jika sesudah ia meninggal dunia, demi hukum
atau karena penetapan Hakim yang dimaksud dalam alinea terakhir
Pasal 353, perwalian tidak dilakukan pihak lain dari orangtua.
Badan hukum tidak boleh diangkat beberapa orang dengan urutan pengangkatan,
sehingga yang diangkat belakang bertindak sebagai wali, bila yang
Iebih dulu tidak ada. 356.Pengangkatan
seorang wali tidak mempunyai akibat apa pun bila orang tua yang
melakukan pengangkatan itu pada saat meninggal dunia tidak melakukan
perwalian atas anak-anaknya atau tidak menjalankan kekuasaan orang
tua. 357.Pasal
3l9g dan Pasal 382d tetap berlaku, juga bila yang berlaku, juga
bila yang bertindak sebagai wali adalah orang yang diangkat oleh
salah seorang dan kedua orangtua.
Bila selama pengampuan salah seorang dari kedua orangtua yang karena
sebab lain belum pernah kehilangan kekuasaan orangtua atau perwalian,
orangtua yang lain telah mengangkat seorang wali dan meninggal dunia,
maka perwalian dari wali yang diangkat itu berakhir demi hukum,
dengan berakhirnya pengampuan. 358.Pengangkatan
seorang wali bagi anak di luar kawin yang dengan sah diakui oleh
ayah atau ibunya yang telah dipertahankañ sebagai wali atau telah
diangkat menjadi wali lagi, tidak mempunyai kekuatan, kecuali bila
disahkan oleh Pengadilan Negeri.
BAGIAN 5 359.
Bila anak belum dewasa yang tidak berada di bawah kekuasaan
orangtua dan yang perwaliannya sebelumnya tidak diatur dengan cara
yang sah, Pengadilan Negeri harus mengangkat seorang wali, setelah
mendengar atau memanggil dengan sah para keluarga sedarah dan semenda.
Bila
pengangkatan itu diperlukan karena ketidakmampuan untuk sementara
waktu melakukan kekuasaan orangtua atau perwalian, maka oleh Pengadilan
Negeri diangkat juga seorang wali untuk waktu selama ketidakmampuan
itu ada. Wali ini diberhentikan lagi oleh Pengadilan Negeri atas
permohonan orang yang digantinya bila alasan-alasan yang menyebabkan
ia diangkat. Bila pengangkatan itu diperlukan karena bapak atau
ibu tidak diketahui ada tidaknya, tempat tinggal atau tempat kediaman
mereka, maka oleh Pengadilan Negeri diangkat juga seorang wali.
Atas permohonan orang yang digantinya, wali ini diberhentikan oleh
Pengadilan Negeri, bila alasan yang menyebabkan pengangkatan tidak
ada lagi.
Atas permohonan ini Pengadilan Negeri mengambil ketetapan setelah
mendengar atau memanggil dengan sah pemohon, wali, wali pengawas,
para keluarga sedarah atau semenda anak belum dewasa, dan dewan
perwalian bila permohonan ini menyangkut perwalian anak di luar
kawin, maka Pengadilan Negeri mengambil ketetapan setelah mendengar
atau memanggil secara sah, sebagaimana diatur dalam Pasal 354a.
Permohonan dikabulkan kecuali jika ada kekhawatiran yang berdasar
kalau-kalau bapak atau ibu menelantarkan anak. Terhadap pemeriksaan
orang-orang ini, ketentuan dalam alinea keempat Pasal 206 berlaku
dengan sekedar penyesuaian. Selama perwalian termaksud dalarn alinea
kedua dan ketiga berjalan, penunaian kekuasaan orangtua ditangguhkan.
Dalam
hal diperlukan pengangkatan seorang wali, maka bila perlu oleh Balai
Harta Peninggalan, baik sebelum maupun setelah pengangkatan itu,
diadakan tindakan-tindakan seperlunya guna mengurus diri dan harta
kekayaan anak belum dewasa, sampai perwalian itu mulai berlaku.
360.Pengangkatan
seorang wali atas permintaan keluarga sedarah anak yang belum dewasa,
atas permintaan para kreditur atau pihak lain yang berkepentingan,
atas permintaan Balai Harta Peninggalan, atas tuntutan jawatan Kejaksaan,
ataupun karena jabatan, oleh Pengadilan Negeri yang di daerah hukumnya
anak belum dewasa itu bertempat tinggal. Bila
anak belum dewasa tidak mempunyai tempat tinggal di Indonesia atau
bila tempat tinggalnya tidak diketahui, maka pengangkatan itu dilakukan
oleh Pengadilan Negeri di tempat tinggalnya yang terakhir di Indonesia,
sedangkan bila ini juga tidak ada, oleh Pengadilan Negeri di Jakarta.
Pegawai Catatan Sipil wajib memberitahukan kepada Balai Harta Peninggalan
semua peristiwa kematian yang harus dibukukan dalam daftar dengan
keterangan apakah orang-orang yang meninggal itu meninggalkan anak
belum dewasa, dan memberitahukan segala perlangsungan perkawinan
yang akan dibukukan mengenai orang-orang tua yang mempunyai anak
yang belum dewasa.
361.Bila seorang anak belum dewasa yang berdiam di Indonesia
mempunyai harta kekayaan di Negeri Belanda atau di daerah jajahannya
di luar Indonesia, maka atas permintaan seorang pengurus di Negeri
Belanda dan di daerah jajahan tersebut. Dalam hal itu wali tidak
bertanggung jawab atas tindakan-tindakan pengurusan itu. Pengurus
dipilih dengan cara yang sama seperti wali.
362. Wali, segera setelah perwaliannya mulai berlaku, di
hadapan Balai Harta Peninggalan wajib mengangkat sumpah, bahwa ia
akan menunaikan perwalian yang dipercayakan kepadanya dengan baik
dan tulus hati. Bila di tempat kediaman wali itu atau dalam jarak
lima betas pal dari tempat itu tidak ada Balai Harta Peninggalan
atau tidak ada perwakilannya maka sumpah boleh diangkat di hadapan
Pengadilan Negeri atau kepala pemerintahan daerah tempat kediaman
wali. Tentang pengambilan sumpah itu harus dibuat berita acara.
363. Tanpa mengurangi ketentuan alinea kedua Pasal 354a dan
alinea keempat Pasal 359, perwalian anak di luar kawin diatur oleh
Pengadilan Negeri tanpa Iebih dulu mendengar siapa pun. 364.
Ketetapan-ketetapan Pengadilan Negeri tentang perwalian tidak
bisa dimintakan banding, kecuali jika ada ketentuan sebaliknya.
BAGIAN
6
365. Dalam segala hal, bila Hakim harus mengangkat seorang
wali, maka perwalian itu boleh diperintahkan kepada perkumpulan
berbadan hukum yang berkedudukan di Indonesia, kepada suatu yayasan
atau kepada lembaga sosial yang berkedudukan di Indonesia yang menurut
anggaran dasarnya, akta pendiriannya atau reglemennya mengatur pemeliharaan
anak belum dewasa untuk waktu yang lama.
Pasal 362 tidak berlaku.
Para anggota pengurus masing-masing bertanggung jawab secara pribadi
dan tanggung-menanggung atas pelaksanaan perwalian itu, selama perwalian
itu dilakukan oleh pengurus dan selama anggota-anggota pengurus
ini tidak menunjukkan pada Hakim, bahwa mereka telah mencurahkan
segala usaha guna melaksanakan perwalian sebagaimana mestinya atau
mereka dalam keadaan tidak mampu menjaganya. Pengurus
boleh memberi kuasa secara tertulis kepada seorang anggotanya atau
lebih untuk melakukan perwalian terhadap anak-anak yang belum dewasa
tersebut dalam surat kuasa itu.
Pengurus berhak pula atas kehendaknya menyerahkan pengurusan harta
kekayaan anak-anak belum dewasa yang dengan tegas ditunjuknya, asalkan
secara tertulis, kepada Balai Harta Peninggalan, yang dengan demikian
wajib menerima pengurusan itu dan menyelenggarakannya menurut ketentuan-ketentuan
yang berlaku terhadapnya. Penyerahan ini tidak dapat dicabut. 365a.
Panitera Pengadilan Negeri yang memerintahkan perwalian memberitahukan
perintah itu kepada dewan perwalian dan Kejaksaan Negeri yang dalam
daerah hukumnya perkumpulan, yayasan, atau lembaga sosial itu berkedudukan.
Pengurus
perkumpulan, yayasan atau lembaga sosial melaporkan secara tertulis
penempatan anak belum dewasa di suatu rumah atau lembaga kepada
dewan perwalian dan Kejaksaan yang dalam daerah hukumnya terletak
rumah atau lembaga tersebut. Rumah atau lembaga yang dimaksudkan
ini, dikunjungi oleh pejabat Kejaksaan atau oleh seorang petugas
yang ditunjuknya dan oleh dewan perwalian tiap kali dipandang perlu
dan patut guna meneliti keadaan anak belum dewasa yang ditempatkan
di dalamnya.
Bila dikehendakinya, wali pengawas diberi kesempatan tiap-tiap minggu
mengunjungi anak belum dewasa yang ada dalam pengawasannya.
BAGIAN 7 366.Dalam
setiap perwalian yang diperintahkan di dalamnya, Balai Harta Peninggalan
ditugaskan sebagai wali pengawas. 367.Ketentuan
dalam pasal yang lalu tidak berlaku dan tidak membawa perubahan
dalam perwalian pengawas yang diperintahkan di Negeri Belanda untuk
anak belum dewasa yang kemudian berdiam di Indonesia.
Bila wali pengawas yang diangkat di Negeri Belanda tidak berada
di Indonesia dan tidak menunjuk seorang kuasa khusus guna mewakili
dirinya dalam segala kejadian yang memerlukan kehadiran dan keikutsertaannya,
maka dianggaplah bahwa terhadap tugas yang harus dilakukannya di
Indonesia, ia telah memerintahkan perwakilannya kepada Balai Harta
Peninggalan di tempat tinggal anak belum dewasa, yang oleh karenanya
harus diterima oleh Balai Harta Peninggalan tersebut.
368.Para wali tersebut dalam Bagian 3 bab ini, segera setelah
perwalian mulai berjalan, wajib membentahukan terjadinya perwalian
kepada Balai Harta Peninggalan. Bila para wali tersebut lalai, mereka
boleh diberhentikan, tanpa mengurangi penggantian biaya, kerugian
dan bunga.
369.Dalam segala hal, bila perwalian diperintahkan oleh Hakim,
Panitera Pengadilan Negeri yang bersangkutan harus segera memberitahuan
secara tertulis adanya pengangkatan itu kepada Balai Harta Peninggalan,
dengan keterangan, apakah pengangkatan itu terjadi dengan dihadiri
oleh wali itu, atau jika perwalian itu diperintahkan kepada perkumpulan,
yayasan atau lembaga sosial, dengan keterangan, apakah hal itu terjadi
atas permintaan atau kesanggupan sendiri.
Panitera juga wajib dengan cara yang sama memberitahukan pernyataan-pernyataan
yang menurut Pasal 332a diucapkan di kepaniteraan atau yang dikirimkan
kepadanya; demikian pula pengesahan dimaksudkan dalam Pasal 358.
370.Kewajiban wali pengawas adalah mewakili kepentingan anak
belum dewasa, bila kepentingan ini bertentangan dengan kepentingan
wali tanpa mengurangi kewajiban-kewajiban khusus, yang dibebankan
kepada Balai Harta Peninggalan dalam surat instruksinya pada waktu
Balai Harta Peninggalan itu diperintahkan memangku perwalian pengawas.
Dengan ancaman hukuman mengganti biaya, kerugian dan bunga, wali
pengawas wajib memaksa wali untuk membuat dafftar atau perincian
barang-barang harta peninggalan dalam segala warisan yang jatuh
ke tangan anak belum dewasa.
371.Dengan ancaman mengganti biaya, kerugian, dan bunga,
Balai Harta Peninggalan wajib melakukan segala tindakan yang ditentukan
dalam undang-undang agar setiap wali, sekalipun tidak diperintahkan
oleh Hakim, memberikan jaminan secukupnya, atau setidak-tidaknya
menyelenggarakan pengurusan dengan cara yang ditentukan oleh undang-undang.
372. Setiap tahun wali pengawas harus minta kepada wali (kecuali
bapak dan ibu) supaya memberikan suatu perhitungan ringkas dan pertanggungjawaban
dan memperlihatkan kepadanya surat-surat andil dan suratsurat berharga
milik anak belum dewasa. Perhitungan ringkas itu harus dibuat di
atas kertas tak bermeterai dan diserahkan tanpa suatu biaya dan
tanpa suatu bentuk hukum apa pun. 373.Bila
seorang wali enggan melaksanakan ketentuan pasal yang lalu atau
bila wali pengawas dalam perhitungan ringkas menemukan tanda-tanda
kecurangan atau kealpaan besar, maka wali pengawas harus menuntut
pemecatan wali itu. Demikian pula ia harus menuntut pemecatan dalam
hal-hal lain yang ditentukan undang-undang.
374. Bila perwalian kosong atau ditinggalkan karena ketidakhadiran
wali, atau bila untuk sementara waktu wali tidak mampu menjalankan
tugasnya, maka wali pengawas, dengan ancaman hukuman mengganti biaya,
kerugian dan bunga, harus mengajukan permohonan kepada Pengadilan
Negeri untuk mengangkat wali baru atau wali sementara. 375.
Perwalian pengawas mulai dan berakhir pada saat yang sama dengan
mulainya dan berakhirnya perwalian.
BAGIAN 8
376. Dihapus dengan S. 1927-31 jis. 390,421. 377. Yang boleh
melepaskan diri dari perwalian ialah:
378. Barangsiapa hendak melepaskan diri dari perwalian, harus
memohon pembebasan dari Hakim yang memerintahkan perwalian atau,
bila sebelumnya tidak ada pengangkatan oleh Hakim, dari Pengadilan
Negeri tempat tinggalnya.
Kecuali orang-orang yang disebutkan dalam Pasal 377 nomor 5 pemohon
diwajibkan, dengan ancaman kehilangan hak, untuk mengajukan permohonan
dalam tenggang waktu tiga puluh hari sejak hari mulai berlakunya
perwalian itu bila pemohon berdiam di Indonesia, dan dalam tenggang
waktu sembilan puluh hari bila ia berdiam di luar Indonesia. Permohonan
tidak dapat diterima, bila perwalian itu dibebankan padanya karena
pernyataannya sendiri, bahwa ia sanggup menerima perwalian itu.
Hakim mengambil ketetapan tanpa bentuk acara dan tanpa banding.
Meskipun wali telah mengemukakan alasan-alasan untuk melepaskan
diri, ia masih wajib memangku perwalian itu sampai diambil keputusan
terakhir tentang alasan-alasan itu.
BAGIAN 9
379. Selain pegawai-pegawai Kehakiman bangsa Eropa yang dikecualikan
dari perwalian menurut ketentuan dalam Pasal 9 Reglemen Susunan
Kehakiman dan Kebijaksanaan Mengadili di Indonesia, mereka yang
dikecualikan dari perwakilan adalah:
380. Bila Hakim berpendapat bahwa kepentingan anak-anak belum
dewasa secara mutlak menghendakinya, maka dapatlah dipecat dan perwalian,
baik terhadap semua anak belum dewasa, maupun terhadap seorang anak
atau lebih yang bernaung di bawah satu perwalian:
Suatu perkumpulan, yayasan atau lembaga sosial boleh dipecat dari
perwaliannya dalam hal-hal tersebut di bawah nomor-nomor 2°, 3°,
4°, dan 5°, bila hakim berpendapat bahwa kepentingan anak belum
dewasa secara mutlak menghendakinya.
Badan-badan itu juga boleh dipecat, bila pemberitahuan tertulis
tersebut dalam Pasal 365a alinea kedua dilalaikannya atau bila kunjungan-kunjungan
yang diatur di dalamnya dihalang-halanginya. Dalam pengertian kejahatan
dalam pasal ini termasuk juga usaha membantu dan mencoba untuk melakukannya.
381.
Pemecatan seorang wali dilakukan oleh Pengadilan Negeri tempat
tinggalnya atau, bila tempat tinggalnya tidak ada, oleh Pengadilan
Negeri tempat tinggal terakhir, atas permohonan wali pengawas, atas
permohonan salah satu keluarga sedarah atau keluarga semenda anak
belum dewasa sampai dengan derajat keempat, atas permohonan dewan
perwalian, atau atas tuntutan Kejaksaan.
Pemecatan bapak atau ibu yang diangkat menjadi wali setelah adanya
perceraian, dilakukan oleh Pengadilan Negeri yang mengadili gugatan
perceraian.
Permintaan atau tuntutan itu harus memuat peristiwa-peristiwa dan
keadaan-keadaan yang merupakan dasarnya pula harus memuat daftar
nama orangtua wali dan wali pengawas serta tempat kediaman dan tempat
tinggal mereka, sejauh ini diketahui, nama dan tempat tinggal keluarga
sedarah atau keluarga semenda yang menurut Pasal 333 harus dipanggil,
demikian pula nama dan tempat tinggal saksi-saksi yang kiranya dapat
menguatkan peristiwa yang dikemukakan dalam permohonan atau tuntutan
itu. Kecuali jika permohonan atau tuntutan itu beserta surat-surat
yang dilampirkan untuk menguatkannya, harus segera dikirim oleh
panitera kepada dewan tersebut. Pada surat permohonan atau tuntutan
itu, oleh panitera Pengadilan Negeri dicatat hari masuknya.
381a. Pengadilan Negeri mengambil ketetapan setelah mendengar
atau memanggil dengan sah kedua orangtua, wali dan wali pengawas,
keluarga sedarah dan keluarga semenda anak belum dewasa dan dewan
perwalian. Pengadilan Negeri dapat memerintahkan pemanggilan saksi-saksinya
guna diperiksa di bawah sumpah, yakni yang ditunjuk dan dipilihnya,
baik dari keluarga sedarah dan semenda maupun dari luar keluarga.
Bila mereka yang akan diperiksa itu, yakni kedua orangtua, wali,
wali pengawas atau saksi, bertempat tinggal atau berkediaman di
luar daerah hukum Pengadilan Negeri, maka pemeriksaan oleh Pengadilan
Negeri boleh dilimpahkan dengan cara yang sama, seperti yang ditentukan
dalam Pasal 333 terhadap keluarga sedarah atau semenda Anak kalimat
terakhir dalam alinea keempat Pasal 206 berlaku terhadap orangtua,
wali dan wali pengawas.
Segala panggilan dilakukan menurut cara yang ditentukan dalam Pasal
333 terhadap keluarga sedarah dan semenda bila ada panggilan terhadap
seorang yang tempat kediamannya tidak diketahui, maka panggilan
itu harus segera dimuatkan dalam satu surat kabar atau lebih yang
ditunjuk oleh Pengadilan Negeri. Panggilan terhadap seseorang yang
dimohonkan atau dituntut pemecatannya harus disertai dengan pemberian
secara ringkas tentang isi permintaan atau tuntutan, kecuali jika
tempat kediaman orang itu tidak diketahui.
Bila dipandang perlu, Pengadilan Negeri boleh mendengar orang-orang
selain yang telah ditentukan di atas menghadap pada hari yang telah
ditentukan, dan boleh juga memerintahkan pemeriksaan saksi-saksi
ini harus disebutkan dalam penetapan lebih lanjut dan harus dipanggil
dengan cara yang sama.
381b. Selama pemeriksaan, tiap-tiap penduduk di Indonesia
yang berhak melakukan perwalian dan pengurus tiap-tiap perkumpulan,
yayasan, dan lembaga sosial tersebut dalam Pasal 365 boleh mengajukan
diri kepada Pengadilan Negeri dengan surat permohonan supaya diperkenankan
memangku perwalian itu. Pengadilan Negeri boleh memerintahkan pemanggilan
mereka untuk didengar tentang permohonan itu. Alinea keempat Pasal
206 berlaku terhadap pemeriksaan orang-orang tersebut dengan penyesuaian
seperlunya. Bila permintaan atau tuntutan itu dikabulkan, Pengadilan
Negeri menetapkan pengangkatan wali. Dalam keputusan tentang pemecatan
wali, wali yang dipecat harus dihukum mengadakan pertanggungjawaban
tentang pengurusannya kepada penggantinya. 382.
Pemeriksaan perkara berlangsung dalam sidang dengan pintu tertutup.
Penetapan disertai dengan alasan-alasannya diucapkan dalam sidang
terbuka dalam waktu yang sesingkat-singkatnya setelah berlangsung
pemeriksaan terakhir; penetapan ini boleh dinyatakan segera dapat
dilaksanakan sekalipun ada perlawanan atau banding dengan atau tanpa
jaminan, semua itu atas naskah aslinya. Selama
pemeriksaan berjalan, Pengadilan Negeri leluasa untuk menghentikan
penunaian perwalian itu seluruhnya atau sebagian dan memberi kekuasaan
atas diri anak belum dewasa dan harta kekayaannya menurut pertimbangan
Pengadilan Negeri, kepada seorang yang ditunjuknya atau kepada dewan
perwalian. Terhadap
penetapan termaksud dalam alinea yang lalu tidak boleh dimintakan
peradilan yang lebih tinggi. Penetapan itu tetap berlaku sampai
keputusan tentang pemecatan memperoleh kekuatan tetap. Ketentuan
dalam alinea ketujuh dan kedelapan Pasal 319 f berlaku dalam hal
ini.
382a. Baik berdasarkan atas peristiwa yang dapat menyebabkan
pemecatan, maupun karena anak belum dewasa ditinggalkan atau tanpa
suatu pengawasan, Jaksa berwenang mempercayakan anak belum dewasa
itu untuk sementara waktu kepada dewan perwalian, sampai Pengadilan
Negeri mengangkat seorang wali atau dinyatakan, bahwa pengangkatan
itu tidak perlu dan penetapan itu mempunyai kekuatan hukum yang
pasti. Ketentuan dalam alinea ketujuh dan kedelapan Pasal 318f berlaku
dalam hal ini.
Bila Jaksa menggunakan wewenang tersebut di atas sebelum mengajukan
permintaan atau tuntutan akan pemecatan atau pengangkatan seorang
wali, ía wajib segera melakukan segala sesuatu agar pengadilan mengangkat
seorang wali. Bila
penyerahan anak belum dewasa kepada dewan perwalian ditolak Jaksa
boleh menyuruh membawa anak itu képada juru sita atau kepada Polisi
yang diberi tugas untuk melaksanakan surat perintahnya. Ketentuan-ketentuan
dalam alinea-alinea ketiga, keempat dan kelima Pasal 319h berlaku
dalam hal ini. Perintah penyerahan anak belum dewasa kepada dewan
perwalian menurut alinea pertama pasal ini menghentikan perwalian
anak itu, sekedar mengenai diri si anak.
382b. Bila orang yang diminta atau dituntut pemecatannya
tidak datang menghadap atas panggilan, ia boleh mengajukan perlawanan
dalam waktu 30 hari, setelah penetapan atau akta yang dibuat berdasarkan
penetapan itu atau pelaksanaannya diberitahukan kepadanya atau setelah
ia melakukan suatu perbuatan yang secara mutlak memberi kesimpulan,
bahwa penetapan itu atau permulaan pelaksanaannya sudah diketahui
olehnya.
Orang yang permohonannya akan pemecatan ditolak, atau jawatan Kejaksaan
yang tuntutannya ditolak pula, dan orang yang dipecat dan perwaliannya
meskipun ia menyangkal, seperti orang yang perlawanannya ditolak
boleh mengajukan permohonan banding terhadap keputusan Pengadilan
Negeri dalam waktu 30 hari setelah keputusan diucapkan.
382c. Bila wali bapak dan wali ibu tidak cakap atau tidak
mampu menunaikan kewajiban memelihara dan mendidik anak-anak mereka
dan kepentingan anak-anak dari segi lain tidak bertentangan dengan
pembebasan mereka dari perwalian maka atas permintaan dewan perwalian
atau tuntutan Jaksa, mereka berdua boleh dibebaskan dari perwalian
terhadap seorang anak atau Iebih oleh Pengadilan Negeri tempat tinggal
mereka atau jika tidak ada, oleh Pengadilan Negeri tempat tinggal
mereka yang terakhir. Pembebasan bapak atau ibu yang diangkat menjadi
wali setelah bercerai, dilakukan oleh Pengadilan Negeri yang telah
mengadili tuntutan akan perceraian itu. Dalam surat permohonan atau
tuntutan atau pembebasan sedapat-dapatnya harus dikemukakan pula
bagaimana pergantian wali itu kiranya dapat diselenggarakan. Pembebasan
ini tidak boleh diperintahkan, bila pihak yang diminta atau yang
dituntut pembebasannya, menentang hal ini.
Berdasarkan surat permintaan sendiri, wali-wali lainnya boleh dibebaskan
oleh Pengadilan Negeri tempat tinggal mereka dari perwalian, baik
terhadap semua, maupun terhadap seorang atau beberapa dan anak-anak
belum dewasa, yang ada di bawah kekuasaan mereka, bila seorang penduduk
Indonesia yang berhak menjalankan perwalian, atau pengurus salah
satu perkumpulan, yayasan dan lembaga sosial tersebut dalam Pasal
365, menyatakan sanggup dengan surat untuk mengganti mereka, dan
Pengadilan Negeri menimbang pergantian tersebut baik untuk kepentingan
anak-anak. Pengadilan
Negeri mengambil keputusan setelah mendengar atau memanggil dengan
sah kedua orang tua, wali dan wali pengawas, para keluarga atau
semenda anak-anak belum dewasa dan dewan perwalian, serta mengangkat
wali, bila permintaan atau tuntutan dikabulkan. Ketentuan dalam
alinea ketiga Pasal 381 dan alinea-alinea kedua, ketiga dan keempat
Pasal 381a berlaku dalam hal ini.
Pemeriksaan perkara berlangsung dalam sidang tertutup. Dalam waktu
yang selekas-lekasnya setelah pemeriksaan terakhir, penetapan dengan
alasan-alasannya diucapkan dalam sidang terbuka dan boleh dinyatakan
segera dapat dilaksanakan, sekalipun ada perlawanan atau banding
dengan atau tanpa jaminan, semuanya itu atas naskah asli. Bila
seseorang yang dimintakan atau dituntut pembebasannya berdasarkan
alinea pertama, tidak datang menghadap, maka terhadap pembebasan
ini ia boleh mengajukan perlawanan dalam waktu 30 han sejak penetapan
itu, atau akta yang dibuat berdasarkan penetapan itu atau untuk
melaksanakannya, diberitahukan kepadanya secara pribadi atau setelah
ia melakukan suatu perbuatan yang secara mutlak memberi kesimpulan,
bahwa penetapan itu atau permulaan pelaksanaan telah diketahui olehnya.
Orang yang permintaan akan pembebasannya ditolak, atau jawatan Kejaksaan
yang tuntutannya akan hal yang sama ditolak, dan orang yang dibebaskan
dari perwalian kendati datang menghadap atas panggilan, seperti
juga orang yang perlawanannya ditolak, semuanya dapat mengajukan
permohonan banding dalam waktu 30 hari setelah putusan Pengadilan
Negeri diucapkan.
Terhadap penetapan-penetapan termaksud dalam alinea kedua tidak
boleh dimintakan banding. 382d.
Seorang bapak atau Ibu yang dibebaskan atau dipecat dari perwalian
terhadap anak-anaknya sendiri, baik atas permintaannya sendiri maupun
atas permintaan mereka yang berhak meminta pembebasan, ataupun pemecatannya,
ataupun atas tuntutan jawatan Kejaksaan boleh dipulihkan kembali
dalam perwalian, bila ternyata bahwa peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan
pembebasan atau pemecatannya tidak lagi berlawanan dengan pemilihan
itu. Permintaan atau tuntutan untuk itu harus diajukan kepada Pengadilan
Negeri yang telah mengadili pemintaan atau tuntutan akan pembebasan
atau pemecatannya, kecuali jika perkawinan orang yang dibebaskan
atau dipecat itu telah dibubarkan karena perceraian dalam hal mana
pemiintaan atau tuntutan itu harus diajukan kepada Pengadilan Negeri
yang telah mengadili tuntutan akan perceraian itu. Pengadilan
Negeri mengambil keputusan setelah mendengar atau memanggil dengan
sah, bila mungkin kedua orangtua, demikian pula wali atau pengurus
perkumpulan, yayasan dan lembaga sosial yang mengaku perwalian itu,
wali pengawas, para anggota keluarga sedarah atau semenda dari anak-anak
dan dewan perwalian.
Bila dipandang perlu, Pengadilan Negeri boleh memerintahkan supaya
didengar di bawah sumpah saksi-saksi yang dipilihnya dan keluarga
sedarah atau semenda atau dari luar mereka.
Alinea-alinea ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh Pasal
319 berlaku dalam hal ini berada dalam kekuasaan seseorang atau
kekuasaan pengurus perkumpulan, yayasan dan lembaga sosial yang
diwajibkan melakukan perwalian menurut putusan Hakim sebagaimana
dimaksudkan dalam bagian ini, atau dalam kekuasaan seseorang atau
kekuasaan dewan perwalian yang kepadanya dipercayakan anak-anak
itu menurut penetapan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 382 alinea
ketiga maka dalam penetapan yang sama diperintahkan juga penyerahan
anak-anak itu kepada pihak yang menurut penetapan mendapat kekuasaan
atas anak-anak itu. Ketentuan-ketentuan dalam alinea-alinea kedua,
ketiga, keempat dan kelima Pasal 319h berlaku dalam hal ini.
382f. Ketentuan Pasal 31 berlaku terhadap pembebasan atau
pemecatan seorang bapak atau ibu dari perwalian terhadap anak-anak
sendiri. 382g.
Semua surat permohonan, tuntutan penetapan, pemberitahuan semua
surat lain yang dibuat guna memenuhi ketentuan-ketentuan dalam bagian
ini adalah bebas dari meterai. Segala
permintaan termaksud dalam bagian ini, yang berasal dari dewan perwalian,
harus dilayani dengan cuma-cuma, demikian pula segala salinan pertama,
salinan dan petikan yang diminta oleh dewan perwalian guna kepentingan
tugas yang diperintahkan kepadanya, oleh panitera diberikan kepadanya
dengan cuma-cuma. BAGIAN
10
383. Wali harus menyelenggarakan pemeliharaan dan pendidikan
bagi anak belum dewasa menurut kemampuan harta kekayaannya dan harus
mewakili anak belum dewasa itu dalam segala tindakan perdata. Anak
belum dewasa harus menghormati walinya.
384. Bila wali, berdasarkan alasan-alasan yang penting, merasa
tidak puas terhadap kelakuan anak belum dewasa, maka atas permintaan
wali sendiri atau atas permintaan dewan perwalian, asal saja dewan
diminta oleh wali untuk itu, Pengadilan Negeri boleh memerintahkan
penempatan anak itu untuk waktu tertentu dalam sebuah lembaga negara
atau swasta yang akan ditunjuk oleh Menteri Kehakiman. Penempatan
itu dilakukan atas biaya anak belum dewasa, dan bila ia tidak mampu,
atas biaya wali; penempatan semacam itu hanya boleh dilakukan selama-lamanya
enam bulan berturut-turut, bila pada hari penetapan Hakim anak belum
dewasa belum mencapai umur empat belas tahun, atau selama-lamanya
satu tahun bila pada hari penetapan ia telah mencapai umur tersebut,
dan sekali-kali tidak boleh melewati saat anak belum dewasa menjadi
dewasa.
Pengadilan Negeri tidak boleh memerintahkan penempatan itu sebelum
mendengar atau memanggil secara sah wali, pengawas, para keluarga
sedarah dan semenda dari anak belum dewasa, dewan perwalian dan,
tanpa mengurangi ketentuan dalam alinea berikut, juga anak belum
dewasa sendiri.
Bila anak belum dewasa tidak datang menghadap pada hari yang ditentukan
untuk mendengarnya, maka Pengadilan Negeri menunda pemeriksaan sampai
pada hari yang ditentukan, dan memerintahkan agar anak belum dewasa
itu pada hari tersebut, di bawa ke depannya oleh juru sita atau
polisi; penetapan ini dilaksanakan atas perintah jawatan Kejaksaan,
bila ternyata anak belum dewasa pada hari itu pun tidak datang menghadap,
maka Pengadilan Negeri, tanpa mendengarnya, memerintahkan atau menolak
penempatannya. Dalam
hal ini tidak perlu diperhatikan bentuk acara lebih lanjut, melainkan
perintah penempatan itulah yang harus diberikan, tetapi itu pun
tidak perlu dimuat alasan-alasannya.
Bila Pengadilan Negeri dalam penetapannya memutuskan, bahwa anak
belum dewasa dan wali tidak mampu membiayai penempatan itu, maka
semua biaya menjadi beban negara. Penetapan yang memerintahkan suatu
penempatan, dilaksanakan atas perintah, setelah ada permintaan dan
pihak wall. 384a.
Dengan penetapan Menteri Kehakiman, anak belum dewasa sewaktu-waktu
boleh dikeluarkan dari lembaga termaksud dalam pasal yang lalu,
bila alasan-alasan yang mengakibatkan penempatan itu telah tiada
atau bila keadaan jasmani dan rohani anak belum dewasa itu tidak
mengizinkan penempatan lebih lama.
Wali selalu leluasa untuk mempersingkat waktu penempatan yang telah
ditentukan dalam perintah. Untuk memperpanjang waktu penempatan,
perlu diperhatikan lagi ketentuan dalam pasal yang lalu. Pengadilan
Negeri hanya boleh memerintahkan perpanjangan waktu itu, tiap-tiap
kali tidak lebih dari enam bulan berturut-turut; perintah itu tidak
boleh diberikan sebelum mendengar permintaan itu dari kepala lembaga
tempat anak belum dewasa itu tinggal pada waktu permintaan perpanjangan
diajukan atau dari seorang penggantinya.
BAGIAN 11 385.
Wali harus mengurus harta kekayaan anak belum dewasa laksana seorang
bapak rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab atas biaya, kerugian
dan bunga yang diperkirakan timbul karena pengurusan yang buruk.
Bila kepada anak yang belum dewasa, baik dengan suatu akta antara
orang-orang yang masih hidup, maupun dengan sebuah wasiat, telah
dihibahkan atau dihibah-wasiatkan sejumlah harta benda dan pengurusannya
itu dipercayakan kepada seorang pengurus atau lebih yang telah ditunjuk,
maka ketentuan-ketentuan Pasal 307, yang berlaku bagi pemangku kekuasaan
orangtua, berlaku juga bagi wali. 386.
Dalam waktu sepuluh hari setelah perwalian mulai berlaku, wali
harus menuntut pengangkatan penyegelan, bila penyegelan ini telah
dilakukan, dan dengan dihadiri oleh wali pengawas, segera membuat
atau menyuruh membuat daftar barang-barang kekayaan anak belum dewasa.
Daftar barang-barang atau inventaris itu boleh dibuat di bawah tangan,
tetapi dalam segala hal keberesannya harus dikuatkan di bawah sumpah
oleh wali sendiri di hadapan Balai Harta Peninggalan; bila inventaris
itu dibuat di bawah tangan, inventaris itu harus diserahkan kepada
Balai Harta Peninggalan.
387. Bila anak belum dewasa berutang kepada wali, maka hal
itu harus dijelaskan dalam inventaris; dalam hal tidak ada penjelasan
dalam inventaris yang demikian itu, wali tidak akan diperbolehkan
menagih sesuatu yang dipiutangkannya, sebelum anak belum dewasa
itu menjadi dewasa, tambahan lagi, ia akan kehilangan segala bunga
dan angsuran atas jumlah pokok yang sedianya dapat ditagih semenjak
pembuatan inventaris sampai saat anak belum dewasa menjadi dewasa;
tetapi selama masa itu, bagi wali, lewat waktu tidak berlaku. 388.
Pada permulaan setiap perwalian, kecuali yang dilakukan oleh
bapak atau ibu, Balai Harta Peninggalan, setelah mendengar wali
pengawas, dan setelah memanggil keluarga sedarah atau semenda anak
belum dewasa, menurut perkiraan dan dalam keseimbangan dengan harta
kekayaan yang harus diurus, harus menentukan jumlah uang yang diperlukan
untuk biaya hidup anak belum dewasa itu beserta biaya yang diperlukan
guna mengurus harta kekayaan; semuanya itu tidak mengurangi kemungkinan
campur tangan Pengadilan Negeri, bila Balai Harta Peninggalan tidak
menyetujui pendapat sebagian besar keluarga anak belum dewasa yang
hadir.
Dalam akta yang sama harus ditentukan pula apakah wali dalam menjalankan
pengurusan, diperkenankan pula dengan upah menggunakan seorang pengurus
khusus atau lebih, yang akan mewakili wali dan di bawah tangung
jawab wali. 389.
Wali wajib mengusahakan supaya dijual segala meja, kursi atau
perkakas rumah tangga yang pada permulaan atau selama perwalian
jatuh ke dalam kekayaan anak belum dewasa, demikian juga barang-barang
yang menurut alamnya dapat disimpan, asal saja dengan persetujuan
Balai Harta Peninggalan dan setelah mendengar atau memanggil dengan
sah wali pengawas, bila yang menjadi wali pengawas bukan Balai Harta
Peninggalan sendiri, serta keluarga sedarah atau semenda. Penjualan
harus dilakukan di muka umum oleh petugas yang berhak dengan memperhatikan
kebiasaan-kebiasaan setempat, kecuali jika Pengadilan, setelah mendengar
dan memanggil seperti di atas, kiranya memerintahkan, bahwa barang-barang
tertentu yang ditunjuk, untuk kepentingan anak belum dewasa, harus
dijual di bawah tangan dengan harga atau di atas harga yang sudah
ditaksir oleh ahli-ahli yang diangkat untuk itu. Pengadilan
Negeri boleh juga, setelah mendengar seperti di atas, mengizinkan
penjualan di muka umum atau di bawah tangan akan barang-barang bergerak
yang sehubungan dengan ketentuan alinea pertama pasal ini telah
disimpan dalam wujud asli, bila kepentingan anak belum dewasa menghendakinya.
Barang-barang dagangan boleh dijual di bawah tangan oleh wali dengan
perantaraan makelar, komisioner atau orang lain yang sejajar, dengan
harga kurs yang berlaku, sedangkan hasil-hasil tanah hendaknya dijual
di pasar atau di mana saja dengan harga pasar.
390. Bapak atau ibu, sejauh menurut undang-undang mempunyai
hak menikmati hasil atas kekayaan anak belum dewasa, bebas dari
kewajiban menjual perabot rumah tangga atau barang-barang bergerak
Iainnya, bila mereka lebih suka menyimpannya dengan maksud mengembalikannya
dalam keadaan aslinya kelak kepada anak belum dewasa. Dalam
hal itu mereka, atas biaya sendiri, harus menyuruh seorang ahli,
yang akan diangkat oleh wali pengawas dan mengangkat sumpah di depan
kepala pemerintahan daerah, untuk menaksir harga sebenarnya barang-barang
tersebut. Barang-barang yang tidak dapat diserahkan kembali dalam
wujud aslinya harus ditanggung dengan sejumlah uang taksiran.
391. Wali diwajibkan membungakan sisa penghasilan setelah
pendapatan dikurangi dengan pengeluaran, bila saldo untung melebihi
seperempat daripada pendapatan biasa anak belum dewasa.
Mereka tidak boleh membungakan uang tunai anak belum dewasa, selain
dengan cara membeli surat-surat pendaftaran dalam buku utang besar
Kerajaan Belanda, membeli surat-surat piutang atas beban Indonesia,
dan memindahkannya atas nama anak belum dewasa, membeli barang-barang
tetap atau membeli surat-surat piutang berbunga, dan dengan memberi
jaminan hipotek atas barang-barang tak bergerak, yang harganya dibebaskan
dari segala beban sekurang-kurangnya sepertiga lebih dari jumlah
uang yang diperbungakan.
Bila wali lalai dalam satu tahun untuk membungakan sejumlah uang
dengan cara seperti diperintahkan dalam pasal ini, mereka harus
membayar bunga uang itu menurut undang-undang.
392. Bila dalam harta kekayaan anak belum dewasa terdapat
sertifikat-sertifikat utang nasional, wali wajib memindahkannya
ke dalam buku besar atas nama anak belum dewasa.
Surat piutang atas beban Indonesia pun harus dipindahkannya atas
nama anak belum dewasa. Dengan ancaman hukuman membayar biaya, kerugian
dan bunga, wali pengawas harus berusaha agar peraturan ini dilaksanakan.
Bagaimana
Balai Harta Peninggalan menurut pasal ini dan pasal-pasal 371 dan
374 harus melaksanakan kewajiban untuk membayar ganti kerugian bagi
semua anggota majelis bersama-sama atau bagi setiap anggota khususnya,
diatur oleh pemerintah dalam sebuah instruksi bagi semua Balai Harta
Peninggalan.
393. Wali tidak boleh meminjam uang untuk kepentingan anak
belum dewasa, juga tidak boleh mengasingkan atau menggadaikan barang-barang
tak bergerak, pula tidak boleh menjual atau memindahtangankan surat-surat
utang negara, piutang-piutang dan andil-andil, tanpa memperoleh
kuasa untuk itu dari Pengadilan Negeri Pengadilan Negeri tidak akan
memberikan kuasa ini, kecuali atas dasar keperluan yang mutlak atau
bila jelas bermanfaat dan setelah mendengar atau memanggil dengan
sah keluarga semenda atau sedarah anak belum dewasa dan wali pengawas.
394. Bila wali hendak menjual barang-barang tak bergerak,
maka surat permohonan yang diajukan oleh wali harus dilampiri sebuah
daftar segala harta kekayaan anak belum dewasa dan dalam daftar
itu harus disebutkan barang-barang yang hendak dijual. Pengadilan
Negeri berwenang untuk mengizinkan penjualan barang-barang itu,
baik barang-barang yang ditunjuk maupun barang-barang lain, yang
menurut pertimbangan Pengadilan Negeri penjualan barang-barang itu
tidak menimbulkan begitu banyak kerugian bagi anak belum dewasa.
395 Penjualan harus dilakukan di muka umum, di hadapan wali
pengawas, oleh pegawai yang berhak dan menurut kebiasaan setempat.
396. Pengadilan Negeri boleh mengizinkan penjualan di bawah
tangan suatu barang tak bergerak dalam hal-hal yang luar biasa dan
bila kepentingan anak belum dewasa menghendakinya. Izin itu tidak
akan diberikan, kecuali atas permintaan wali yang harus disertai
alasan-alasannya dan dengan persetujuan bersama dari wali pengawas
dan keluarga sedarah atau semenda. Bila keluarga sedarah atau semenda
tidak semua datang menghadap atas panggilan, maka cukup persetujuan
bersama dari mereka yang datang. Barang tidak bergerak itu tidak
boleh dijual dengan harga yang lebih rendah dari harga yang sebelum
pemberian izin telah ditaksir oleh tiga orang ahli yang diangkat
oleh Pengadilan Negeri. 397.
Segala bentuk acara yang ditentukan dalam Pasal 393 tidak berlaku,
bila dalam suatu putusan pengadilan, atas permintaan salah seorang
di antara beberapa orang pemilik barang yang belum dibagi, diperintahkan
menjualnya, kecuali bahwa penjualan itu selalu harus dilakukan di
muka umum. 398.
Bila Hakim sehubungan dengan Pasal 393, mengizinkan penjualan surat-surat
berharga milik anak belum dewasa, maka boleh ditetapkan bahwa penjualan
itu hendaknya dilakukan di bawah tangan, asalkan surat-surat tersebut
adalah sedemikian rupa, sehingga harga atau pemberitahuan sejenis
itu, sebagaimana lazimnya dikeluarkan di Indonesia.
399. Wali tidak boleh menjual barang: tak bergerak anak belum
dewasa selain dengan lelang umum. Dalam hal itu pembelian tidak
akan mempunyai kekuatan, sebelum disahkan oleh Pengadilan Negeri
menurut syarat-syaratnya dan ketentuan dalam alinea-alinea kedua,
ketiga dan keempat pasal 396.
400. Wali tidak boleh menyewa atau mengambil sebagai hak
usaha untuk din sendiri barang-barang anak belum dewasa, kecuali
Pengadilan Negeri telah mengizinkan syarat-syaratnya setelah mendengar
atau memanggil dengan sah keluarga sedarah atau semenda anak belum
dewasa dan wali pengawas; dalam hal demikian, wali-pengawaslah yang
berhak mengadakan perjanjian dengan wali. Tanpa izin yang sama,
wali tidak boleh menerima penyerahan hak atau piutang terhadap mereka
yang ada di bawah perwaliannya.
401. Wali tidak boleh menerima warisan yang diperuntukkan
bagi anak belum dewasa, selain dengan hak istimewa akan pendaftaran
harta peninggalan. Wali tidak boleh menolak warisan tanpa izin untuk
itu yang diperoleh dengan cara yang ditentukan dalam Pasal 393.
402.
Izin yang sama diperlukan juga untuk menerima sebuah hibah yang
diperuntukkan bagi anak belum dewasa akibat hibah yang demikian
adalah sama seperti akibat hibah yang diberikan kepada seorang yang
telah dewasa.
403. Sebelum mengajukan gugatan di muka Hakim untuk anak
belum dewasa, atau sebelum membelanya terhadap suatu gugatan, atas
tanggung jawab sendiri wali boleh meminta kepada Balai Harta Peninggalan
supaya dikuasakan untuk itu; balai itu, atas permintaan tersebut,
harus menanyakan terlebih dahulu pendapat para keluarga sedarah
atau semenda anak belum dewasa, demikian pula pendapat wali pengawas,
sekiranya perwalian pengawas tidak dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan
sendiri. Wali
yang tanpa izin tersebut mengajukan gugatan di muka Hakim atau mengadakan
pembelaan atas suatu gugatan dan dapat dihukum oleh Hakim untuk
membayar biaya perkara dengan uangnya sendiri, bila dipandangnya
bahwa tidak dengan alasan yang layak perkara itu dimulainya atau
dipertahankannya; hal ini tidak mengurangi kewajiban wali untuk
membayar biaya, kerugian dan bunga, kiranya ada alasannya untuk
itu.
Hukuman yang sama dapat juga diberikan bila ternyata bahwa izin
tersebut didapatnya karena penuturan yang bohong atau penyembunyian
keadaan yang sebenarnya. 404.
Dalam suatu perkara yang diajukan terhadap anak belum dewasa, wali
tidak leluasa menyatakan menerima putusan tanpa kuasa untuk itu
dari Balai Harta Peninggalan dengan cara yang disebutkan dalam permulaan
pasal yang lalu. 405.
Wali diharuskan mendapat izin yang sama, bila ia hendak meminta
pemisahan atau pembagian tetapi tanpa izin ia boleh menjawab tuntutan
akan pemisahan atau pembagian yang diajukan terhadap anak belum
dewasa.
406. Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam hal
pemisahan dan pembagian harta yang menyangkut kepentingan anak belum
dewasa, ditetapkan dalam Bab XVII Buku Kedua yang berjudul Pemisahan
Harta Peninggalan. 406a.
Bila anak-anak belum dewasa yang berada di bawah beberapa orang
wali mempunyai harta kekayaan yang sama, Pengadilan Negeri boleh
menunjuk salah seorang dari mereka atau orang lain untuk menyelenggarakan
pengurusan harta kekayaan itu sampai pemisahan dan pembagian selesai,
atas jaminan yang ditentukan Pengadilan Negeri. 407.
Tanpa izin yang dibicarakan dalam Pasal 393, wali tidak boleh mengadakan
perdamaian atas nama anak belum dewasa, pula tidak diperbolehkan
menyerahkan penyelesaian suatu perkara kepada wasit. 408.
Jika bapak atau ibu dan isterinya atau suaminya yang telah lebih
dulu meninggal dunia, dulunya kawin dengan harta bersama secara
penuh atau terbatas, maka Pengadilan Negeri, setelah mendengar atau
memanggil dengan sah para keluarga sedarah atau semenda beserta
wali-pengawas, boleh memberi kuasa kepadanya agar selarma waktu
yang ditentukan, bahkan sampai anak yang belum dewasa menjadi dewasa,
terus menguasai harta kekayaan itu, pendapatan perusahaan, perdagangan,
pabrik atau yang sejenis itu. Izin ini tidak dapat diberikan, kecuali
jika setelah Pengadilan Negeri melihat daftar kekayaan, ternyata
bahwa kepentingan anak belum dewasa adalah sangat besar dan ada
jaminan yang diberikan oleh wali atau wali-pengawas.
Izin tersebut atas permohonan wali atau walipengawas, boleh dicabut
setelah mendengar seperti di atas. Bahkan Kejaksaan, karena jabatan,
boleh menuntut pencabutan izin itu.
BAGIAN 12
409. Setiap wali, wajib mengadakan perhitungan penutup dan
pertanggungjawaban. 410.
Perhitungan dan pertanggungjawaban itu harus dilakukan atas biaya
dan kepada anak belum dewasa bila ia telah menjadi dewasa, atau
kepada ahli warisnya bila ia telah meninggal, atau kepada pengganti
pengurus. Wali harus membayar lebih dulu biaya-biaya untuk itu.
Dalam perhitungan itu, untuk semua pengeluaran yang perlu, yang
pantas dan yang cukup beralasan, wali harus mendapat penggantian.
411.
Semua wali, kecuali bapak, ibu dan wali-peserta, boleh memperhitungkan
upah sebesar tiga persen dari segala pendapatan, dua persen dari
segala pengeluaran, dan satu setengah persen dari modal yang mereka
terima, kecuali jika mereka lebih suka menerima upah yang ditentukan
dengan surat wasiat atau dengan akta otentik tersebut dalam Pasal
355; dalam hal yang demikian mereka tidak boleh memperhitungkan
upah yang lebih besar.
412. Setiap persetujuan mengenai perwalian dan perhitungan
perwalian, yang telah diadakan antara wali dan anak belum dewasa
yang sementara itu menjadi dewasa, adalah batal dan tidak berharga,
bila persetujuan itu tidak didahului perhitungan yang baik dan pertanggungjawaban
dengan alat-alat bukti yang diperlukan; semuanya itu harus dinyatakan
dengan pengakuan tertulis dari pihak yang kepadanya harus dilakukan
perhitungan itu, yang diberikan sekurangkurangnya sepuluh hari sebelum
persetujuan.
413. Perhitungan penutup yang harus diadakan oleh wali, tanpa
ditagih pun harus memberikan bunga sejak hari perhitungan ditutup.
Segala bunga dari apa yang masih menjadi utang anak belum dewasa
terhadap walinya tidak akan berjalan, kecuali sejak hari teguran
pelaksanaan pembayaran, setelah perhitungan dan pertanggungjawaban
ditutup.
414. Segala tuntutan anak belum dewasa terhadap walinya berkenaan
dengan tindakan-tindakan perwalian, gugur karena lewat waktu setelah
lewat sepuluh tahun, terhitung sejak anak menjadi dewasa.
BAGIAN 13 415.
Dalam daerah hukum setiap Pengadilan Negeri ada Balai Harta Peninggalan,
yang daerah dan tempat kedudukannya sama dengan daerah dan tempat
kedudukan Pengadilan Negeri.
Pemerintah boleh menentukan, bahwa segala kekuasaan yang diberikan
kepada suatu Balai Harta Peninggalan beserta usaha-usahanya, dipangku
dan dijalankan oleh atau atas nama salah satu Balai Harta Peninggalan
yang lain. Dalam hal demikian, Balai Harta Peninggalan tersebut
terakhir harus diwakili oleh seorang anggota perwakilan yang berkantor
di tempat Balai Harta Peninggalan tersebut pertama. Kecuali dalam
hal yang ditunjukkan dalam instruksi untuk semua Balai Harta Peninggalan,
anggota perwakilan itu selamanya berkuasa untuk bertindak atas nama
Balai Harta Peninggalan.
Bila pemerintah telah mempergunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya
dalam alinea yang lalu, maka Balai Harta Peninggalan yang diperintahkan
bertugas untuk Balai Harta Peninggalan lain, dalam segala urusan
yang mengenai majelis tersebut terakhir, dianggap mempunyai tempat
tinggal semata-mata di kantor anggota perwakilan tersebut.
Untuk setiap Balai Harta Peninggalan harus diangkat agen-agen di
tempat-tempat yang benar membutuhkannya. Penunjukkan wakil semua
Balai Harta Peninggalan di Negeri Belanda dilakukan oleh Menteri
Urusan Daerah Seberang Lautan, yang harus membuat instruksi bagi
perwakilan tersebut. 416. Instruksi untuk semua Balai Harta Peninggalan
ditentukan oleh pemerintah. setelah mendengar Mahkamah Agung. Instruksi
ini mengatur susunan dan peraturan dalam tiap-tiap Balai Harta Peninggalan
sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perundang-undangan baru.
416a. Dalam daerah hukum setiap Pengadilan Negeri, ada sebuah
dewan perwalian, yang ditugaskan melakukan segala usaha pemeliharaan,
kecuali campur tangan yang dengan tegas disebutkan dalam kitab undang-undang
ini dan peraturan-peraturan pemerintah lainnya, bagi anak belum
dewasa yang dipercayakan kepadanya dengan putusan Hakim menurut
Pasal 214, Pasal 319f alinea kelima, atau Pasal 382 alinea ketiga
seperti juga bagi anak-anak diserahkan kepadanya oleh Kejaksaan
menurut Pasal 319i atau Pasal 382a.
Daerah dan tempat kedudukan dewan perwalian sama dengan daerah dan
tempat kedudukan Pengadilan Negeri Biaya yang dikeluarkan dewan
perwalian dibebankan kepada negara. Bila dewan perwalian, menurut
bab ini atau Bab X, Xl, XIV dan XIVA buku ini, maju ke pengadilan,
maka bantuan seorang pengacara atau advokat tidak diharuskan. Dewan
perwalian harus berusaha, agar segala uang yang dibayar oleh orang-orang
yang menurut buku ini wajib memberikan tunjangan untuk nafkah dan
pendidikan anak belum dewasa, digunakan sesuai dengan maksudnya.
416b. Tanpa mengurangi ketentuan alinea berikut, dewan perwalian
terdiri dari Balai Harta Peninggalan setempat, dengan jumlah anggota
yang ditentukan oleh pemerintah.
Bila pemerintah mempergunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya
oleh alinea kedua Pasal 415 maka dewan perwalian terdiri dari anggota
perwakilan Balai Harta Peninggalan yang berkedudukan di lain daerah,
yaitu anggota yang berkantor di daerah setempat, dan sejumlah anggota
yang ditentukan oleh presiden.
Pegawai Balai Harta Peninggalan melakukan tugas pada dewan perwalian
sama seperti pada Balai Harta Peninggalan. Cara dewan perwalian
menunaikan tugasnya, diatur oleh pemerintah. Untuk tiap dewan perwalian,
di tempat-tempat yang membutuhkannya diangkat agen-agen. 417.
Setiap Balai Harta Peninggalan dan dewan perwalian boleh mewakilkan
atau menguasakan dirinya kepada salah seorang anggota atau pegawainya,
atau kepada seorang agennya dalam hal bila mereka selaku majelis
harus menunaikan tugas di luar gedung rapat mereka.
Dalam hal-hal, bila Balai Harta Peninggalan dan dewan perwalian
minta pertimbangan, mereka harus menyatakan pendapatnya secara tertulis
dengan alasan-alasannya.
418. Balai Harta Peninggalan dan dewan perwalian tidak bisa
dikesampingkan dari segala campur tangan, yang diperintahkan kepada
mereka menurut ketentuan undang-undang. Segala perbuatan dan perjanjian
yang bertentangan dengan ketentuan di atas adalah batal dan tidak
berharga.
418a. Kepala Daerah dan Pegawai Catatan Sipil wajib sedapat
mungkin memberikan keterangan-keterangan dengan cuma-cuma kepada
Balai Harta Peninggalan dan dewan perwalian, dan dengan cuma-cuma
pula memberikan semua salinan dan petikan dari daftar-daftar yang
diminta oleh majelis tersebut untuk kepentingan tugas yang harus
mereka lakukan; salinan dan petikan yang diberikan itu bebas dari
meterai. BAB
XVI
419. Dengan pendewasaan, seorang anak yang di bawah umur
boleh dinyatakan dewasa, atau kepadanya boleh diberikan hak-hak
tertentu orang dewasa.
420. Pendewasaan yang menjadikan orang yang masih di bawah
umur menjadi dewasa, diperoleh dengan venia aetatis atau surat-surat
pernyataan dewasa yang diberikan oleh pemerintah setelah mempertimbangkan
nasihat Mahkamah Agung. 421.
Permohonan akan surat pernyataan dewasa boleh diajukan kepada pemerintah
oleh anak yang di bawah umur, bila ia telah mencapai umur dua puluh
tahun penuh. Pada surat permohonan itu harus dilampirkan akta kelahiran,
atau bila itu tidak dapat diberikan, tanda bukti lain yang sah tentang
umur yang diisyaratkan itu. 422.
Mahkamah Agung tidak memberi nasihat sebelum mendengar atau memanggil
secukupnya kedua orangtua anak yang di bawah umur itu atau orangtuanya
yang masih hidup, dan bila anak yang di bawah umur itu ada dalam
perwalian, walinya, wali pengawasnya dan keluarga-keluarga sedarah
atau semenda.
423. Alinea keempat Pasal 206 berlaku terhadap pemeriksaan
termaksud dalam pasal yang lampau mengenai para orangtua, wali dan
wali pengawas yang bertempat tinggal atau berdiam di luar kabupaten
tempat Mahkamah Agung berkedudukan, Pegawai yang ditugaskan melakukan
pemeriksaan itu, harus memberikan penjelasan apa saja yang dianggapnya
perlu pada waktu mengirimkan berita acaranya. Berita acara itu dengan
penjelasannya harus dilampirkan pada nasihat yang harus disampaikan
oleh Mahkamah Agung kepada pemenntah.
424. Anak yang telah dinyatakan dewasa, dalam segala hal
sama dengan orang dewasa. Akan tetapi mengenai pelaksanaan perkawinan,
dia tetap wajib dari para orangtuanya atau dari kakek neneknya.
atau dari Pengadilan Negeri menurut ketentuan-ketentuan Pasal 35
dan 37, sainpai ia mencapai umur dua puluh satu tahun penuh, sedangkan
terhadap anak-anak luar kawin yang telah diakui, Pasal 39 alinea
pertama tetap berlaku sampai mereka mencapai umur dua puluh satu
tahun penuh. 425.
Untuk kepentingan anak yang masih di bawah umur itu, pemerintah
bebas untuk menambahkan pada surat pernyataan dewasa, dia tidak
diperbolehkan, sampai dia mencapai umur dua puluh satu tahun penuh,
untuk memindahtangankan atau membebani harta tak bergeraknya selain
dengan persetujuan Pengadilan Negeri di tempat tinggalnya yang diberikan
setelah mendengar atau memanggil secukupnya kedua orangtuanya, atau
salah Seorang yang masih hidup dari mereka, atau bila keduanya sudah
tidak ada, keluarga-keluarga sedarah atau semenda. Dalam
hal penjualan, Pengadilan Negeri boleh juga menyetujui hal itu dilakukan
di bawah tangan. Terhadap pemeriksaan kedua orangtua, alinea keempat
Pasal 206 berlaku.
426. Pendewasaan, yang memberikan hak-hak tertentu sebagai
orang dewasa kepada anak yang di bawah umur, boleh diberikan oleh
Pengadilan Negeri kepada anak yang di bawah umur atas permohonannya,
bila ia telah mencapai umur delapan belas tahun penuh. Hal itu tidak
diberikan bila bertentangan dengan kemauan salah seorang orangtuanya
yang melakukan kekuasaan orangtua atau perwalian.
427. Pengadilan Negeri tidak mengambil keputusan sebelum
mendengar atau memanggil dengan sah kedua orangtuanya. bila anak
yang di bawah umur itu ada dalam kekuasaan orangtuanya, atau bila
ia ada dalam perwalian, mendengar atau memanggil dengan sah walinya,
wali pengawasnya, keluarga sedarah atau semenda, serta kedua orangtuanya
atau orangtua yang masih hidup bila yang melakukan perwalian atas
orang yang di bawah umur itu bukan orangtuanya. Alinea
keempat Pasal 206 berlaku dalam hal mendengar para orangtua, wali
dan wali-pengawas. Sebelum mengambil keputusan, Pengadilan Negeri
boleh memerintahkan anak yang di bawah umur itu untuk menghadap
sendiri. Sebelum menutup pemeriksaan. Pengadilan Negeri harus menentukan
hari pengambilan keputusan. Terhadap keputusan Pengadilan Negeri,
tidak dapat dimintakan banding.
428. Pada waktu memberikan pendewasaan, Pengadilan Negeri
harus menentukan dengan tegas, hak-hak kedewasaan manakah yang diberikan
kepada anak yang di bawah umur itu. 429.
Anak yang di bawah umur yang telah mendapat pendewasaan demikian
itu, dianggap sebagai orang dewasa hanya dalam hal perbuatan-perbuatan
dan tindakan-tindakan yang dengan tegas diperintahkan kepadanya,
dan Ia tidak boleh mengingkari keabsahannya atas dasar kebelumdewasaan.
Untuk hal-hal lainnya dia tetap dalam kedudukan belum dewasa.
430. Wewenang dan hak-hak yang diberikan kepada anak yang
belum dewasa menurut Pasal 426,427 dan 428, tidak boleh lebih daripada
wewenang dan hak untuk menerima seluruh atau sebagian pendapatannya.
mengeluarkan dan menggunakan pendapatannya itu, mengadakan persewaan,
menggarap tanah-tanahnya, dan melakukan usaha-usaha yang perlu untuk
itu, melakukan suatu pekerjaan tangan, mendirikan suatu pabrik atau
ikut berusaha dalam itu, dan akhirnya menjalankan mata pencaharian
dan perdagangan.
Dalam kedua hal tersebut terakhir, anak yang di bawah umur itu berwenang
seperti orang dewasa untuk mengangkat segala perjanjian yang berhubungan
dengan pabrik itu, mata pencarian dan perdagangan itu, kecuali pemindahtanganan
dan pembebanan harta-harta tetapnya dan pemindahtanganan efek-efeknya
yang memberi bunga, surat-surat pendaftaran dalam buku besar utang-utang
negara, tagihan-tagihan utang hipotek dan saham-saham dalam perseroan
terbatas atau perseroan lain. Dalam hal perbuatan-perbuatan yang
boleh dia lakukan berdasarkan pendewasaan yang telah diperolehnya,
dia boleh bertindak di Pengadilan, baik sebagai penggugat maupun
sebagai tergugat. Pasal 21 tidak berlaku terhadap perbuatan-perbuatan
itu.
431. Pendewasaan tersebut dalam lima pasal yang lampau, oleh
Pengadilan Negeri boleh ditarik kembali, bila anak yang di bawah
umur itu menyalahgunakannya atau bila ada cukup kekhawatiran, bahwa
dia akan menyalahgunakannya Penarikan kembali dilakukan atas permohonan
bapaknya. bila kedua orangtuanya masih hidup, atau atas permohonan
ibunya, bila kekuasaan orangtua dilakukan olehnya, atau atas permohonan
wali atau wali pengawas, bila orang yang dibawah umur itu berada
dalam perwalian.
Terhadap permohonan itu tidak diambil keputusan sebelum mendengar
atau memanggil dengan sah anak yang di bawah umur itu dan walinya,
bila permohonan itu diajukan oleh wali pengawasnya, atau mendengar
atau memanggil dengan sah wali pengawas, bila permohonannya diajukan
oleh wali.
Pengadilan Negeri boleh memerintahkan supaya keluarga sedarah atau
semenda. dan bapaknya atau ibunya, sekiranya salah seorang dari
antara mereka masih hidup tanpa dibebani tugas perwalian, dipanggil
atau didengar. Pengadilan mengambil keputusan tanpa banding. Alinea
keempat Pasal 206 tidak berlaku terhadap pemeriksaan para orangtua,
wali dan wali pengawas.
432. Semua pendewasaan tersebut dalam bab ini, demikian pula
pencabutannya menurut pasal-pasal yang Iampau, harus diumumkan dengan
cara membuat maklumat dan memasangnya dalam berita negara.
Dalam maklumat pendewasaan itu, harus dicantumkan dengan teliti,
bagaimana dan untuk apa itu diberikan. Sebelum diadakan maklumat
ini, baik pendewasaan itu maupun pencabutannya, tidak berlaku terhadap
pihak ketiga. BAB
XVII
433.
Setiap orang dewasa, yang selalu berada dalam keadaan dungu,
gila atau mata gelap, harus ditempatkan di bawah pengampuan, sekalipun
ia kadang-kadang cakap menggunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh
juga ditempatkan di bawah pengampuan karena keborosan.
434. Setiap keluarga sedarah berhak minta pengampuan keluarga
sedarahnya berdasarkan keadaan dungu, gila atau mata gelap. Disebabkan
karena pemborosan, pengampuan hanya dapat diminta oleh para keluarga
sedarah dalam garis lurus, dan oleh mereka dalam garis samping sampai
derajat keempat. Barang siapa karena lemah akal pikirannya, merasa
tidak cakap mengurus kepentingan sendiri dengan baik, dapat minta
pengampuan bagi dirinya sendiri.
435.
Bila seseorang yang dalam keadaan mata gelap tidak dimintakan pengampuan
oleh orang-orang tersebut dalam pasal yang lalu, maka jawatan Kejaksaan
wajib memintanya.
Dalam
hal dungu atau gila, pengampuan dapat diminta oleh jawatan Kejaksaan
bagi seseorang yang tidak mempunyai suami atau isteri, juga yang
tidak mempunyai keluarga sedarah yang dikenal di Indonesia.
436. Semua permintaan untuk pengampuan harus diajukan kepada
Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya tempat berdiam orang
yang dimintakan pengampuan.
437. Peristiwa-peristiwa yang menunjukkan keadaan dungu,
gila, mata gelap atau keborosan, harus dengan jelas disebutkan dalam
surat permintaan. dengan bukti-bukti dan penyebutan saksi-saksinya.
438. Bila Pengadilan Negeri berpendapat, bahwa peristiwa-peristiwa
itu cukup penting guna mendasarkan suatu pengampuan, maka perlu
didengar para keluarga sedarah atau semenda.
439. Pangadilan Negeri setelah mendengar atau memanggil dengan
sah orang-orang tersebut dalam pasal yang lalu, harus mendengar
pula orang yang dimintakan pengampuan, bila orang itu tidak mampu
untuk datang, maka pemeriksaan harus dilangsungkan di rumahnya oleh
seorang atau beberapa orang Hakim yang diangkat untuk itu, disertai
oleh panitera, dan dalam segala hal dihadiri oleh jawatan Kejaksaan.
Bila rumah orang yang dimintakan pengampuan itu terletak dalam jarak
sepuluh pal dari Pengadilan Negeri, maka pemeriksaan dapat dilimpahkan
kepada kepala pemerintahan setempat. Dan pemeriksaan ini, yang tidak
perlu dihadiri jawatan Kejaksaan, harus dibuat berita acara yang
salinan otentiknya dikirimkan kepada Pengadilan Negeri.
Pemeriksaan tidak akan berlangsung sebelum kepada yang dimintakan
pengampuan itu diberitahukan isi surat permintaan dan laporan yang
memuat pendapat dari anggota-anggota keluarga sedarah.
440. Bila Pengadilan Negeri, setelah mendengar atau memanggil
dengan sah keluarga sedarah atau semenda, dan setelah mendengar
pula orang yang dimintakan pengampuan, berpendapat bahwa telah cukup
keterangan yang diperoleh, maka Pengadilan dapat memberi keputusan
tentang surat permintaan itu tanpa tata cara lebih lanjut, dalam
hal yang sebaliknya, Pengadilan Negeri harus memerintahkan pemeriksaan
saksi-saksi agar peristiwa-peristiwa yang dikemukakannya menjadi
jelas.
441. Setelah mengadakan pemeriksaan tersebut dalam Pasal
439, bila ada alasan, Pengadilan Negeri dapat mengangkat seorang
pengurus sementara untuk mengurus pribadi dan barang-barang orang
yang dimintakan pengampuannya.
442.
Putusan atas suatu permintaan akan pengampuan harus diucapkan dalam
sidang terbuka, setelah mendengar atau memanggil dengan sah semua
pihak dan berdasarkan kesimpulan Jaksa.
443.
Bila dimohonkan banding, maka Hakim banding sekiranya ada alasan,.
dapat mendengar lagi atau menyuruh mendengar lagi orang yang dimintakan
pengampuan.
444. Semua penetapan dan putusan yang memerintahkan pengampuan,
dalam waktu yang ditetapkan dalam penetapan atau keputusan ini,
harus diberitahukan oleh pihak yang memintakan pengampuan kepada
pihak lawannya dan diumumkan dengan menempatkan dalam Berita Negara;
semuanya atas ancaman hukuman membayar segala biaya, kerugian dan
bunga sekiranya ada alasan untuk itu.
445. Bila pengampuan diminta sehubungan dengan alinea keempat
Pasal 434, Pengadilan Negeri mendengar para keluarga sedarah atau
semenda dan, sendiri atau dengan wakilnya,, suami atau isterinya
yang meminta, sekiranya ini berada di Indonesia; juga harus dilakukan
ketentuan-ketentuan dalam Pasal 439 alinea kesatu dan kedua, 440,441
dan 442. Dalam hal demikian jawatan Kejaksaan harus menyelenggarakan
pengumuman mengenai keputusan dengan cara yang dicantumkan dalam
Pasal 444.
446.
Pengampuan mulai berjalan, terhitung sejak putusan atau penetapan
diucapkan. Semua tindak perdata yang setelah itu dilakukan oleh
orang yang ditempatkan di bawah pengampuan, adalah batal demi hukum.
Namun demikian, seseorang yang ditempatkan di bawah pengampuan karena
keborosan, tetap berhak membuat surat-surat wasiat.
447.
Semua tindak perdata yang terjadi sebelum perintah pengampuan diucapkan
berdasarkan keadaan dungu, gila dan mata gelap, boleh dibatalkan,
bila dasar pengampuan ini telah ada pada saat tindakan-tindakan
itu dilakukan.
448. Setelah seseorang meninggal dunia, maka segala tindak
perdata yang telah dilakukannya, kecuali pembuatan surat-surat wasiat
berdasarkan keadaan dungu, gila dan mata gelap, tidak dapat disanggah,
selain bila pengampuan atas dirinya telah diperintahkan atau dimintakan
sebelum ia meninggal dunia, kecuali bila bukti-bukti tentang penyakit
itu tersimpul dari perbuatan yang disanggah itu.
449.
Bila keputusan tentang pengampuan telah mendapatkan kekuatan hukum
yang pasti, maka oleh Pengadilan Negeri diangkat seorang pengampu.
Pengangkatan itu segera diberitahukan kepada Balai Harta Peninggalan.
Pengampuan pengawas diperintahkan kepada Balai Harta Peninggalan.
Dalam hal yang demikian, berakhirlah segala campur tangan pengurus
sementara, yang wajib mengadakan perhitungan dan pertanggungjawaban
atas pengurusannya kepada pengampu, bila Ia sendiri yang diangkat
menjadi pengampu, maka perhitungan dan pertanggungjawaban itu harus
dilakukan kepada pengampu pengawas.
450.
Dihapus dengan S. 1927- 31 jis. 390,421.
451.
Kecuali jika ada alasan-alasan penting menghendaki pengangkatan
orang lain menjadi pengampu, suami atau isteri harus diangkat menjadi
pengampu bagi isteri atau suaminya, tanpa mewajibkan isteri mendapatkan
persetujuan atau kuasa apa pun juga untuk menerima pengangkatan
itu.
452. Orang yang ditempatkan di bawah pengampuan berkedudukan
sama dengan anak yang belum dewasa. Bila seseorang yang karena keborosan
ditempatkan di bawah pengampuan hendak melangsungkan perkawinan,
maka ketentuan-ketentuan Pasal 38 dan 151 berlaku terhadapnya. Ketentuan
undang-undang tentang perwalian atas anak belum dewasa, yang tercantum
dalam pasal 331 sampai dengan 344, Pasal-pasal 362, 367, 369 sampai
dengan 388, 391 dan berikutnya dalam Bagian 11, 12 dan 13 Bab XV,
berlaku juga terhadap pengampuan.
453. Bila seseorang ditempatkan di bawah pengampuan mempunyai
anak-anak belum dewasa serta menjalankan kekuasaan orangtua, sedangkan
isteri atau suaminya telah dibebaskan atau diberhentikan dari kekuasaan
orangtua, atau berdasarkan Pasal 246 tidak diperintahkan menjalankan
kekuasaan orangtua, atau tidak memungkinkan untuk menjalankan kekuasaan
orangtua, seperti juga jika orang yang di bawah pengampuan itu menjadi
wali atas anak-anaknya yang sah, maka demi hukum pengampu adalah
wali atas anak-anak belum dewasa itu sampai pengampuannya dihentikan,
atau sampai isteri atau suaminya memperoleh perwalian itu karena
penetapan Hakim yang dimaksudkan dalam Pasal 206 dan 230, atau mendapatkan
kekuasaan orangtua berdasarkan Pasal 246a, atau dipulihkan dalam
kekuasaan orangtua atau perwalian.
454. Penghasilan orang yang ditempat di bawah pengampuan
karena keadaan dungu. gila atau mata gelap, harus digunakan khusus
untuk memperbaiki nasibnya dan memperlancar penyembuhan.
455. Dicabut dengan S. 1897-53.
456. Terhadap orang-orang yang tidak dapat dibiarkan mengurus
diri sendiri atau membahayakan keamanan orang lain karena kelakuannya
terlanjur buruk dan terus menerus buruk, harus dilakukan tindakan
seperti diatur dalam Reglemen Susunan Kehakiman dan Kebijaksanaan
Mengadili di Indonesia.
457. Dalam hal adanya kepentingan yang mendesak para kepala
daerah setempat, menjelang pengesahan Pengadilan Negeri, berkuasa
memerintahkan penahanan sementara orang-orang yang dimaksud dalam
Pasal-pasal yang lalu. Mereka wajib untuk bertindak secara cermat;
dan selambat-lambatnya dalam empat hari atau, dalam hal tempat kedudukan
Pengadilan Negeri yang bersangkutan ada di pulau lain, dengan kapal
yang pertama, mereka harus mengirimkan surat-surat tentang penahanan
kepada Kejaksaan yang berwenang & yang harus menyampaikan lagi surat-surat
itu dengan tuntutannya kepada Pengadilan Negeri segera setelah menerima
surat-surat itu.
Bila Pengadilan Negeri tidak menemukan alasan-alasan guna menguatkan
penahanan, maka dengan putusan harus diperintahkan supaya orang
yang ditahan itu segera dikeluarkan dari tahanan. Putusan ini harus
segera dilaksanakan oleh kepala daerah yang bersangkutan segera
setelah diterimanya, dan hal itu harus diberitahukan kepada Kejaksaan
dengan cara seperti yang ditentukan dalam alinea kedua pasal ini.
458. Seorang anak belum dewasa yang ada di bawah pengampuan
tidak dapat melakukan perkawinan, pula tidak dapat mengadakan perjanjian-perjanjian
selain dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan pada Pasal 38 dan
151.
459.
Tiada seorang pun, kecuali suami isteri dan keluarga sedarah dalam
garis ke atas atau ke bawah, wajib menjalankan suatu pengampuan
lebih dari delapan tahun lamanya setelah waktu itu lewat, pengampu
boleh minta dibebaskan dan permintaan ini harus dikabulkan.
460.
Pengampuan berakhir bila sebab-sebab yang mengakibatkannya telah
hilang; tetapi pembebasan dari pengampuan itu tidak akan diberikan,
selain dengan memperhatikan tata cara yang ditentukan oleh undang-undang
guna memperoleh pengampuan, dan karena itu orang yang ditempatkan
di bawah pengampuan tidak boleh menikmati kembali hak-haknya sebelum
keputusan tentang pembebasan pengampuan itu memperoleh kekuatan
hukum yang pasti.
461. Pembebasan diri pengampuan harus diumumkan dengan cara
yang diatur dalam Pasal 444.
KETENTUAN PENUTUP
462. Seorang anak belum dewasa yang berada dalam keadaan
dungu, gila atau gelap mata, tidak boleh ditempatkan di bawah pengampuan,
tetapi tetap berada di bawah pengawasan bapaknya, ibunya atau walinya.
BAB
XVIII 463.
Bila seseorang meninggalkan tempat tinggalnya tanpa memberi
kuasa untuk mewakilinya dalam urusan-urusan dan kepentingan-kepentingannya,
atau untuk mengatur pengelolaannya mengenai hal itu, ataupun bila
kuasa yang diberikannya tidak berlaku lagi, sedangkan keadaan sangat
memerlukan mengatur pengelolaan itu seluruhnya atau sebagian, atau
untuk mengusahakan wakil baginya, maka atas permohonan pihak-pihak
yang berkepentingan. atau atas tuntutan Kejaksaan, Pengadilan Negeri
di tempat tinggal orang yang dalam keadaan tidak hadir itu harus
memerintahkan Balai Harta Peninggalan untuk mengelola barang-barang
dan kepentingan-kepentingan orang itu seluruhnya atau sebagian,
membela hak-haknya, dan bertindak sebagai wakilnya. Semuanya
itu tidak mengurangi ketentuan-ketentuan khusus menurut undang-undang
dalam hal kepailitan atau ketidakmampuan yang nyata.
Sekiranya harta kekayaan dan kepentingan orang yang tidak hadir
itu sedikit, maka atas permintaan atau tuntutan seperti di atas,
ataupun dengan menyimpang dari permintaan atau tuntutan itu karena
jabatan, Pengadilan Negeri, baik karena dengan penetapan termaksud
dalam alinea pertama, maupun dengan penetapan lebih lanjut yang
masih akan diambilnya, juga berkuasa untuk memerintahkan pengelolaan
harta kekayaan dan pengurusan kepentingan itu kepada seorang atau
lebih yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri dari keluarga sedarah
atau semenda orang yang tidak hadir itu, atau kepada isteri atau
suaminya; dalam hal ini, satu-satunya kewajiban ialah bila orang
yang tak hadir itu kembali, maka keluarga, isteri atau suaminya
itu, wajib mengembalikan harta kekayaan itu atau harganya, setelah
dikurangi segala utang yang sementara itu telah dilunasinya, tanpa
hasil dan pendapatannya.
464. Balai Harta Peninggalan berkewajiban, jika perlu setelah
penyegelan, untuk membuat daftar lengkap harta kekayaan yang pengelolaannya
dipercayakan kepadanya. Untuk selanjutnya Balai Harta Peninggalan
harus mengindahkan peraturan-peraturan mengenai pengelolaan harta
kekayaan anak-anak yang masih di bawah umur, sejauh peraturan-peraturan
itu dapat diterapkan pada pengelolaannya, kecuali bila Pengadilan
Negeri menentukan lain mengenai hal-hal tersebut.
465. Balai Harta Peninggalan berkewajiban untuk memberikan
perhitungan dan pertanggungjawaban secara singkat dan memperlihatkan
efek-efek dan suratsurat yang berhubungan dengan pengelolaan itu
kepada jawatan Kejaksaan pada Pengadilan Negeri yang telah mengangkatnya.
Perhitungan ini dapat dibuat di atas kertas yang tidak bermeterai
dan disampaikan tanpa tata cara peradilan. Terhadap perhitungan
dan pertanggungjawaban ini jawatan Kejaksaan boleh mengajukan usul-usul
kepada Pengadilan Negeri, sejauh hal itu dianggapnya perlu untuk
kepentingan orang yang dalam keadaan tidak hadir itu.
Pengesahan perhitungan dan pertanggungjawaban ini tidak mengurangi
hak orang yang tidak hadir itu atau pihak-pihak lain yang berkepentingan
untuk mengajukan keberatan-keberatan terhadap perhitungan itu. 466.
Dihapus dengan S. 1928-210.
BAGIAN 2
467. Bila orang meninggalkan tempat tinggalnya tanpa memberi
kuasa untuk mewakili urusan-urusan dan kepentingan-kepentingannya
atau mengatur pengelolaannya atas hal itu, dan bila telah lampau
lima tahun sejak kepergiannya. atau lima tahun setelah diperoleh
berita terakhir yang membuktikan bahwa ia masih hidup pada waktu
itu, sedangkan dalam lima tahun itu tak pernah ada tanda-tanda tentang
hidupnya atau matinya. maka tak peduli apakah pengaturan-pengaturan
sementara telah diperintahkan atau belumi, orang yang dalam keadaan
tak hadir itu, atas permohonan pihak-pihak yang berkepentingan dan
dengan izin Pengadilan Negeri di tempat tinggal yang ditinggalkannya,
boleh dipanggil untuk menghadap pengadilan itu dengan panggilan
umum yang berlaku selama jangka waktu tiga bulan, atau lebih lama
lagi sebagaimana diperintahkan oleh Pengadilan. Bila
atas panggilan itu tidak menghadap, baik orang yang dalam keadaan
tidak hadir itu maupun orang lain untuknya, untuk memberi petunjuk
bahwa ia masih hidup, maka harus diberikan izin untuk panggilan
demikian yang kedua, dan setelah pemanggilan demikian yang ketiga
harus diberikan.
Panggilan ini tiap-tiap kali harus dipasang dalam surat-surat kabar
yang dengan tegas akan ditunjuk oleh Pengadilan Negeri pada waktu
memberikan izin yang pertama. dan tiap-tiap kali juga harus ditempelkan
pada pintu utama ruang sidang Pengadilan Negeri dan pada pintu masuk
kantor keresidenan tempat tinggal terakhir orang yang tidak hadir
itu.
468. Bila atas panggilan tidak datang menghadap, baik orang
yang dalam keadaan tak hadir maupun orang lain yang cukup menjadi
petunjuk tentang adanya orang itu, maka Pengadilan Negeri atas tuntutan
jawatan Kejaksaan dan setelah mendengar jawatan itu, boleh menyatakan
adanya dugaan hukum bahwa orang itu telah meninggal, terhitung sejak
hari ia meninggalkan tempat tinggalnya. atau sejak hari berita terakhir
mengenai hidupnya, yang harinya secara pasti harus dinyatakan dalam
keputusan itu.
469. Sebelum mengambil keputusan atas tuntutan itu, jika
perlu setelah mengadakan pemeriksaan saksi-saksi yang diperintahkan
untuk itu, dengan kehadiran jawatan Kejaksaan, Pengadilan Negeri
harus memperhatikan sebab-sebab terjadinya ketidakhadiran itu, sebab-sebab
yang mungkin telah menghalangi penerimaan kabar dari orang yang
dalam keadaan tak hadir itu, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan
dugaan tentang kematian.
Pengadilan Negeri, berkenaan dengan ini semua, boleh menunda pengambilan
putusan sampai lima tahun lebih lama daripada jangka waktu tersebut
dalam Pasal 467, dan boleh memerintahkan pemanggilan-pemanggilan
lebih lanjut dan penempatannya dalam surat kabar, sekiranya hal
itu dianggap perlu oleh pengadilan untuk kepentingan orang yang
dalam keadaan tak hadir itu.
470. Bila seseorang pada waktu meninggalkan tempat tinggalnya
telah memberikan kuasa untuk mewakilinya dalam urusan-urusannya,
atau telah mengatur pengelolaannya, dan bila telah lampau sepuluh
tahun sesudah keberangkatannya atau setelah berita terakhir bahwa
ia masih hidup, sedangkan dalam sepuluh tahun itu tidak ada tanda-tanda
apakah ia masih hidup atau telah mati, maka atas permohonan orang-orang
yang kepentingan, orang yang dalam keadaan tidak hadir itu boleh
dipanggil, dan boleh dinyatakan bahwa ada dugaan hukum tentang kematiannya,
dengan cara dan menurut peraturan-peraturan yang tercantum dalam
tiga pasal yang lalu. Berlalunya waktu sepuluh tahun ini diharuskan,
pun sekiranya kuasa yang diberikan atau pengaturan yang diadakan
oleh orang dalam keadaan tidak hadir itu telah berakhir lebih dahulu.
Akan tetapi dalam hal yang terakhir ini pengelolaan harus diselenggarakan
dengan cara seperti yang tercantum dalam Bagian I bab ini.
471. Pernyataan mengenai dugaan tentang kematian harus diumumkan
dengan menggunakan surat kabar yang telah digunakan dalam pemanggilan-pemanggilan.
BAGIAN 3
472. Orang-orang yang diduga menjadi ahli waris dari orang
yang dalam keadaan tak hadir, yakni mereka yang dinyatakan dalam
putusan Hakim itu berhak atas harta peninggalan orang yang dalam
keadaan tidak hadir itu, baik menurut hak waris karena kematian,
maupun menurut surat wasiat, berwenang untuk menuntut perhitungan,
pertanggungjawaban dan penyerahan barang-barang itu dari Balai Harta
Peninggalan, bila balai itu diserahi tugas pengelolaan barang-barang
orang yang dalam keadaan tak hadir itu, segala sesuatunya itu dilaksanakan
dengan mengadakan jaminan pribadi atau kebendaan, yang disahkan
oleh Pengadilan guna menjamin bahwa barang-barang itu akan digunakan
tanpa menjadi berantakan atau terlantar, dan bahwa barang-barang
itu atau, bila sifat barang-barang itu mengharuskan, harganya akan
dikembalikan, semuanya untuk kepentingan orang yang dalam keadaan
tak hadir itu sekiranya dia pulang kembali, atau untuk kepentingan
para ahli waris lainnya sekiranya hak mereka kemudian ternyata lebih
kuat. Dengan
demikian, mereka yang diduga menjadi ahli waris beserta orang-orang
yang berkepentingan, berwenang untuk menuntut supaya dibuka surat-surat
wasiatnya, sekiranya ada.
473. Bila tidak diberikan jaminan tersebut dalam pasal yang
lalu, barang-barang itu harus ditaruh di bawah pengelolaan pihak
ketiga, dan mengenai barang-barang bergerak harus diperintahkan
penjualannya, dengan mengindahkan peraturan-peraturan yang terdapat
dalam Pasal 786 dan 787 Kitab Undang-undang ini. 474.
Para ahli waris dugaan, berkenaan dengan hal menikmati harta peninggalan
orang yang dalam keadaan tak hadir, mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban
yang sama, seperti yang diatur untuk para pemegang hak pakai hasil,
sejauh ketentuan-ketentuan yang ditetapkan untuk hal itu berlaku,
dan tentang hal itu tidak ada peraturan lain. 475.
Atas dasar yang sama seperti yang ditentukan dalam tiga pasal yang
lalu tentang para ahli waris dugaan dari orang yang dalam keadaan
tak hadir, orang-orang yang mendapat hibah wasiat, dan orang-orang
lain yang sedianya mempunyai suatu hak atas harta peninggalan orang
yang dalam keadaan tak hadir itu bila dia meninggal, boleh segera
melakukan hak mereka.
476. Mereka yang menguasai atau mengelola barang-barang dari
orang yang dalam keadaan tak hadir, masing-masing sejauh mengenai
dirinya, berkewajiban untuk memberi perhitungan dan pertanggungjawaban
dan untuk menyerahkan barang-barang itu kepada orang yang dalam
keadaan tak hadir bila ia pulang, atau kepada para ahli waris atau
para pemegang hak lainnya, sekiranya mereka datang, dan menunjukkan
hak mereka yang lebih kuat.
477. Semua ahli waris dugaan itu, segera setelah mengambil
barang-barang ke dalam penguasaannya, berkewajiban untuk membuat
daftar lengkap barang-barang yang ditinggalkan orang yang dalam
keadaan tak hadir itu. Kepada mereka diberikan hak istimewa akan
pendaftaran harta peninggalan. Bila tidak diadakan pendaftaran harta
peninggalan demikian, seperti juga dalam hal-hal yang diatur dalam
Pasal 1031, mereka kehilangan hak istimewa tersebut di atas, tanpa
mengurangi kewajiban-kewajiban tersebut dalam pasal yang lalu.
478. Tanpa mengurangi ketentuan-ketentuan yang lalu, dan
sejauh karena itu tidak ada ketentuan lain, para ahli waris dugaan
boleh membagi di antara mereka segala harta peninggalan orang yang
dalam keadaan tak hadir yang telah mereka kuasai, dengan mengindahkan
peraturan-peraturan tentang pemisahan harta peninggalan. Namun barang-barang
tetapnya tidak boleh dijual untuk dapat mengadakan pemisahan itu,
melainkan harus ditaruh dalam suatu penitipan, bila tidak dapat
dibagi atau dimasukkan dalam suatu kapling, dan hasilnya dapat dibagi
menurut kesepakatan mereka. Tentang semuanya itu harus dibuatkan
dan ditandatangani sebuah akta, yang juga menunjukkan, barang-barang
apakah yang diberikan kepada penerima hibah wasiat dan orang-orang
lain yang berhak.
479. Daftar dan akta tersebut dalam pasal yang lalu, demikian
pula akta tentang jaminan, harus dibawa ke kepaniteraan Pengadilan
Negeri yang telah mengeluarkan keputusan tentang kematian dugaan,
dan disimpan di sana.
480. Mereka yang karena ketentuan-ketentuan yang lalu telah
mendapat bagian dari barang-barang tetap, atau ditugaskan untuk
mengelolanya, demi kepastian mereka boleh menuntut agar barang-barang
itu diperiksa oleh ahli-ahli, yang diangkat untuk itu oleh Pengadilan
Negeri yang di daerah hukumnya barang-barang itu terletak, dan agar
dibuatkan uraian tentang keadaannya. Setelah ahli-ahli jtu memberikan
perslah kepada Pengadilan, dan Pengadilan mengesahkannya, kemudian
mendengar jawatan Kejaksaan, maka uraian dan perslah itu harus disimpan
di kepaniteraan.
481. Barang-barang tetap kepunyaan orang yang dalam keadaan
tak hadir, yang dibagikan kepada ahli waris dugaan, atau diserahkan
kepadanya untuk dikelola, selanjutnya tidak boleh dipindahtangankan
atau dibebani, sebelum lewat waktu yang ditentukan dalam Pasal 484,
kecuali kalau ada alasan penting, dan dengan izin Pengadilan Negeri.
482. Bila orang yang dalam keadaan tak hadir itu pulang kembali
setelah ada keterangan kematian dugaan, atau diperoleh tanda-tanda
bahwa dia masih dalam keadaan hidup, maka mereka yang telah menikmati
hasil-hasil dan pendapatan-pendapatan dari barang-barangnya, wajib
untuk mengembalikan hasil-hasilnya dan pendapatan-pendapatan itu
dan sebagai berikut; setengahnya bila ia pulang kembali, atau bila
tanda-tanda bahwa ia masih hidup diperoleh dalam waktu lima belas
tahun setelah hari kematian dugaan yang dinyatakan dalam putusan
Hakim; atau seperempatnya, bila tanda-tanda itu diperoleh kemudian,
tetapi sebelum lampau waktu tiga puluh tahun setelah pernyataan
itu.
Akan tetapi semua itu dengan ketentuan, bahwa Pengadilan Negeri
yang telah memberi keputusan tentang kematian dugaan itu, mengingat
sedikitnya banang-barang yang ditinggalkan, boleh memerintahkan
yang berlainan tentang pengembalian hasil-hasil dan pendapatan itu,
atau dapat juga memberi pembebasan sama sekali.
483. Bila orang yang dalam keadaan tidak hadir itu kawin
dengan gabungan harta bersama, atau gabungan keuntungan dan kerugian
saja, atau gabungan hasil-hasil dan pendapatan, sedangkan isteri
atau suaminya memilih membiarkan gabungan itu terus berjalan, maka
dia boleh mencegah pengambilan barang-barang dalam penguasaan sementara
oleh orang-orang yang diduga sebagai ahli waris, dan mencegah pelaksanaan
hak-hak yang mestinya baru akan timbul setelah kematian orang yang
dalam keadaan tak hadir itu, dan mengambil atau mempertahankan barang-barang
itu dalam pengelolaannya, dengan mendahului yang lain-lain, dengan
menunaikan kewajiban akan pendaftaran tersebut dalam Pasal 477.
Akan tetapi penghentian pengambilan barang-barang dalam penguasaan
dengan segala akibat-akibatnya, tidak boleh benlangsung lebih lama
daripada sepuluh tahun penuh, terhitung dan hari tersebut dalam
putusan Hakirn yang menyatakan kematian dugaan itu. Namun
bila isteri atau suami tidak menentang pengambilan barang-barang
dalam pengusaan itu oleh para ahli waris, maka ia boleh mengambil
bagiannya dalam harta bersama itu, atau barang-barang miliknya sendiri
yang merupakan haknya, asal saja ia memberikan jaminan untuk barang-barang
yang mungkin harus dikembalikan. Isteri
yang memilih dilanjutkan gabungan harta bersama, tetap mempunyai
hak untuk melepaskan diri dari gabungan harta bersama itu di kemudian
hari. 484.
Bila telah lampau tiga puluh tahun setelah hari kematian dugaan
seperti yang dinyatakan dalam keputusan Hakim, atau bila sebelumnya
telah berlalu seratus tahun penuh setelah kelahiran orang yang dalam
keadaan tak hadir, maka penjamin-penjamin dibebaskan dan pembagian
barang-barang yang ditinggalkan tetap berlaku sejauh pembagian itu
telah terjadi, atau bila belum terjadi, para ahli waris dugaan boleh
mengadakan pembagian tetap, dan boleh menikmati semua hak atas harta
peninggalan itu secara pasti. Maka berhentilah hak istimewa akan
pendaftaran harta, dan dapatlah para ahli waris dugaan diwajibkan
untuk menerima atau menolak warisan, menurut peraturan-peraturan
yang ada tentang hal itu.
485. Bila sebelum waktu tersebut dalam pasal yang lalu, diterima
berita tentang kematian orang yang ada dalam keadaan tak hadir,
maka mereka yang atas dasar undang-undang atau atas dasar penetapan-penetapan
orang yang dalam keadaaan tak hadir itu telah mendapat hak-hak atas
harta peninggalannya, pertanggungjawaban dan penyerahan atas dasar
Pasal 476 dan 482.
486. Sekiranya orang yang dalam keadaan tak hadir itu pulang
kembali, atau menunjukkan bahwa ia masih hidup, setelah lampau tiga
puluh tahun sejak dari kematian dugaan seperti yang dinyatakan dalam
keputusan Hakim, maka dia hanya berhak untuk menuntut kembali barang-barangnya
dalam keadaan seperti adanya pada waktu itu, beserta harga barang-barang
yang telah dipindahtangankan, atau barang-barang yang telah dibeli
dengan hasil pemindahtanganan barang-barang kepunyaannya, namun
semuanya tanpa suatu hasil atau pendapatan.
487. Demikian pula anak-anak dan keturunan-keturunan lebih
lanjut orang dalam keadaan tidak hadir, boleh menerima kembali barang-barangnya
sejauh hak mereka timbul dalam waktu tiga puluh tahun sejak lampaunya
waktu yang ditetapkan dalam Pasal 484. 488. Bila dengan putusan
Hakim dinyatakan dugaan hukum tentang kematian, semua tuntutan hukum
terhadap orang yang dalam keadaan tak hadir itu, harus diajukan
terhadap para ahli waris dugaan yang telah mengambil barang-barangnya
dalam penguasaan mereka, tanpa mengurangi hak mereka untuk memberlakukan
hak istimewa mereka akan pendaftaran harta peninggalan.
BAGIAN 4 489.
Orang yang menuntut suatu hak, yang katanya telah beralih dari orang
yang tak hadir kepadanya, tetapi hak itu baru jatuh pada orang yang
tak hadir setelah keadaan hidup atau matinya menjadi tak pasti,
wajib untuk membuktikan, bahwa orang yang tak hadir itu masih hidup
pada saat hak itu jatuh padanya selama ia tidak membuktikan hal
itu, maka tuntutannya harus dinyatakan tidak dapat diterima. 490.
Bila pada orang tak hadir, keadaan hidup atau matinya tidak
pasti, jatuh suatu warisan atau hibah wasiat, yang sedianya menjadi
hak orang-orang lain andaikata orang yang tak hadir itu hidup, atau
yang sedianya harus dibagi dengan orang-orang lain, maka warisan
atau hibah wasiat itu, seakan-akan orang itu telah meninggal, tanpa
kewajiban untuk membuktikan kematian orang itu, namun untuk itu
mereka harus mendapat izin lebih dahulu dari Pengadilan Negeri yang
dalam daerah hukumnya terletak rumah kematian orang itu, dan pengadilan
itu harus memerintahkan pemanggilan-pemanggilan umum dan mengeluarkan
peraturan pengamanan yang perlu untuk pihak-pihak yang berkepentingan.
491. Ketentuan-ketentuan dari kedua pasal yang lalu tidak
mengesampingkan hak untuk menuntut warisan-warisan dan hak-hak lain
yang ternyata kemudian telah jatuh pada orang yang dalam keadaan
tak hadir itu atau orang-orang yang telah mendapat hak-hak itu daripadanya.
Hak-hak itu hanya hapus oleh Iampaunya waktu yang diisyaratkan untuk
lewat waktu.
492. Bila kemudian orang yang dalam keadaan tak hadir itu
pulang kembali atau haknya dituntut atas namanya, pengembalian penghasilan
dan pendapatannya boleh dituntut, terhitung dari hari ketika hak
itu jatuh pada orang yang tak hadir itu, atas dasar dan menurut
ketentuanketentuan Pasal 482. BAGIAN
5
493. Bila salah seorang dari suami isteri, selain meninggalkan
tempat tinggal dengan kemauan buruk, selama sepuluh tahun penuh
tak hadir di tempat tinggalnya tanpa berita tentang hidup matinya
orang itu, maka suami isteri yang ditinggalkan berwenang untuk memanggil
orang yang tak hadir itu tiga kali berturut-turut dengan panggilan,
menurut cara yang ditentukan dalam Pasal 467 dan 468, dengan izin
dari Pengadilan Negeri di tempat mereka bersama. 494.
Bila atas panggilan ketiga dari Pengadilan, baik orang yang tak
hadir itu maupun orang lain untuknya, tidak ada yang muncul memberi
cukup petunjuk tentang hidupnya orang itu, maka Pengadilan Negeri
boleh memberi izin kepada suami atau isteri yang ditinggalkan untuk
kawin dengan orang lain. Ketentuan-ketentuan Pasal 469 berlaku dalam
hal ini.
495. Bila setelah pemberian izin, tetapi sebelum perkawinan
dengan yang lain itu dilakukan, orang yang tak hadir itu muncul,
atau seseorang membawa berita cukup tentang masih hidupnya orang
itu, maka izin yang telah diberikan tidak berlaku lagi demi hukum.
Bila
orang yang ditinggalkan itu telah melakukan perkawinan lain, orang
yang tak hadir juga mempunyai hak untuk melakukan perkawinan lain.
496, 497, 498. Dihapus dengan S. 1927-31 jis. 390, 421.
Anak-anak
Sah
252. Suami
tidak dapat mengingkari keabsahan anak, hanya bila dia dapat membuktikan
bahwa sejak hari ketiga ratus dan keseratus delapan puluh hari sebelum
lahirnya anak itu, dia telah berada dalam keadaan tidak mungkin
untuk mengadakan hubungan jasmaniah dengan isterinya, baik karena
keadaan terpisah maupun karena sesuatu yang kebetulan saja.
Pengesahan Anak-anak Luar Kawin
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Pengakuan Anak-anak Luar Kawin
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
288.
Menyelidiki siapa ibu seorang anak, diperkenankan.
KEKELUARGAAN SEDARAH DAN SEMENDA
(Tidak
Berlaku Bagi Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku
Bagi Golongan Tionghoa)
291. Urusan derajat yang satu dengan derajat yang lain disebut
garis. Garis lurus adalah urutan derajat antara orang-orang, di
mana yang satu merupakan keturunan yang lain, garis menyimpang ialah
urutan derajat antara orang-orang, di mana yang seorang bukan keturunan
dari yang lain tetapi mereka mempunyai bapak asal yang sama.
KEKUASAAN ORANG TUA
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Akibat-akibat Kekuasaan Orangtua Terhadap Pribadi Anak
PENENTUAN, PERUBAHAN DAN PENCABUTAN TUNJANGAN NAFKAH
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi
Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
KEBELUMDEWASAAN
DAN PERWALIAN
(Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa;Untuk Kebelumdewasaan,
Berlaku Ketentuan-ketentuan Golongan Timur Asing IA sub c, yang
Mengandung Ketentuan Yang Sama Seperti Ketentuan Pasal Pasal 330
Alinea Pertama dan Kedua Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)
BAGIAN 1
Kebelumdewasaan
Mereka
yang belum dewasa dan tidak di bawah kekuasaan orangtua, berada
di bawah perwalian atas dasar dan dengan cara seperti yang diatur
dalam Bagian 3, 4, 5 dan 6 dalam bab ini.
(1) Bila peraturan-peraturan menggunakan istilah "belum dewasa",
maka sejauh mengenai penduduk Indonesia, dengan istilah ini dimaksudkan
semua orang yang belum genap 21 tahun dan yang sebelumnya tidak
pernah kawin.
(2) Bila perkawinan itu dibubarkan sebelum mereka berumur 21 tahun,
maka mereka tidak kembali berstatus belum dewasa.
(3) Dalam pengertian perkawinan tidak termasuk perkawinan anak-anak.
Perwalian Pada Umumnya
(Tidak Berlaku Bagi GolonganTimur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Perwalian untuk anak-anak dari bapak dan ibu yang sama, harus dipandang
sebagai suatu perwalian, sejauh anak-anak itu mempunyai seorang
wali yang sama.
1°.bila oleh Hakim diangkat seorang wali yang hadir, pada saat pengangkatan
itu dilakukan, atau apabila pengangkatan itu dihadirinya, pada waktu
pengangkatan diberitahukan kepadanya;
2°.bila seorang wali diangkat oleh salah satu dari orangtua, pada
saat pengangkatan itu, karena meninggalnya pihak yang mengangkat,
memperoleh kekuatan untuk berlaku dan pihak yang diangkat menyatakan
kesanggupannya untuk menerima pengangkatan itu;
3°.bila seorang perempuan bersuami diangkat menjadi wali olèh Hakim
atau oleh salah seorang dan kedua orangtua, pada saat ia, dengan
bantuan atau kuasa dari suaminya, atau atas kuasa Hakim, menyatakan
sanggup menerima pengangkatan itu;
4°.bila suatu perkumpulan, yayasan atau lembaga sosial, bukan atas
permintaan sendiri atau pernyataan bersedia, diangkat menjadi wali,
pada saat menyatakan sanggup menerima pengangkatan itu;
5°. dalam hal termaksud dalam Pasal 358, pada saat Pengesahan;
6°.bila seorang menjadi wali demi hukum, pada saat terjadinya peristiwa
yang mengakibatkan perwalian itu.
Perwalian berakhir:
1°.bila anak belum dewasa, setelah berada di bawah perwalian, kembali
kekuasaan orangtua, karena bapak atau ibunya mendapat kekuasaan
kembali, pada saat penetapan sehubungan dengan itu diberitahukan
kepada walinya; 2°.bila anak belum dewasa, setelah berada di bawah
perwalian, kembali di bawah kekuasaan orangtua berdasarkan Pasal-pasal
206b atau 323a, pada saat berlangsungnya perkawinan;
3°.bila anak belum dewasa yang lahir di luar perkawinan diakui menurut
undang-undang, pada saat berlangsungnya perkawinan yang mengakibatkan
sahnya si anak, atau pada saat pemberian surat pengesahan yang diatur
dalam Pasal 274; 4°.bila dalam hal yang diatur dalam Pasal 453 orang
yang berada di bawah pengampuan memperoleh kembali kekuasaan orangtuanya,
pada saat pengampuan itu berakhir.
Bila yang diangkat bertempat tinggal sejauh lebih dan lima belas
pal dari kepaniteraan Pengadilan Negeri itu, pernyataan tersebut
boleh diajukan secara tertulis di atas kertas tanpa materai.
Pemberitahuan ini bila menyangkut wanita bersuami, harus dilakukan
baik kepadanya maupun kepada suaminya. Pemberitahuan tidak diwajibkan
bila di kepaniteraan Pengadilan Negeri telah dilakukan atau diajukan
pernyataan, bahwa pengangkatan itu ditolak. Ketentuan-ketentuan
tersebut di atas berlaku terhadap perkumpulan, yayasan dan lembaga
sosial tersebut dalam Pasal 365, kecuali jika perwalian itu diperintahkan
atas permintaan atau kesanggupan mereka sendiri.
Hipotek itu harus didaftarkan atas permintaan Balai Harta Peninggalan.
Dalam hal perbedaan pendapat tentang cukup tidaknya jaminan yang
ditaruh antara wali dan Balai Harta Peninggalan, Pengadilan Negeri
memutuskannya atas permintaan pihak yang lebih dulu siap memintanya.
Bila harta anak belum dewasa dianggap kurang, Balai Harta Peninggalan
berwenang untuk membebaskan si wali dari kewajiban tersebut dalam
alinea pertama pasal ini, tetapi sewaktu-waktu boleh menuntut penaruhan
jaminan menurut alinea pertama dan ketiga.
Perwalian Oleh Ayah dan Ibu (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing
Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Perwalian yang Diperintahkan oleh Bapak atau Ibu (Tidak Berlaku
Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan
Tionghoa)
Perwalian yang Diperintahkan oleh Pengadilan Negeri (Tidak Berlaku
Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan
Tionghoa)
Perwalian oleh Perkumpulan, Yayasan dan Lembaga Sosial (Tidak Berlaku
Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan
Tionghoa)
Perkumpulan, yayasan atau lembaga sosial itu, sehubungan dengan
perwalian yang ditugaskan kepadanya, mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban
yang sama dengan yang diberikan atau yang diperintahkan kepada wali,
kecuali jika undang-undang menentukan lain.
Perwalian Pengawas (Tidak Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan
Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Alasan-alasan yang Dapat Melepaskan Diri dari Perwalian (Tidak Berlaku
Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan
Tionghoa)
1°. mereka yang melakukan tugas negara di luar Indonesia;
2°. para anggota angkatan darat dan laut;
3°. mereka yang melakukan tugas negara di luar keresidenan atau
mereka yang karena tugas negara pada saat-saat tertentu ada di luar
keresidenan; Orang-orang tersebut dalam tiga nomor di atas ini boleh
meminta agar dibebaskan dan perwalian, bila alasan-alasan dimaksud
terjadi setelah mereka diangkat menjadi wali;
4°. mereka yang telah genap enam puluh tahun; bila mereka diangkat
sebelumnya, mereka boleh minta dibebaskan dari perwalian pada waktu
berumur 65 tahun;.
5°. mereka yang terganggu oleh suatu penyakit atau penderitaan berat
yang dapat dibuktikan; Mereka ini boleh minta dibebaskan dari perwalian,
bila penyakit atau pendenitaan itu timbul setelah mereka diangkat
menjadi wali;
6°. mereka yang tidak mempunyai anak sendiri, tetapi dibebani tugas
memangku dua perwalian;
7°. mereka yang ditugaskan memangku satu perwalian, sedangkan mereka
sendiri mempunyai seorang anak atau lebih;
8°. mereka yang pada waktu diangkat sebagai wali mempunyai lima
orang anak sah, termasuk di antaranya anak yang telah meninggal
dalam dinas ketentaraan; 9°. wanita-wanita; Wanita yang dalam keadaan
tidak bersuami telah menerima suatu perwalian boleh minta dibebaskan,
bila ia kawin;
10°. mereka yang tidak berhubungan keluarga sedarah atau semenda
dengan anak belum dewasa, bila dalam daerah hukum Pengadilan Negeri
tempat perwalian itu diperintahkan ada keluarga sedarah atau semenda
yang cakap memangkunya. Bapak dan ibu tidak diperbolehkan minta
dibebaskan dari perwalian anak-anak mereka sendiri, karena salah
satu alasan tersebut di atas.
Pengecualian. Pembebasan dan Pemecatan dari Perwalian (Tidak Berlaku
Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan
Tionghoa)
1°. orang yang sakit ingatan;
2°. orang belum dewasa;
3°. orang yang ada di bawah pengampuan;
4°. mereka yang telah dipecat, baik dari kekuasaan orangtua, maupun
dari perwalian; akan tetapi yang demikian itu hanya terdapat anak
belum dewasa, yang dengan ketetapan Hakim kehilangan kekuasaan orang
tua atau perwalian tanpa mengurangi ketentuan-ketentuan dalam Pasal
3l9g dan pasal 382d.
5°. ketua, wakil ketua, anggota, panitera. panitera pengganti, bendahara,
pemegang buku, dan agen Balai Harta Peninggalan, kecuali terhadap
anak-anak atau anak-anak tiri mereka sendiri.
1°. mereka yang berkelakuan buruk;
2°. mereka yang dalam menunaikan perwalian menunjukkan ketidakcakapan
mereka, menyalahgunakan kekuasaan atau mengabaikan kewajiban mereka;
3°. mereka yang telah dipecat dari perwalian lain menurut nomor
10 dan nomor 2°pasal ini atau telah dipecat dari kekuasaan orangtua
menurut pasal 319 alinea kedua nomor 1° dan nomor 2°;
4°. mereka yang berada dalam keadaan pailit;
5°. mereka yang untuk diri sendiri atau yang bapaknya, ibunya, isteri/
suaminya atau anak-anaknya berperkara di muka hakim melawan anak
belum dewasa dalam hal yang melibatkan kedudukan, harta kekayaan
atau sebagian besar harta kekayaan anak belum dewasa;
6°. mereka yang dihukum dengan keputusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum yang pasti, karena dengan sengaja telah ikut serta
dalam suatu kejahatan terhadap anak belum dewasa yang ada dalam
kekuasaan mereka;
7°. mereka yang mendapat hukuman yang telah mempunyai kekuatan tetap,
karena melakukan suatu kejahatan yang tercantum dalam Bab XIII,
XIV, XV, XVI, XIX dan XX Buku Kedua Kitab Undang-undang Hukum Pidana,
yang dilakukan terhadap anak belum dewasa yang ada dalam kekuasaan
mereka;
8°. mereka yang mendapat hukuman badan yang tidak dapat diubah lagi
selama dua tahun atau lebih. Bapak dan ibu tidak boleh dipecat,
baik karena hal-hal tersebut pada nomor 4° dan nomor 5°, maupun
karena tidak cakap.
Pengawasan Wali atas Pribadi Anak Belum Dewasa (Tidak Berlaku Bagi
Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan
Tionghoa)
Tugas Pengurusan Wali (Tidak berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan
Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Perhitungan Pertanggungjawaban Perwalian (Tidak Berlaku Bagi Golongan
Timur Asing Bukan Tionghoa, Tetapi Berlaku Bagi Golongan Tionghoa)
Balai Harta Peninggalan dan Dewan Perwalian (Berlaku Bagi Semua
Golongan Timur Asing)
PENDEWASAAN
(Berlaku Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, dan Bagi Golongan
Tionghoa)
PENGAMPUAN
(Berlaku Bagi Seluruh Golongan Timur Asing)
(Berlaku Bagi Seluruh Golongan Timur Asing)
BAGIAN 1
Hal-hal yang Diperlukan
Pernyataan Mengenai Orang yang Diperkirakan Telah Meninggal Dunia
(Berlaku Bagi Seluruh Golongan Timur Asing)
Hak-hak dan Kewajiban-kewajiban Orang yang Diduga Sebagai Ahli Waris
dan Orang-orang Lain yang Berkepentingan, Setelah Pernyataan Mengenai
Dugaan Tentang Kematian (Berlaku Bagi Seluruh Golongan Timur Asing)
Hak-hak yang Jatuh ke Tangan Orang Tak Hadir yang Tak Pasti Hidup
atau Mati (Berlaku Bagi Golongan Tirnur Asing Bukan Tionghoa, Bagi
Golongan Tionghoa)
Akibat-akibat Keadaan Tidak Hadir Berkenaan dengan Perkawinan (Berlaku
Bagi Golongan Timur Asing Bukan Tionghoa, dan Bagi Golongan Tionghoa)